Thursday, September 22, 2005
Proses
Alhamdulillaah, akhirnya perutku terisi juga. Itulah nikmatnya makan kalo emang lapar banget. Sama dengan nikmatnya minum kalo udah haus banget. Atau nikmatnya tidur kalo udah capek dan ngantuk banget. Ada satu hal yang mengusik hatiku saat kuingat-ingat bahwa sebelumnya aku menahan rasa lapar cukup lama. Lalu aku berpikir untuk turun saja dan beli makanan siap santap. Cuma setelah dipikir-pikir, mendingan masak aja deh. Kutuangkan beras ke dalam rice cooker, kusiapkan bumbu-bumbu, dan kugoreng beberapa ekor ikan. Selang kurang lebih satu jam, aku dan kawan-kawan serumahpun bisa makan malam. Apa yang mengusik hatiku itu? Prosesnya. Ya, proses masaknya itu. Kadang-kadang kita terlalu menginginkan sesuatu serba cepat, langsung dapat hasilnya. Kita kurang menghargai proses untuk meraih hasil yang kita harapkan. Memang sih, pada saat-saat tertentu kita butuh sesuatu atau melakukan sesuatu dengan cepat.
Menurutku, ada banyak hal positif yang akan kita dapatkan jika kita membiasakan diri untuk menghargai sebuah proses. Diantaranya adalah kita akan menyadari bahwa tak ada hasil yang diraih tanpa sebuah usaha. Jangan harap kita akan pintar tanpa pernah belajar. Jangan harap kita akan punya duit tanpa pernah mencarinya. Jangan harap kita akan masuk surga tanpa pernah melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Jangan harap kita akan kenyang tanpa makan (hehe..). Kita bisa belajar dari orang-orang yang kiprahnya ikut mewarnai perjalanan sejarah kehidupan manusia. Tentu bukan tanpa alasan ketika Usamah bin Zaid yang waktu itu baru berusia 18 tahun ditunjuk oleh Rasulullah SAW sebagai panglima perang dalam penyerbuan ke wilayah Syam yang ada di bawah kekuasaan Romawi. Beliau memang ahli strategi perang. Nah, keahlian itu tidak datang dengan tiba-tiba. Wright bersaudara harus melakukan penghitungan berkali-kali sebelum akhirnya bisa membuat pesawat terbang walaupun bentuknya masih sangat sederhana. Thomas Alfa Edison juga tidak ujug-ujug bisa membuat bola lampu. Ibnu Sina belajar bertahun-tahun sebelum bisa menguasai ilmu kedokteran. David Beckham harus rela berlatih bertahun-tahun sebelum mengalami masa keemasannya dalam dunia sepakbola. Saya masih ingat dengan kata-kata ini, ‘jangan lihat hasil yang didapat orang itu, tapi amatilah usaha yang ia lakukan sampai bisa menjadi seperti itu’. Ya, yang harus kita lihat benar-benar adalah usahanya atau prosesnya. Masalah hasil, kita tawakal saja dengan ketentuan Allah. Yang penting kita sudah berusaha semaksimal mungkin dan jangan sampai tidak ada usaha sama sekali.
Yang menjadi masalah bukan apakah kita bisa melalui proses itu atau tidak, tapi apakah kita sudah mencoba atau belum. Kita tidak akan tahu seberapa mudah atau sulitnya proses itu bila tidak memulainya dan mencobanya. Ketika proses itu terasa mudah, mungkin tak jadi masalah. Nah, kalo ternyata sulit? Di sinilah kita bisa melatih kesabaran kita. Jangan sampai putus asa di tengah jalan. Ratusan tahun nabi Nuh AS mengajak umatnya untuk mengikuti jalan Allah, namun yang ikut tidak seberapa. Bahkan anggota keluarganya ada yang ikut menentangnya. Cukup lama nabi Ibrahim AS berdakwah menentang berhala dan mengajak kaumnya beriman pada Allah, namun yang ikut hanya istrinya. Dakwah nabi Muhammad SAW juga diwarnai dengan tetesan darah sebelum Islam bisa berkembang seperti sekarang. Yang ada di sana bukan hanya mimpi atau khayalan. Ada usaha keras di sana, dan ada kesabaran di dalamnya. Hasil tidak akan bisa diraih hanya dengan mimpi dan berkhayal, melainkan dengan usaha nyata. Wallaahu a’lam bish shawaab
Posted by Azhar Muhammad N.T ::
2:59 PM ::
0 Comments:
Post a Comment
---------------------------------------