<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-14496674</id><updated>2011-04-21T15:11:16.829-07:00</updated><title type='text'>Mudahkan Hidupku, Hiasi Dengan Belai-Mu</title><subtitle type='html'>Assalaamu'alaikum...
Teriring salam mesra penuh cinta buat semuanya. Apa yang ada di hadapan teman-teman ini cuma sekedar iseng-iseng nguji kreatifitasku saja. Melalui kreasi sederhana ini, aku nyoba untuk mengungkapkan apa aja yang ada dalam otakku. Nah, berhubung yang ada di otakku ini macem-macem, jadi tolong dimaklumi kalo isi blog ini juga lumayan bubrah. Ada artikel bebas, cerpen, dan lainnya. Selamat menikmati deh...
Wassalaamu'alaikum...</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://azhariora.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azhariora.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Azhar Muhammad N.T</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02889361203577076864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i96.photobucket.com/albums/l192/azhariora/IMG_4398BLG.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>64</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14496674.post-1445165332430835540</id><published>2008-11-25T06:59:00.000-08:00</published><updated>2008-11-25T07:01:55.457-08:00</updated><title type='text'>4 Istri Dalam Kehidupanku</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seorang lelaki tua renta, sedang terbaring sakit di salah satu ruangan sebuah rumah sakit mewah.  Ia dikelilingi oleh 4 orang istrinya.  hari itu, si laki-laki ini hendak mengutarakan sebuah wasiat, sebelum pergi meninggalkan dunia. &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Mungkin bermaksud untuk berbeda dengan orang lain, pak tua ini punya keinginan untuk ditemani oleh salah satu istrinya ke alam baka.  Ia menanyakan kesediaan para istrinya, untuk menemaninya menghadap Tuhan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ia memulai keinginannya, dengan bertanya kepada istri keempat.  "Wahai istriku yang cantik.  Aku sudah tua.  Sebentar lagi malaikat maut akan menjemputku.  Aku ingin sekali ditemani ketika menghadap Tuhanku.  Maukah kau ikut bersamaku?"&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dengan nada berang, si istri keempat, yang paling muda, paling cantik, paling banyak menghabiskan waktu dan energi pak tua di luar dan di dalam rumah, sekaligus juga paling banyak menghabiskan uang, mengatakan :&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;”Kalau bapak ingin pergi ke luar negeri, saya pasti ikut.  Kalau bapak ingin ke pesta, saya pasti ikut.  Tapi maaf saja.  Kalau ke alam kematian, nanti dulu ah.  Mati kok ngajak-ngajak!  Pergi aja sendiri!”&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dengan hati bagai diiris sembilu, pak tua kemudian bertanya lagi pada istri yang ketiga.  Ia bertanya dengan pertanyaan yang sama.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;”Istriku yang ketiga.  Sebentar lagi, malaikat maut akan menjemputku.  Bersediakah kau untuk ikut bersamaku?”&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dengan suara yang lebih lembut, istri ketiga pak tua menjawab :&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;”Maafkan saya, pak.  Saya hanya akan menemani bapak di sini saja.  Begitu ajal menjemput bapak, sampai di situ lah tugas saya menemani bapak.”&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dengan hati yang semakin hancur, pak tua menoleh ke arah istri kedua.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;”Bagaimana istriku yang kedua.  Maukah kau menemaniku ke alam baka?”&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Inilah kata-kata yang keluar dari mulut istri keduanya :&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;”Maafkan saya, suamiku tercinta.  Aku akan menemanimu di sini, sampai ajal menjemput.  Dan jika kau sudah meninggal, menjadi tugasku pula untuk mengantar jenazahmu ke tempat pemakaman.  Setelah itu, selesai tugasku sebagai istri, dan aku akan melanjutkan kehidupanku sendiri.”&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tidak ada pilihan lain.  Pak tua pun memalingkan wajahnya ke arah istri pertama.  Tampak lah wajah yang sangat tua, penuh keriput dan sudah pudar kecantikannya.  Inilah istri yang paling lama merasakan kesusahan bersamanya.  Paling sedikit dapat nafkah lahir dan bathin.  Paling sedikit dapat jatah uang tetapi paling sering jadi sasaran kemarahan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;”Bagaimana istri pertamaku?  Ketiga istriku yang lain tidak bersedia menemaniku menghadap Tuhan.  Alangkah hancurnya hatiku, jika kau pun tidak bersedia menemaniku.  Rasanya, tidak berguna segala yang sudah kulakukan selama ini.”&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Berbeda dengan tiga istri sebelumnya, istri pertama menjawab dengan santun dan lemah lembut.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;”Kakanda.  Apapun perlakuanmu padaku di hari-hari yang telah lalu, aku akan ikut bersamamu, kemana pun kau pergi.”&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Melihat kenyataan ini, pak tua kemudian berkata, "Kalau saja kutahu sejak dulu bahwa engkau lah yang akan setia menemaniku ke mana pun aku pergi, engkau lah yang paling aku perhatikan.  Engkau lah yang paling kuutamakan perawatannya, melebihi ketiga istriku yang lain.  Kalau saja Tuhan mengizinkanku kembali ke masa muda, takkan kubiarkan engkau jadi tampak tua dan keriput seperti ini!"&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pembaca.  Cerita di atas,  bukanlah cerita sebenarnya.  Cerita itu hanyalah cerita rekaan, yang saya tidak tahu asal-usulnya.  Berbeda dengan hadits yang perlu ditelusuri sanadnya, saya merasa tidak perlu menelusuri siapa penulis pertamanya.  Yang perlu saya lakukan adalah berdo’a untuk kebaikannya, karena saya memperoleh begitu banyak hikmah dari cerita ini.  Cerita ini memiliki hikmah yang sangat dalam, terutama bagi saya dan mudah-mudahan juga bagi anda, yang ingin meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.  Setiap kita, punya 4 istri kehidupan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; Apa yang dalam cerita di atas disebut sebagai istri keempat, dalam kehidupan sehari-hari disebut sebagai harta dan tahta.  Banyak manusia menghabiskan hampir seluruh waktu, tenaga dan pikirannya sepanjang hidup, untuk mendapatkan apa yang kita sebut sebagai harta dan tahta.  Bahkan sebagian dari mereka, rela mengorbankan harga diri, kehormatan dan bahkan akidah, untuk mendapatkan harta yang banyak dan atau pangkat yang tinggi. Korupsi, menipu diri atau orang lain dan fenomena 'jilat atasan injak bawahan' adalah sedikit dari perilaku manusia pencari harta dan tahta.  Sayangnya, di akhir kematian, harta dan tahta tidak akan dibawa mati.  ketika anda hidup, anda boleh punya harta dan perhiasan berlimpah, rumah indah atau mobil mewah.  Tapi di  dalam kehidupan, belum pernah terjadi, ada mobil BMW ikut dikubur bersama pemiliknya.  Belum pernah terjadi juga, sebuah apartemen dibongkar dan kemudian reruntuhannya ditanam bersama jasad pemiliknya.  Bahkan pangkat dan jabatan seringkali sudah pergi ketika seseorang belum meninggal.  Banyak pejabat yang kehilangan jabatan karena sakit yang terlalu lama.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Istri ketiga dalam cerita di atas adalah badan atau jasad kita.  Badan kasar ini, juga banyak makan biaya.  Harta hasil jerih payah, banyak digunakan untuk kepentingan badan kasar kita.  Entah itu untuk konsumsi, membeli pakaian, kosmetik atau bahkan operasi plastik.  Dan ketika seseorang meninggal, maka tugas jasad kasar yang dibiayai dengan harta yang banyak itu pun selesai.  Tubuh yang diberi konsumsi makanan yang enak-enak, diberi pakaian indah, dilumuri kosmetik atau bahkan diubah bentuk supaya lebih menarik, sepertinya tidak ada gunanya karena cepat atau lambat harus jadi santapan cacing dan menyatu dengan tanah.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Istri kedua adalah orang-orang terdekat kita.  Bisa suami, istri, anak, orang tua maupun sanak saudara.  Manusia pun menghabiskan begitu banyak waktu, tenaga dan pikiran untuk orang-orang terdekat mereka.  Sayangnya, ketika seseorang harus meninggal, orrang-orang terdekat itu hanya mengantarnya sampai ke liang kubur.  Seringkali terjadi, seseorang yang kaya-raya masih sakit keras dan belum meninggal, para ahli warisnya sudah ribut memperebutkan harta warisan.  Teman-teman yang ketika ia masih hidup begitu akrab dan sayang, bisa jadi adalah orang-orang yang paling keras menginjak-injak tanah kuburannya.  Usai dari pemakaman, mereka pun kembali mengurus kehidupan masing-masing.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Istri pertama, sekaligus istri paling setia (baik dalam cerita tadi maupun secara umum di dunia nyata), adalah jiwa kita.  Jujur saja, kita menghabiskan waktu paling sedikit untuk mengurus jiwa kita.  Dalam kehidupan, sadar atau tidak, kita lebih sering menghabiskan waktu, tenaga, pikiran dan energi kita untuk mencari tahta dan harta, menghabiskan harta untuk mengurus jasad kasar maupun memberikan kesenangan bagi orang-orang terdekat kita.  Padahal, jiwalah yang selalu bersedia menemani kita dalam suka dan duka.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pantaslah ketika pak tua sampai pada akhir usianya, ia menemukan sang jiwa dalam keadaan kurus, tampak tua dan penuh keriput.  Boleh jadi, karena sepanjang hidupnya, ia hanya menyisakan sedikit perhatian untuk memberi makanan bagi sang jiwa.  Badan ia berikan makanan berupa empat sehat lima sempurna.  Badan dirawat dengan mandi spa dan operasi plastik. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;JIwa kita, pada dasarnya juga membutuhkan makanan.  Berbeda dengan jasad kasar, jiwa membutuhkan makanan yang menyehatkan dalam bentuk amal-amal kebajikan.  Orang-orang yang hidup dengan amal kebajikan, adalah orang-orang yang selalu ditemani istri pertama yang sehat, muda, cantik dan bebas keriput. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pembaca.   Ada dua tipe istri pertama dalam kehidupan setiap orang.  Istri pertama yang sehat, muda, cantik dan bebas keriput dan istri pertama yang tampak tua, kurus dan penuh keriput.  Istri kehidupan macam apa yang anda inginkan? &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(warnaislam.com)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14496674-1445165332430835540?l=azhariora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azhariora.blogspot.com/feeds/1445165332430835540/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14496674&amp;postID=1445165332430835540' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/1445165332430835540'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/1445165332430835540'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azhariora.blogspot.com/2008/11/4-istri-dalam-kehidupanku.html' title='4 Istri Dalam Kehidupanku'/><author><name>Azhar Muhammad N.T</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02889361203577076864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i96.photobucket.com/albums/l192/azhariora/IMG_4398BLG.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14496674.post-4170665670732526315</id><published>2008-10-03T16:16:00.000-07:00</published><updated>2008-10-03T16:22:19.781-07:00</updated><title type='text'>Berani Mengaku</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Syahdan, ketika Abu Sufyan masuk Islam, dia masih takut-takut bila keislamannya itu diketahui orang. Sehingga pada saat futuh makkah (pembebasan kota Mekkah) Nabi mengatakan bahwa yang berlindung di rumah Abu Sufyan akan selamat, dengan heran istrinya, Hindun, tidak tahu bahwa Abu Sufyan ternyata sudah Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Amr bin Yasr hendak disiksa oleh majikannya, sang majikan menyuruh Bilal untuk memecut Amr. Tapi Bilal tidak mau dan membuang pecut itu. Barulah pada saat itu baik sang majikan maupun Amr, tahu bahwa ternyata Bilal sudah masuk Islam. Alih-alih mau menyiksa Amr, malahan sang majikan, Umayyah, ganti menyiksa Bilal dengan kejam. Bilal ditelanjangi dan ditelentangkan di padang pasir dengan ditindihi batu. Dengan begitu sang majikan berharap Bilal mau kembali kafir dan musyrik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didera siksaan yang sedemikian berat, dan juga berulang kali sang majikan membujuk untuk kafir kembali, Bilal tetap teguh dengan pendirian. "Ahad.. ahad..", itu yang selalu diucapkannya. Hatinya tetap dengan Allah, Tuhan Yang Satu, bukan tuhan-tuhan lain yang ada saat itu sampai 360 nama. Sementara yang diagung-agungkan ada 3 tuhan utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Saat Hamzah masuk Islam, malah unik. Adalah bukan niatnya di awal, untuk mengatakan bahwa dia telah masuk Islam. Sewaktu Hamzah melihat keponakannya, Muhammad SAW, sedang dipermalukan, dikepung, ditimpuki dan bahkan mau dibunuh di depan Ka'bah, Hamzah yang baru pulang dari berburu tiba-tiba muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang pada saat itu berharap banyak pada Hamzah, agar Hamzah mau menasehati atau bahkan ikut memukuli Muhammad SAW, supaya Muhammad SAW jera berdakwah. Abu Jahal (saat itu masih bernama Abul-Hakam) maju ke depan menyongsong Hamzah, mengadu tentang kelakuan Muhammad SAW, seraya hendak memukul Muhammad SAW dengan busur. Oleh Hamzah dicegah tangan itu dan malah dipukulkan balik ke Abul-Hakam. Hamzah memakinya dengan sebutan "Jahal", sehingga jadilah sejak saat itu namanya berubah dari Abul-Hakam (bapak bijak) menjadi Abu Jahal (bapak bodoh).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamzah lalu berteriak mengusir orang-orang yang berkerumun. Dia sesumbar bahwa dirinya sudah masuk Islam. Dan dia berkata bahwa barang siapa yang berani menyentuh keponakannya itu, maka akan dipenggal kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang Hamzah gituloh. Jagoan, preman, tidak ada yang berani melawan dia. Selain takut, mereka juga segan. Dan Hamzah konsekuen dengan keputusan mendadak itu, mengaku Islam. Sampai akhir hayatnya, Hamzah terus berjuang di garis depan membela kejayaan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Umar bin Khattab adalah satu dari dua orang yang sangat diharapkan Nabi SAW untuk masuk Islam. Mengapa? Karena kedua orang itu sama-sama 'preman'. Diharapkan dengan adanya salah satu dari mereka, akan memperkuat barisan umat yang saat itu kebanyakan orang-orang lemah. Dan Allah melunakkan hati Umar lewat peristiwa telah Islamnya adik kesayangannya. Umar juga sesumbar bahwa barang siapa yang berani protes kalau dia sudah Islam, maka akan dihajarnya habis-habisan. Atau, urusan nyawa bisa melayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi..&lt;br /&gt;Berani berbuat, berarti berani bertanggung jawab. Berani melangkah, berarti siap menanggung resikonya. Berani mengambil keputusan, berarti berani menanggung konsekuensi dari keputusan itu. Apapun itu, baik buruknya, maka keputusan itu pasti berakibat pada diri kita sebagai pelaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak mudah memang mengambil sebuah keputusan, apalagi bila keputusan itu bisa-bisa membuat nyawa melayang. Mending kalau kita saat mengambil keputusan itu dalam posisi yang kuat. Kalau posisinya lemah? Apa tidak malah jadi bulan-bulanan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bilal hanya seorang budak, sehingga majikannya bisa seenaknya mempermainkan dia. Tapi tidak dengan Hamzah atau Umar. Mereka punya kuasa untuk melawan. Seorang yang telah menjadi tokoh yang disegani, tiba-tiba berpindah agama, mendapat hidayah dan masuk Islam. Sebuah keputusan yang berisiko terjadinya pembunuhan karakter. Tapi bagi seorang Umar atau Hamzah, yang memang telah terkenal 'jagoan' dan telah mempunyai 'penggemar' sendiri, mereka tidak takut pamor akan turun. Mereka tidak takut bahwa citra mereka menjadi jelek, saat mengambil keputusan untuk berpindah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan terbukti, ketika mereka masuk Islam, ketenaran dan kejayaan malah makin meningkat. Orang-orang yang tadinya tunduk pada mereka saat mereka masih belum Islam, akhirnya mengikuti jejak 'idolanya' dan masuk Islam pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya, bisa kita contoh perilaku mereka itu. Jangan takut mengaku Islam. Jangan takut jikalau kita tampil dengan baju Islam. Allah tidak malah menyempitkan rizqiNya, hanya karena kita tampil sebagai pembela agamaNya.&lt;br /&gt;Kan aneh, agama yang diridhoi oleh Allah itu Islam, tapi kita malah takut berwajah Islam, ya toh? (H. N. Dewantara – &lt;a href="http://www.warnaislam.com/"&gt;www.warnaislam.com&lt;/a&gt;) &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14496674-4170665670732526315?l=azhariora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azhariora.blogspot.com/feeds/4170665670732526315/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14496674&amp;postID=4170665670732526315' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/4170665670732526315'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/4170665670732526315'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azhariora.blogspot.com/2008/10/berani-mengaku.html' title='Berani Mengaku'/><author><name>Azhar Muhammad N.T</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02889361203577076864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i96.photobucket.com/albums/l192/azhariora/IMG_4398BLG.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14496674.post-3790359870716148867</id><published>2008-10-03T15:58:00.000-07:00</published><updated>2008-10-03T16:08:57.124-07:00</updated><title type='text'>Baju Barumu Berapa?</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;"Baju barumu berapa?" Pertanyaan yang lazim kita dengar di hari-hari menjelang lebaran, atau hari-hari terakhir bulan ramadhan. Lebaran identik dengan baju baru, dan hal-hal baru lainnya secara fisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebaran atau hari raya Idul Fitri kerap dimaknai terlahirnya diri orang-orang yang berpuasa selama sebulan penuh bagai sosok bayi yang masih suci dan bersih. Maka layaknya bayi yang baru lahir, segala pakaian yang melekat pun serba baru, mulai dari baju hingga sepatu. Serba baru ini seolah melambangkan hati yang bersih tanpa noda, tubuh yang bersih tanpa dosa setelah sebulan penuh digodok, digembleng dan dibakar. Hangus sudah seluruh dosa terbakar, punah sudah semua keliru dihempas ramadhan. Jadilah ia orang yang baru, benar-benar baru, berbeda dari sebelum ia memasuki bulan ramadhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selayaknya bayi yang baru lahir pun, kita memulai hidup baru, menggores lembaran-lembaran baru dalam kehidupan. Setiap gerak dan langkah akan merwarnai kertas putih kehidupan, entah dengan warna apa kita memulainya. Warna terang benderangkah atau justru kita menorehkan warna kegelapan sehingga membuat pekat kembali kertas putih lembaran kehidupan kita yang baru itu.&lt;br /&gt;Sayang seribu sayang jika demikian adanya. Kita telah berjuang penuh menjalani berbagai ujian selama bulan ramadhan, berharap di satu syawal berdiri sebagai orang-orang yang layak menggenggam predikat kemenangan, justru langkah berikutnya tidak terarah, bahkan cenderung salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau, jangan-jangan ada ujian yang tidak kita ikuti selama masa ujian bulan ramadhan? Sehingga sejujurnya kita tidak benar-benar terlahir sebagai orang baru di satu syawal? Mungkin ada nilai-nilai buruk dari serangkaian test yang diberikan Allah selama bulan itu? Atau ada soal-soal ujian yang kita benar-benar gagal dan tak mampu mengerjakannya? Dan karena itu, sebenarnya kita tak tergolong orang-orang yang lulus dalam ujian ramadhan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibarat siswa sekolah dasar yang menempuh ujian untuk kelulusan, jika ia mendapat nilai baik sesuai standar kelulusan, maka ia akan dinyatakan lulus dan berhak menyandang predikat baru sebagai siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP). Nah, setelah menyandang status siswa SMP, ia pun berhak berganti pakaian, dari merah putih menjadi biru putih, sebagai bukti keberhasilannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun jika ia gagal dalam ujian, maka tak ada hak sedikit pun untuk menyandang gelar siswa SMP. Ia sepantasnya bersedih karena tidak lulus dan harus mengulang kelas terakhir hingga waktu ujian tiba kembali. Jika ada siswa SD yang tak lulus ujian, berhakkah ia masuk ke kelas SMP? Bolehkah ia mengenakan seragam biru putih seperti halnya teman-temannya yang lulus?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke soal baju baru untuk lebaran, jika memang dianggap sebagai perlambang kemenangan usai menempuh ujian ramadhan, benarkah kita menjadi pemenang? Kalaulah dianggap sebagai perlambang kebahagiaan setelah berhasil melewati beragam test sepanjang ramadhan, coba cek kembali nilai-nilai test kita, sudah bagus semuanya? Kalau belum, kenapa tersenyum?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau anak kecil yang bertanya, “berapa baju barumu” kepada teman sebayanya, itu lain soal. Tapi kalau orang dewasa yang di hari-hari terakhir ramadhan ini sudah sibuk memikirkan baju baru apa yang akan dikenakannya di hari lebaran, ups, nanti dulu, ujian masih berlangsung loh, belum tentu kita dinyatakan lulus. Ya kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siap-siap punya baju baru sih boleh, tapi harus yakin dulu ujian ramadhan ini terselesaikan dengan baik. Sebab belum tentu tahun depan ketemu ramadhan lagi. Sepakat? &lt;em&gt;(Gaw – www.warnaislam.com)&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14496674-3790359870716148867?l=azhariora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azhariora.blogspot.com/feeds/3790359870716148867/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14496674&amp;postID=3790359870716148867' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/3790359870716148867'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/3790359870716148867'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azhariora.blogspot.com/2008/10/baju-barumu-berapa.html' title='Baju Barumu Berapa?'/><author><name>Azhar Muhammad N.T</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02889361203577076864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i96.photobucket.com/albums/l192/azhariora/IMG_4398BLG.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14496674.post-1524995587590937190</id><published>2008-10-03T15:29:00.000-07:00</published><updated>2008-10-03T15:52:57.233-07:00</updated><title type='text'>Berkaca Pada Para Nabi; Malu!</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Memang saya tak setampan Nabi Yusuf alaihi salam, yang pesonanya membuat Zulaikha tergila-gila kepadanya dan belasan wanita cantik lainnya rela mengiris tangannya tanpa sadar lantaran tersihir keelokan wajah putra Ya’kub itu. Ketampanan Yusuf bukan semata fisik, melainkan cahaya di hatinya yang memancarkan kemuliaan. Bandingkan dengan diri ini, tak seujung kelingking pun ketampanan saya bisa menyaingi Nabi mulia itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun tak sesabar Nabi Ibrahim alaihi salam, berdakwah hingga usianya lebih seabad namun hanya sedikit pengikutnya. Yang bersabar hingga hari tuanya untuk bisa menimang putra tercinta Ismail. Coba lihat diri ini, sering tergesa-gesa tak sabaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok ini pun tak setaat Ismail putra Ibrahim, yang ikhlas menjalankan perintah Allah meskipun harus disembelih oleh ayahnya sendiri. Bahkan Ismail tak bergeming saat setan menggodanya. Hmm, mudah sekali rasanya setan-setan menggoda diri ini. Mungkin karena saya belum benar-benar taat kepada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diri ini jelas-jelas tak setabah Nabi Ayub alaihi salam dalam menjalani cobaan dari Allah. Ayub yang bertahun-tahun diuji Allah dengan penyakit, tak sedikit pun mengeluh. Justru sebaliknya, ia merasa ujian itu adalah cara Allah mendekatinya. Sedangkan saya, baru kena flu saja sudah uring-uringan, bagaimana diberi penyakit yang lebih parah? Bisa-bisa jadi alasan untuk malas beribadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga tak sehebat Nabi Daud alaihi salam, yang meski bertubuh kecil sangat pemberani melawan Raja Jalut. Begitupun Nabi Musa alaihi salam yang tak gentar berhadapan dengan penguasa paling lalim sepanjang masa, Firaun. Ia berani mengungkapkan kebenaran dengan nyawa taruhannya. Duh, jika saya berada pada posisi seperti itu, sanggupkah? Bahkan menegur sahabat yang berbuat salah pun terasa berat lidah ini mencobanya. Ironisnya, saya sering bersembunyi, pura-pura buta setiap kali kemungkaran berlaku di depan mata ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati ini tak setegar Nabi Nuh alaihi salam yang tetap tersenyum mendapati ejekan dari kaumnya, termasuk isteri dan anaknya sendiri. Bahkan ketika air bah dating, Nuh tetap mengajak kaum yang sebelumnya tak henti mengejeknya sebagai orang gila. Andaikan saya yang diejek, emosi lah yang didahulukan. Kalau perlu saya menantang siapapun penghina itu untuk berkelahi, saling menumpahkan darah. Saya mudah marah, gampang tersulut emosinya, mudah terprovokasi, ah jauhlah dari sifat Nabi Nuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akal pikiran ini tak secerdas Nabi Harun alaihi salam, yang karena kecerdasannya ia diperintah Allah menemani Musa menghadapi Firaun sekaligus menghadapi para pengikutnya. Kejernihan pikirannya, menjadikan ia teramat mudah mendapat hikmah dari Allah. Saya benar-benar iri kepada Nabi Harun yang tak pernah berhenti belajar. Berbeda dengan saya yang terkadang sudah merasa cukup pintar, sering berpikir bahwa diri ini sarat ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya benar-benar tak sebijak Nabi Sulaiman alaihi salam, dalam segala hal. Ia yang mampu mendengar suara semut yang ketakutan akan derap pasukan Sulaiman, bahkan sangat kasih terhadap makhluk yang sangat kecil itu. Karena kebijaksanaannya itulah, ia dicintai oleh segenap makhluk di bumi, dari bangsa manusia hingga jin, dari hewan di darat, udara sampai di dalam lautan. Sulit rasanya saya sekadar mencoba berlaku bijaksana dan adil. Saya masih egois, melihat untung rugi dalam berbuat, mengedepankan siapa yang dekat dengan saya dan siapa yang saya suka, bukan siapa yang benar dan berbuat kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Isa alaihi salam mengajarkan tentang kelembutan hati. Tentang berbagi, membantu sesama, menolong orang tanpa pamrih, meringankan beban kaum dhuafa, menyediakan tangannya untuk orang-orang yang kesusahan, dan mengobati yang sakit. Hatinya selalu menangis melihat orang-orang yang menderita, dirinya selalu berada di sekeliling kaum dhuafa. Sedangkan saya, berkali-kali menyaksikan fenomena kemiskinan, kesusahan, penderitaan di berbagai tempat, tetap saja hati ini sekeras batu,.Tak gampang menangis jika bukan diri ini sendiri yang mengalami kesusahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan Rasulullah Muhammad Sallallaahu alaihi wassallaam? Sungguh, beliaulah teladan seluruh manusia. Tentang cinta, kasih sayang kepada sesama, urusan rumah tangga, kelembutan sikap, kemuliaan akhlak, tutur kata, persahabatan, persaudaraan, kepemimpinan, berwirausaha, seluruhnya sempurna. Tak cukup jutaan lembar kertas untuk menuliskan keindahan pribadinya, diperlukan samudera tinta guna melukiskan kemuliaan akhlaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi saya? Tak berani menyebut satu saja keunggulan pribadi diri ini. Sebab, satu terbilang, maka seratus keburukan segera terucap. Andaikan saya setampan Yusuf, mungkin saya akan sombong dan tak bersyukur. Misalkan saya sepemberani Daud, belum tentu digunakan untuk membela kebenaran. Adapun saya pernah membantu seseorang, pamrih, ujub, riya pun mengiringi perbuatan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangankan untuk meniru sifat para Nabi dan Rasul, mendekatinya pun tak mungkin. Jangankan menyamai pribadi mereka, mengikuti jejak para sahabatnya pun tak sanggup. Berkaca pada manusia-manusia pilihan-Mu ya Rabb, saya malu, teramat malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika demikian adanya, di pintu mana saya boleh mengetuk surga-Mu?&lt;br /&gt;(gaw) &gt; (&lt;a href="http://www.warnaislam.com/"&gt;http://www.warnaislam.com/&lt;/a&gt;) &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14496674-1524995587590937190?l=azhariora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azhariora.blogspot.com/feeds/1524995587590937190/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14496674&amp;postID=1524995587590937190' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/1524995587590937190'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/1524995587590937190'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azhariora.blogspot.com/2008/10/berkaca-pada-para-nabi-malu.html' title='Berkaca Pada Para Nabi; Malu!'/><author><name>Azhar Muhammad N.T</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02889361203577076864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i96.photobucket.com/albums/l192/azhariora/IMG_4398BLG.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14496674.post-4592640652059376225</id><published>2007-09-20T19:16:00.000-07:00</published><updated>2007-09-20T19:20:01.157-07:00</updated><title type='text'>Guru Para Pemberani</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Suatu pagi di kaki Gunung Uhud, 11 Syawal tahun ke-3 selepas hijrah. Di kejauhan sana, debu membubung tinggi memenuhi angkasa diiringi talu genderang perang yang ditabuh bersahutan. Tepuk-sorak membahana disela-sela wanita-wanita yang menari riang. Pasukan Quraisy Makkah telah datang lebih dulu dengan kekuatan 3000 pasukan terlatih bersenjata lengkap di tempat ini. Tujuh ratus diantaranya berbaju besi, dua ratus orang menunggang kuda, dan sisanya menunggang unta. Tempat-tempat strategis telah mereka kuasai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasukan muslimin tinggal mendapatkan sisanya. Sebuah ruang di kaki gunung dengan jalan lebar membentang di belakangnya, jalan empuk bagi musuh menyerang dari belakang. Setelah 300 pasukan Abdullah bin Ubay lebih dulu meninggalkan mereka di Syawath dan kembali ke Madinah, maka lengkaplah sudah kondisi pasukan yang mengikuti Nabi ke tempat ini. Tujuh ratus orang tersisa, peralatan seadanya, dan sebagian besar diantaranya tak terbiasa berperang. Seorang anggota pasukan Quraisy maju menunggang untanya ke tengah medan pertempuran. Pedang di tangannya terhunus berkilat-kilat diterpa cahaya matahari seperti haus darah mangsanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa yang akan maju berperang tanding?” tanyanya pongah ke arah barisan kaum muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zubair bin Awwam meringsek maju di atas untanya. Perang tanding pun berlangsung seru hingga keduanya terpental dari untanya. Zubair terjatuh di atas musuhnya. Dan dengan sekali tebas, maka terbunuhlah orang musyrik itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi pun bersabda, “Bagi setiap nabi tentu ada pembantunya. Dan pembantuku adalah Zubair”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini maju seorang pasukan Quraisy bernama Thalhah. Ia pun sesumbar, “Siapa kini yang akan berperang tanding denganku?” Pasukan muslimin bergeming.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai pengikut Muhammad! Kalian telah menyangka Tuhan mempercepat kami dengan pedangmu ke neraka dan mempercepat kalian dengan pedang kami ke syurga?” Thalhah berteriak beberapa kali menantang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sungguh kalian berdusta, demi Latta dan Uzza! Kalau kalian tahu betul-betul begitu, keluarlah seorang dari kalian sekarang!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika keluarlah dari barisan muslimin Ali bin Abi Thalib. Keduanya lantas berperang-tanding dengan sengit. Pada suatu kesempatan, menantu Nabi itu berhasil membabat kaki Thalhah dan jatuhlah orang itu dengan kaki terputus. Tampaklah kemaluannya! Ali segera meninggalkannya meski orang itu belum mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang melarang kamu membunuhnya, wahai Ali?” seru Nabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena dia menampakkan kemaluannya padaku, ya Rasulullah! Aku kasihan kepadanya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bunuhlah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali pun kembali ke medan pertempuran dan menyelesaikan tugasnya. Sorak-sorai takbir membahana dari barisan kaum muslimin. Pasukan Quraisy kemudian mengeluarkan prajurit terbaiknya. Utsman bin Abi Thalhah. Keluarlah Hamzah bin Abdul Muthalib dari pasukan muslimin. Hamzah pun berhasil membunuh Utsman. Kaum musyrikin mengeluarkan lagi prajuritnya, Abu Sa’id bin Abi Thalhah. Keluar pula Sa’ad bin Abi Waqqash dari kaum muslimin. Sa’ad pun berhasil membungkam Abu Sa’id dalam perang tanding itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarlah Musafi bin Thalhah dari kaum musyrikin. Ashim bin Tsabit maju dari barisan kaum muslimin untuk menghadapinya. Dalam duel itu, Musafi tewas di tangan Ashim. Harts bin Thalhah, saudara Musafi, keluar menantang Ashim. Ashim kembali ke arena dan terbunuhlah Harts di tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kilab bin Thalhah kini maju dari barisan kaum musyrikin. Untuk menghadapi, kaum muslimin mengeluarkan Zubair untuk kedua kalinya. Zubair pun berhasil membunuh Kilab. Pasukan musyrikin lalu mengeluarkan Jallas bin bin Thalhah, saudara Musafi, Harts, dan Kilab. Kaum muslimin mengeluarkan Thalhah bin Ubaidillah. Dalam perang tanding itu, Jallas terbunuh oleh pedang Thalhah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum musyrikin belum puas. Mereka mengeluarkan seorang yang gagah perkasa bernama Arthah bin Surahbil. Kaum muslimin mengeluarkan Ali bin Abi Thalib untuk kedua kalinya. Keduanya bertanding sama-sama kuatnya. Hingga akhirnya, setelah melalui duel yang keras, Ali berhasil membunuh Arthah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang lagi keluar dari barisan kaum musyrikin. Suraih bin Qaridh. Hamzah keluar kedua kalinya untuk menghadapinya. Dan tewaslah Suraih di tangan Hamzah. Mereka masih menantang juga dengan keluarnya Abu Zaid bin Amr. Qasman dari kaum muslimin maju menghadapinya. Abu Zaid pun dikalahkan oleh Qasman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Quraisy kembali mengeluarkan jagonya. Kini anak Surahbil, saudara Arthah yang telah dibunuh Ali, keluar dari barisan kaum musyrikin. Qasman kembali menghadapinya. Dan terbunuhlah anak Surahbil itu di tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum puas juga, Quraisy mengeluarkan Shu’ab dari Habsyi. Qasman kembali menghadapi Shu’ab. Qasman, untuk ketiga kalinya, bisa membunuh musuhnya di medan perang tanding. Setelah itu, kaum Quraisy tak mengeluarkan lagi seorang jagonya untuk berperang tanding. Peperangan kedua pasukan belum juga mulai. Tetapi, kaum Quraisy sudah kehilangan 12 orang anggota pasukan terbaiknya. Dan tak seorangpun terbunuh dari kaum muslimin.&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;Ketika sebuah pasukan kecil yang tak semuanya terlatih dengan penuh kesadaran datang ke sebuah tempat yang tak menguntungkan untuk berhadapan dengan sebuah pasukan yang empat kali lipat lebih banyak, lebih besar, lebih lengkap persenjataannya, dan sebagian besar diantaranya jago berperang, apa yang dimiliki oleh pasukan kecil itu? Jawabnya adalah sebuah “keberanian” yang tiada tara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah “keberanian” itu? Ketika menghadapi orang yang lebih lemah, pasukan yang lebih kecil, ataupun situasi yang sangat mudah dan dapat diduga, apakah diperlukan sebuah keberanian? Mungkin tak perlu, karena keberanian adalah sebuah sikap yang tidak memiliki rasa takut ketika menghadapi sesuatu yang berbahaya, lebih sukar, dan tak bisa ditebak. Keberanian bisa tumbuh karena banyak hal. Namun apapun alasannya, konsekuensi sebuah keberanian adalah adanya suatu resiko yang harus dibayar. Boleh jadi berupa hilangnya jabatan, kekayaan, kesempatan, juga rasa sakit, atau bahkan hilangnya nyawa, dan inilah keberanian yang paling puncak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidaklah seseorang bisa memiliki keberanian yang paling puncak itu kecuali pasti ia telah ditempa oleh sebuah didikan yang maha hebat untuk bisa sampai pada pencapaian itu. Sebuah didikan yang menjadikan “menang” dan “mati” sebagai dua motivasi paling dominan. Bahwa Allah pasti akan memberikan “kemenangan” kepada orang-orang yang beriman atas musuh-musuhnya. Dan bahwasannya “mati” justru menjadi sesuatu yang bahkan sangat dicari dan dirindukan (syahid). Bagaimanapun, mati seperti ini adalah sebuah “kemenangan” pula, meski dalam bentuk yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang menyebabkan pasukan muslimin itu memiliki keberanian yang luar biasa untuk menghadapi pasukan yang lebih besar dibanding pertempuran mereka di Badar setahun sebelumnya. Dan hanya berbekal keberanian puncak itulah Zubair, Ali, Hamzah, Sa’ad, Ashim, Thalhah, Qasman maju ke arena dan menyelesaikan perang tandingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika mereka saja mampu menjadi pasukan pemberani seperti itu, apalagi gurunya, Rasulullah SAW. Perang Uhud ini pun sempat menjadi saksi akan keberanian itu.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Akibat teledornya regu pemanah, pasukan muslimin dibuat kocar-kacir oleh pasukan berkuda Khalid bin Walid. Nabi terluka di beberapa bagian mukanya yang mulia. Dahi, pipi, bibir bawah. Sebagian gigi sang kinasih itu pun pecah dan menusuk daging bibirnya. Bahkan dua potong besi menembus gusinya. Wajahnya berlumur darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keadaan demikian, datanglah Ubay bin Khalaf. Ia berbaju besi lengkap dan memacu kudanya dengan kencang ke arah Nabi dengan pedang di tangan. Ia lalu meloncat dari kudanya hendak menyerang lelaki mulia itu. Seorang sahabat segera menghadangnya. Namun, ia terbunuh oleh pedang Ubay yang menyerang ganas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mana orang yang mendakwahkan dirinya nabi itu? Hendaklah ia melawanku!” serunya sombong dengan pedang berlumur darah di tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jika ia benar-benar seorang nabi, tentu aku dibunuh olehnya. Ayo majulah melawanku!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia terus meringsek maju ke arah Nabi yang dijaga ketat oleh sekalian sahabat yang tersisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mana Muhammad!” Ia mengacung-acungkan pedangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku tidak selamat kalau kamu selamat! Aku tidak selamat kalau kamu selamat!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar seruan Ubay, lelaki mulia itu pun menyuruh para sahabatnya untuk minggir. Tersibaklah pagar betis para sahabat. Ia kini berdiri tanpa pendamping, tegak di tempatnya seperti gunung Uhud, dan dengan tenang menunggu serangan Ubay. Di tangannya tergenggam tombak milik Harits ibnu Shammah. Pada mukanya darah segar masih tampak menetes-netes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ubay nyalang! Ia segera menghambur ke arah lelaki itu dengan pedang teracung. Membunuh Muhammad dan membungkam dakwahnya untuk selamanya, adalah tujuan utamanya datang ke medan perang ini. Dan kesempatan itu agaknya sudah ada di depan matanya. Tetapi belum lagi ia menyadari, lelaki mulia itu tiba-tiba mengayunkan tombak di tangannya. Keras! Deras! Dan senjata berujung runcing itu menembus satu-satunya celah terbuka antara baju besi dan topi besi Ubay. Menusuknya tepat di leher.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki itu pun jatuh tersungkur dari kudanya. Pedang terlepas dari tangannya. Ia lalu berusaha bangkit dengan susah-payah, tertatih menunggang kudanya kembali, lalu lari terbirit-birit dengan luka menganga di lehernya. (bahtiarhs.multiply.com)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14496674-4592640652059376225?l=azhariora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azhariora.blogspot.com/feeds/4592640652059376225/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14496674&amp;postID=4592640652059376225' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/4592640652059376225'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/4592640652059376225'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azhariora.blogspot.com/2007/09/guru-para-pemberani.html' title='Guru Para Pemberani'/><author><name>Azhar Muhammad N.T</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02889361203577076864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i96.photobucket.com/albums/l192/azhariora/IMG_4398BLG.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14496674.post-6519874095376969491</id><published>2007-09-03T00:02:00.000-07:00</published><updated>2007-09-06T10:17:19.424-07:00</updated><title type='text'>Pulang Membawa Kekasih</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Lembah Hunain kembali menjadi saksi bahwa jumlah yang besar seringkali tak lebih dari sekawanan keledai yang kurang gizi. Pagi itu, pasukan gabungan dari Bani Tsaqif, Hawazin, Jusyam, Bakar, dan Hilal semburat lari seperti debu tertiup badai padang pasir siang hari. Sorak-sorai kesombongan 20 ribu anggota pasukan mereka lenyap dalam beberapa jam setelah berhasil dibungkam oleh pasukan muslimin yang hanya 12 ribu orang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kini dunia yang menyilaukan tampak di depan mata kaum muslimin: &lt;em&gt;&lt;span style=""&gt;ghanimah &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;yang besar, serupa &lt;em&gt;&lt;span style=""&gt;manna &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;&lt;span style=""&gt;salwa &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;yang diturunkan dari langit untuk Bani Israil. Tak kurang 24 ribu ekor unta, 40 ribu ekor kambing, 4 ribu &lt;em&gt;&lt;span style=""&gt;uqiyah &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;perak berhasil dirampas. Juga tawanan 6 ribu personel, laki-laki dan perempuan. Mereka kemudian dikumpulkan di lembah Ji’ranah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Inilah yang kemudian dilakukan Nabi. Beliau memberi bagian Abu Sufyan bin Harb, &lt;em&gt;&lt;span style=""&gt;dedengkot &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;Quraisy itu, 100 ekor unta dan 40 uqiyah perak. Kedua anaknya, Yazid dan Mu’awiyah diberikan bagian yang sama dengan ayahnya. Nabi juga memberikan 100 ekor unta kepada beberapa orang Quraisy termasuk Hakim bin Hizam, Nushair bin Harits, Harits bin Hizam, dan Shafwan bin Umayyah. Sebagian lainnya diberi bagian kurang dari 100 ekor unta. Di luar itu, setiap anggota pasukan berjalan kaki mendapat 4 ekor unta dan 40 ekor kambing dan anggota pasukan berkuda mendapat 12 ekor unta dan 120 ekor kambing. Terlihatlah bahwa orang-orang Quraisy yang baru masuk Islam setelah fathul Ma’kah mendapatkan bagian yang lebih banyak, bahkan istimewa, dibanding mereka yang telah lama masuk Islam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Ya Muhammad!” kata seorang dekil yang tiba-tiba datang kepada Nabi. “Takutlah olehmu kepada Allah! Aku telah melihat apa yang telah engkau perbuat hari ini!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Nabi bertanya, “Baik! Bagaimana yang kamu lihat, wahai Kisanak?”Orang itu menjawab, “Aku tidak melihat keadilan engkau!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Wajah lelaki agung itu memerah. Beliau bersabda, “Apabila keadilan tidak ada padaku, lantas pada siapa adanya?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Ya Rasulullah!” Umar bin Khattab yang melihat peristiwa itu seketika menyela. “Tidakkah aku lebih baik membunuh orang ini?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;*****&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Rupanya ada yang tertinggal dalam pembagian &lt;em&gt;&lt;span style=""&gt;ghanimah &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;itu. Kaum Anshar. Tak seorang pun mendapatkan bagian istimewa sebagaimana orang Quraisy yang baru masuk Islam. Bisik-bisik muncul diantara mereka. Agak sinis, bahkan, dan menjalar seperti api dalam setumpukan jerami yang kering. “Sekarang, Rasulullah telah berjumpa dengan kaumnya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sa’ad bin Ubadah tak kuat mendengar ungkapan perasaan kurang baik terhadap Nabi itu. Maka ia pun menyampaikannya kepada Nabi SAW. “Engkau telah membagikan kepada kaum engkau sendiri dan kabilah Arab lainnya dengan pembagian yang banyak. Sedangkan golongan Anshar tidak mendapatkan bagian sedikitpun.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Wajah Nabi kembali memerah. “Kumpulkanlah kaummu kepadaku, wahai Sa’ad, di tempat perkemahan ini!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sa’ad lalu segera mengumpulkan orang-orang Anshar di tempat itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Barangsiapa ada di sini selain Anshar, hendaklah ia kembali ke tempatnya!” kata Nabi membuka percakapan. Sejenak kemudian beliau bertanya, “Wahai kaum Anshar! Apakah desas-desus yang telah sampai kepadaku adalah perasaan yang kalian rasakan terhadapku?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Ya Rasulullah,” jawab seorang diantara mereka. “Para ketua kami tidaklah mengatakan apa-apa. Orang-orang muda kamilah yang telah berkata ‘&lt;em&gt;&lt;span style=""&gt;Mudah-mudahan Allah memberi ampunan kepada Rasul-Nya, karena telah memberi bagian kepada kaum Quraisy dan tidak kepada kami. Padahal, pedang-pedang kamilah yang meneteskan darah-darah mereka&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;.’”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Rasulullah lalu bersabda, “Wahai orang-orang Anshar! Bukankah ketika aku datang, kalian masih dalam kesesatan, kemudian Allah memberikan hidayah kepada kalian karena aku? Bukankah ketika itu kalian masih menderita, kemudian Allah mencukupi kalian karena aku? Bukankah kalian ketika itu masih saling bermusuhan, kemudian Allah mempersatukan hati kalian karena aku?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Wajah-wajah itu pun menunduk. Tatapan mereka jatuh ke tanah. Kemudian seorang menjawab, “Benar, ya Rasulullah! Allah dan Rasul-Nya amat murah dan mengaruniai. Karena itu, kami telah dengan rela dan tulus kepada Allah sebagai &lt;em&gt;&lt;span style=""&gt;rabb&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai nabi. Berbuatlah apa yang menjadi kehendak engkau, ya Rasulullah, karena engkaulah dalam kehalalan!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;*****&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sikap reaktif adalah sikap seseorang yang gagal membuat pilihan respon pada saat mendapatkan rangsangan (&lt;em&gt;&lt;span style=""&gt;stimulus&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;). Jika Anda selalu marah kalau dicemooh, maka Anda termasuk reaktif, karena selalu memberikan respon yang sama terhadap suatu rangsangan. Binatang secara umum adalah makhluk yang reaktif. Kalau dipukul, reaksinya hanya dua: takut atau marah. Coba saja Anda pukul seekor anjing yang melintas. Kalau ia tidak lari, maka Andalah yang akan lari.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Berbeda dengan reaktif, menurut Covey, proaktif adalah kemampuan seseorang untuk memilih respon. Sikap proaktif adalah sikap seseorang yang mampu membuat pilihan dikala mendapatkan rangsangan. Seseorang yang bersikap proaktif mampu memberi &lt;em&gt;&lt;span style=""&gt;jeda &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;antara datangnya rangsangan dengan keputusan untuk memberi respon. Pada saat jeda tersebut seseorang yang proaktif dapat membuat pilihan dan mengambil respon yang dipandang terbaik bagi dirinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Bila dibandingkan dengan binatang yang senantiasa reaktif, manusia bisa bersikap proaktif. Saat dipukul, manusia reaksinya bisa lebih beragam. Ia memang bisa marah. Tetapi, boleh jadi ia akan diam atau justru tersenyum (jika dipukul mesra pasangan misalnya). Manusia punya kendali untuk memilih respon terhadap rangsangan tertentu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sikap proaktif sangat berguna bagi manusia terutama dalam menghadapi masalah maupun dalam berinteraksi dengan manusia lain. Sikap proaktif menunjukkan tingkat kecerdasan emosi (EQ) yang tinggi. Permasalahannya adalah tidak banyak orang bisa memilih respon terbaik terhadap sebuah masalah. Apalagi jika itu berhubungan dengan dunia dan keduniaan. Bagaimanapun cinta dunia adalah penyakit yang diderita hampir setiap orang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ketika orang Quraisy, apalagi yang baru masuk Islam, mendapatkan bagian &lt;em&gt;&lt;span style=""&gt;ghanimah &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;Hunain yang lebih besar dari mereka, kaum Anshar langsung bereaksi. Mereka merasa lebih berhak mendapatkan bagian yang lebih besar ketimbang para &lt;em&gt;&lt;span style=""&gt;muallaf &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;itu — apalagi beberapa diantaranya sangat memusuhi Islam di masa awal seperti Abu Sufyan bin Harb. Namun, bagaimanapun, ini adalah reaksi yang wajar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Rasulullah tak membiarkan sikap reaktif yang salah ini terus berlangsung. Dan rupanya, orang-orang Anshar yang dididik langsung di bawah &lt;em&gt;&lt;span style=""&gt;tarbiyah &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;Rasulullah SAW telah memilih pilihan yang lebih baik ketimbang &lt;em&gt;&lt;span style=""&gt;ghanimah&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;. Mereka telah memilih sikap proaktif jauh sebelum Covey 14 abad kemudian menulis bukunya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;*****&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Wajah-wajah di perkemahan itu masih tertunduk dalam diam. Lembah Ji’ranah serupa sedang diguyur musim dingin yang beku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;“Sesungguhnya, aku memberi bagian kepada beberapa orang yang baru saja memeluk Islam karena aku sengaja &lt;em&gt;&lt;span style=""&gt;menjinakkan &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;mereka di dalam Islam,” kata laki-laki agung itu memecah kesunyian. Kata-katanya kini bergetar penuh luapan kasih. “Apakah kalian tidak puas melihat orang lain pulang membawa kambing dan unta, sedangkan kalian pulang membawa Rasulullah? Demi Zat yang diri Muhammad ada di tangan-Nya. Sekiranya bukan karena hijrah, tentu aku adalah salah seorang dari kaum Anshar. Sekiranya orang lain berjalan di suatu lembah dan lereng gunung, sedangkan kaum Anshar berjalan di lembah dan lereng gunung yang lain, niscaya aku menempuh jalan di lembah dan lereng gunung yang ditempuh kaum Anshar. Kalian itu bagaikan baju dalam, dan orang-orang yang lain itu bagaikan baju luar.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Nabi kemudian mengangkat tangan mengucap do’a, “Ya Allah! Limpahkanlah rahmat-Mu kepada kaum Anshar, kepada anak-anak kaum Anshar, dan kepada cucu-cucu kaum Anshar!” Seketika itu pula, mata yang telah basah kini tak terbendung lagi. Air mata berhamburan membasahi pipi, berlelehan hingga janggut-janggut mereka. Mereka lalu berseru haru, “Kami telah rela mendapatkan Rasulullah sebagai bagian kami!" &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(NapakTilas)&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14496674-6519874095376969491?l=azhariora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azhariora.blogspot.com/feeds/6519874095376969491/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14496674&amp;postID=6519874095376969491' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/6519874095376969491'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/6519874095376969491'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azhariora.blogspot.com/2007/09/pulang-membawa-kekasih.html' title='Pulang Membawa Kekasih'/><author><name>Azhar Muhammad N.T</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02889361203577076864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i96.photobucket.com/albums/l192/azhariora/IMG_4398BLG.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14496674.post-524202395732034612</id><published>2007-08-30T08:41:00.000-07:00</published><updated>2007-09-06T10:12:59.646-07:00</updated><title type='text'>Cinta Yang Tak Bertepi</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Kabut pasir, hujan batu kerikil, juga caci-maki. Anak-anak, hamba sahaya, juga tetangga keluarga Amr bin Umair bin Auf ats-Tsaqafi berhamburan keluar rumah. Berbaris, berjajar di sepanjang jalan dari rumah penguasa kota Thaif itu. Batu kerikil di tangan. Pasir berguguran dalam genggaman. Mulut-mulut berteriak penuh cacian. Mereka seperti berlomba melempar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Dua orang lelaki tak berdaya tertatih di bawah hujan batu, kerikil, dan pasir serupa terseret di dalam badai gurun sahara yang terik. Mereka mengarahkan batu-batu itu ke kaki Nabi SAW. Kedua kakinya luka menganga, berdarah-darah. Manusia yang mulia itu bahkan sampai harus berjalan merangkak-rangkak menahan sakit. Zaid bin Haritsah yang menyertainya pun tak luput dari sasaran. Kepalanya luka parah berkucur darah terkena lemparan batu. Sementara kerikil, batu, dan pasir tak henti beterbangan dari tangan-tangan keluarga Bani Tsaqif itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Caci-maki dan ejekan terus berlangsung hingga kedua lelaki itu sampai di sebuah kebun di luar kota. Mereka pun bubar. Nabi SAW dan Zaid lalu berteduh di tempat itu. Menunggu luka terhenti dan mengering, barang sesaat. Demi mengetahui kalau kebun itu milik Utbah dan Syaibah bin Rabi’ah yang juga memusuhi beliau di Mekah, Rasul pun mengadu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;“Ya Allah, kepada Engkaulah aku mengadukan kelemahan kekuatanku dan sedikitnya daya upayaku dan kehinaan bagi manusia. Ya Tuhan Yang Maha Penyayang kepada orang-orang yang berkasih sayang”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: center;font-family:trebuchet ms;" align="center"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Abu Thalib baru saja wafat. Hanya berselang hari, Khadijah yang amat dicintainya pun pergi untuk selamanya dari sisinya. Lelaki itu telah kehilangan dua orang yang amat dikasihinya dalam waktu yang hampir bersamaan, serupa kehilangan kaki untuk melangkah sekaligus punggung buat bersandar. Ia memang seorang Nabi. Tetapi ia pun seorang manusia biasa. Kehilangan dua orang yang amat dikasihinya dan selama ini menjadi tulang-punggung dakwahnya tentu merupakan pukulan yang berat. Tidak ada dukacita yang lebih besar beliau rasakan sejak bertemu Jibril di Gua Hira kecuali saat itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Tekanan Quraisy pun menjadi. Cercaan, hinaan, dan perlakuan menyakitkan dari mereka siang malam terus diterimanya tanpa henti. Nabi lalu pergi secara diam-diam ke Bani Tsaqif di Thaif untuk mengobati dukanya ini. Semula beliau membawa harapan yang besar, mengingat pemuka mereka masih keluarga dekatnya. Tetapi apa yang kemudian dialaminya bersama Zaid sungguh jauh panggang dari api. Alih-alih mengharap pelita segera terpetik di daerah sebelah tenggara Mekah yang subur itu, justru yang beliau terima adalah hujan batu dan sumpah-serapah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: center;font-family:trebuchet ms;" align="center"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Ketika keduanya selesai beristirahat di kebun itu dan kemudian meneruskan perjalanan kembali ke Mekah, datanglah malaikat Jibril diiringi malaikat penjaga gunung.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;“Ya Rasulullah” kata Jibril. “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaummu dan penolakan mereka kepadamu. Dia telah mengutus malaikat penjaga gunung supaya engkau perintahkan kepadanya apa yang engkau kehendaki atas kaum Bani Tsaqif itu.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;“Ya Rasulullah” sahut malaikat penjaga gunung. “Jika engkau mau supaya aku melipatkan kedua gunung yang besar ini di atas mereka, niscaya akan aku lakukan.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Gunung Abu Qubais dan Qa’aiqa’an tampak kokoh berhadapan di kejauhan bak dua raksasa yang berdiri diantara Mekah dan Thaif. Melemparkan keduanya ke atas perkampungan Bani Tsaqif akan serupa hujan batu atas kaum Sadum ketika mendustakan Nabi Luth as.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;“Tidak Jibril!” jawab Nabi tegas. “Bahkan aku berharap mudah-mudahan Allah memberikan kepada mereka keturunan yang menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: center;font-family:trebuchet ms;" align="center"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Serupa apakah cinta sejati itu? Mungkin cinta jika cuma terkatakan hanyalah berarti setengah cinta atau cinta setengah. Kalau tidak malah jadi cinta setengah-setengah. Sebagian besar cinta boleh jadi justru mengejawantah pada selain indahnya kata. Pada senyum yang tulus, mata yang teduh, tangan yang terulur, bahu yang memikul, kaki yang bergerak ringan, hingga dekap erat-hangat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Cinta juga terlihat pada kesediaan berbagi, menjalani, dan berkorban apa saja demi sesuatu atau seseorang yang dicinta. Dan barangkali cinta mencapai puncaknya ketika seseorang mau bertaruh nyawa untuk sang kekasih, berkorban hingga tetes darah terakhir demi yang dicinta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Bagaimana halnya jika seseorang merelakan dirinya terluka oleh yang dicinta dan tak pernah mau memendam dendam untuk suatu saat menuntut balas jika berkesempatan? Boleh jadi inilah cinta sejati. Itulah cinta yang nyaris tak bertepi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Rasulullah SAW adalah sosok pribadi dengan cinta yang nyaris tak bertepi itu. Batu kerikil yang beterbangan menyayat luka di kulit, darah yang mengalir diiringi sakit, juga cacian, hinaan, ejekan, dan sumpah-serapah yang diterimanya pada peristiwa di Thaif rasanya sudah lebih dari cukup untuk tidak pernah dimaafkan. Kalau perlu dituntut balas dengan sepadan perih.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Ia memang manusia biasa. Tetapi bagaimanapun, ia bukanlah manusia biasa seperti kita. Kecintaan pada yang dicintanya sungguh tiada berbatas. Dan yang amat dicintanya itu tidak lain adalah kaum kepada siapa beliau diutus, termasuk kita. Cinta itu ditunjukkannya nyaris pada sepanjang hayat. Bahkan ketika saat-saat terakhir menjelang beliau pergi, bagian dari yang disebut bibirnya yang mulia adalah &lt;i&gt;ummati, ummati&lt;/i&gt;. Umatku, umatku. Sungguh cinta kepada umatnya dibawanya hingga tarikan nafas terakhir.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Begitu pulalah yang terjadi di jalan antara Thaif dan Mekah itu. Ketika kedua malaikat menawarkan diri melempar kaum Tsaqif dengan dua gunung sebagai bentuk balasan atas penghinaan itu, Rasulullah hanya menggeleng. Meski kaumnya memusuhinya begitu rupa, cintanya kepada mereka sudah terlanjur tak bertepi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: center;font-family:trebuchet ms;" align="center"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;“Sesungguhnya Allah telah memerintahkan supaya aku menuruti keinginanmu terhadap kaummu Ya Rasulullah, karena perbuatan mereka kepadamu.” sambung Jibril demi mendengar jawaban Nabi, “&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Lemparan batu, kerikil dan pasir masih membekas di tubuhnya yang mulia. Peristiwa penghinaan itu masih sangat segar di ingatan. Bahkan luka di kedua kaki beliau belum juga mengering. Tetapi beliau justru memanjat doa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;“Ya Allah, tunjukkanlah (jalan yang lurus) kepada kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengerti.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Jibril dan malaikat penjaga gunung kemudian sama-sama berkata, “Maha benar Tuhan yang telah menamakan dirimu pengasih serta penyayang” &lt;i&gt;(NapakTilas)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ketika cinta memanggilmu, maka dekatilah dia walau jalannya terjal berliku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Jika cinta memelukmu, maka dekaplah ia walau pedang di sela-sela sayapnya melukaimu (Kahlil Gibran)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14496674-524202395732034612?l=azhariora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azhariora.blogspot.com/feeds/524202395732034612/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14496674&amp;postID=524202395732034612' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/524202395732034612'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/524202395732034612'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azhariora.blogspot.com/2007/08/cinta-yang-tak-bertepi.html' title='Cinta Yang Tak Bertepi'/><author><name>Azhar Muhammad N.T</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02889361203577076864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i96.photobucket.com/albums/l192/azhariora/IMG_4398BLG.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14496674.post-1473983152357098071</id><published>2007-08-29T09:43:00.000-07:00</published><updated>2007-08-29T09:46:27.965-07:00</updated><title type='text'>Yang Telah Tunai Terbeli</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Pasukan muslimin telah bersiap di dusun Dzi Amarra pada suatu hari ketika langit bulan Rabiul Awwal selepas Perang Badar tiba. Empat ratus lima puluh orang dengan senjata di tangan berdiri tegap siap tempur. Syahid yang selalu hendak diraih serupa sudah di depan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki kinasih itu kemudian mengatur barisan serapi-rapinya laksana tegak dalam shaf salat. Demi mengetahui hal itu, Bani Muharib dan Bani Tsa’labah yang telah berpadu hendak memadamkan terang cahaya Madinah pun seketika lari terbirit ke atas gunung. Tak dinyana begitu cepat pasukan muslimin itu datang ke dusun mereka. Tak mencari hidup, justru menyongsong mati. Namun, hujan lebat tiba-tiba turun bagai dimuntahkan dari langit. Deras mengguyur bumi. Meningkahi setiap jengkal tanah, juga helai daun-daun. Bumi yang kering seketika basah. Debu yang melayang-layang seketika hilang. Bau tanah pun telah berubah menjadi lembab. Dan lelaki itu beserta pasukannya pun basah kuyup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala hujan reda, mereka kemudian sibuk menjemur pakaian masing-masing. Lelaki itu menjemur pula pakaiannya sembari berbaring di bawah sebatang pohon. Seorang diri, dan tak seorang anggota pasukan pun menyadari ketika sebuah bayangan bergerak ke arah lelaki itu. Seseorang telah menyamar mendekati tempat berbaringnya dari arah belakang, diam-diam. Beringsut mendekat dan semakin dekat. Sebilah pedang tajam pun telah terhunus mengkilat. Secepat kilat, pedang yang telah terlepas dari sarungnya itu kini teracung ke arah kepala lelaki yang sedang terbaring itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapakah yang akan menghalangi engkau dariku hari ini, hai Muhammad?” gertak sosok bayangan itu penuh kesombongan. Orang yang selama ini ditakutinya itu, kini hanya berjarak sejengkal saja dari ujung pedangnya. Dunia serasa ada di dalam genggamannya. Hanya dengan sekali tebas, maka pasti robohlah lelaki itu. Dan namanya segera terkenal di seantero jazirah Arab. Du’tsur telah membunuh Muhammad!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah!” jawab lelaki itu dengan jelas dan tenang. Tak ada sepotong ketakutan pun pada rona wajahnya. Tak ada kepanikan tersirat pada gerak tubuhnya. Energi yang begitu besar seperti mengelilingi dirinya. Melindungi dirinya. Begitu rupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Du’tsur seketika terperanjat. Seluruh sendi tubuhnya bergetar hebat demi mendengar jawaban yang hanya sepatah kata itu. Allah! Hanya sepatah kata, yang tak pernah terbayangkan bakal keluar dari mulut lelaki yang nasibnya sudah ada dalam genggamannya itu. Tangannya langsung gemetar dan lunglai. Pedangnya memberat serupa gunung Uhud telah diletakkan di ujungnya. Senjata itu pun kemudian jatuh terkulai ke tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki kinasih itu pun secepat kilat bangkit, mengambil pedang Du’tsur yang tergolek di atas tanah, dan kini mengacungkannya balik ke arah tuannya sendiri. Pedang itu berkilat hanya sejengkal dari kulit wajahnya. Dengan sekali tebas, kepalanya tentu akan segera menggelinding di tanah yang basah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapakah kini yang akan melindungi engkau dariku, hai kisanak?” lelaki itu kini ganti bertanya padanya. Du’tsur merasa riwayatnya seketika usai. Kini ia bergetar sangat hebat bagai diguncang hujan badai. Wajahnya pun berubah pasi seputih kapas di musim panas yang terik. Maut serasa sudah bertengger di ubun-ubunnya. Keringat dingin membasahi tubuhnya melebihi guyuran hujan. Dan ia kini kelu, tak memiliki sepatah jawaban apapun di bawah acungan pedangnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapakah kini yang akan melindungi engkau dariku, hai Du’tsur?”&lt;br /&gt;“Tidak ada seorangpun, wahai Muhammad,” jawab Du’tsur dalam gemetar yang sangat. Ia kemudian berucap, “Ayshadu an Laa ilaaha illa Allah, wa annaka Rasulullah. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Allah, dan sesungguhnya engkau adalah utusan-Nya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi SAW pun menurunkan acung pedangnya. Tangan yang mulia itu kemudian mengangsurkan senjata itu kepada tuannya. Laki-laki itu, Du’tsur bin al-Harts al-Ghatafany, menerimanya dengan rasa suka-cita di antara ketakpercayaannya. Ia lalu kembali kepada anggota pasukannya yang sedang berada di atas gunung, memberitahukan apa yang sudah terjadi, dan menyeru mereka untuk mengikut seruan Nabi kepada ajaran yang benar. Perang pun urung. Mereka lebih memilih perniagaan yang tak akan pernah merugi. &lt;i&gt;(NapakTilas)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14496674-1473983152357098071?l=azhariora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azhariora.blogspot.com/feeds/1473983152357098071/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14496674&amp;postID=1473983152357098071' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/1473983152357098071'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/1473983152357098071'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azhariora.blogspot.com/2007/08/yang-telah-tunai-terbeli.html' title='Yang Telah Tunai Terbeli'/><author><name>Azhar Muhammad N.T</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02889361203577076864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i96.photobucket.com/albums/l192/azhariora/IMG_4398BLG.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14496674.post-5044519438652379820</id><published>2007-08-29T09:41:00.000-07:00</published><updated>2007-08-29T09:42:53.120-07:00</updated><title type='text'>Saat Saya Jadi Maling</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;“Kalo mau, antum di sini juga ngga papa sama saya” Begitu kira-kira kata-kata yang diucapkan Devi, adik kelas angkatan 2003 yang sejak lulus dari Assalaam langsung ngabdi di pondok ini. Dia nawarin saya untuk tinggal di kamarnya, mengingat waktu itu saya belum nggenah mau tinggal di mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena ada yang terang-terangan siap menerima saya, ya akhirnya saya terima tawarannya. Awalnya saya mau pindahan hari Kamis malam, tapi batal karena ada acara pelantikan pengurus OPPPMIA 2007 – 2008 yang memakan waktu cukup lama. Jadilah saya boyongan dari tempat nginep sementara saya ke perumahan tipe D nomor 2 hari Jum’at pagi setelah sholat Shubuh. Lumayan juga, masing-masing punya 2 lemari kayu, ada kipas angin, setrika, dispenser air, tape, dan tidak ketinggalan komputer, jadi saya masih bisa menyalurkan hobi mendengarkan musik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model perumahan ini hampir mirip dengan asrama Kagatra/i, sama-sama tidak ada kamar mandi dalam kamar. Bedanya, bila Kagatra/i dua sisinya merupakan kamar, yang mana di belakang satu kamar adalah kamar juga, tapi kalau perumahan tempat saya tinggal tidak kaya’ gitu. Di belakang kamar saya tidak ada kamar lagi alias lowong, makanya kalau Kagatra/i hanya bagian depan yang berjendela, maka kalau kamar saya berjendela depan dan belakang. Di belakang perumahan saya ada 4 kamar mandi yang di pakai bersama-sama, ditambah tempat khusus untuk mencuci, dan mejemur pakaian. Areal tempat fasilitas mandi, cuci, dan jemur itu diberi pagar pembatas dari sisi belakang perumahan sampai dengan tembok pembatas pondok dengan daerah luar pondok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Normalnya, untuk menuju ke areal belakang itu saya dan teman-teman keluar kamar dari pintu kamar lalu memutar lewat lorong yang ada di tengah-tengah perumahan, dan sampailah kami di tempat yang dituju. Nah, yang tidak normal adalah saat saya dan kawan-kawan kadangkala pergi ke areal belakang tidak lewat jalan biasa, melainkan dengan lompat dari jendela kamar bagian belakang. Kalo yang saya rasain sih, aksi lompat itu terjadi ketika saya ngerasa sedikit ngga enak kalo keliatan ama santri lagi jalan mau mandi atau ngambil wudlu. Pada saat-saat tertentu saya santai-santai aja ke belakang lewat jalan biasa, tapi adakalanya pada saat yang lain saya terdorong untuk pake’ jalan pintas kaya tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat-saat awal menempati kamar ini, aksi lompat jendela ini cuma berlaku untuk pakaian ganti, hanger, atau perlengkapan mandi. Barang-barang itu saya letakkan di kasur yang memang dekat dengan jendela, lalu saya ambil dari luar. Tapi beberapa hari kemudian, giliran saya yang melakukan aksi lompat jendela layaknya maling itu, entah sampai kapan. Semoga gak jadi maling beneran, aminnn.....&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14496674-5044519438652379820?l=azhariora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azhariora.blogspot.com/feeds/5044519438652379820/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14496674&amp;postID=5044519438652379820' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/5044519438652379820'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/5044519438652379820'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azhariora.blogspot.com/2007/08/saat-saya-jadi-maling.html' title='Saat Saya Jadi Maling'/><author><name>Azhar Muhammad N.T</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02889361203577076864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i96.photobucket.com/albums/l192/azhariora/IMG_4398BLG.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14496674.post-1321358185418322251</id><published>2007-08-24T08:09:00.000-07:00</published><updated>2007-08-24T08:11:53.086-07:00</updated><title type='text'>Bukan Perempuan Biasa</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tidak ingin mengecewakan nenek, akhirnya saya menuruti kemauan beliau agar kami berdua turun di Palur saja, bukan di terminal Tirtonadi seperti yang direncanakan semula. Jam menunjukkan pukul 3 dini hari, untunglah waktu itu ada angkutan umum yang tengah berhenti menunggu penumpang, sebuah mobil pick-up dengan atap yang menaungi bak terbuka di bagian belakang, kursinya berhadap-hadapan. Nenek duduk di depan di samping supir, saya di belakang sambil menunggui barang bawaan kami. Dan kami pun melanjutkan perjalanan ke Karangpandan, salah satu kecamatan di wilayah kabupaten Karanganyar Jawa Tengah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Mobil itu awalnya memang kosong, namun di tengah jalan penumpangnya perlahan-lahan bertambah, dan pemandangan itu pun muncul di hadapan saya. Pemandangan yang sebenarnya bukan sekali itu saya temui. Dulu ketika pulang ke Bondowoso di pagi buta, saya naik bis umum dari Jember, dan saya pun mendapati pemandangan seperti ini. Sekawanan ibu-ibu yang berangkat ke pasar dengan seabreg barang dagangannya. Diantaranya bahkan ada yang sudah nenek-nenek.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Mereka ini memang perempuan, namun itu tidak menghalangi niat mereka untuk berjuang menghidupi diri dan keluarganya. Bahkan jika dipikir-pikir, perjuangan mereka mungkin bisa dibilang lebih keras dari apa yang bisa saya kerjakan sejauh ini. Belum tentu saya mampu mempersiapkan diri saya pagi-pagi seperti mereka. Habis sholat shubuh malah kadang-kadang saya tidur lagi. Dalam masalah menikmati waktu berjuang seperti ini, saya pun harus belajar banyak dari perempuan-perempuan ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; font-family: trebuchet ms;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;**********&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Makanan untuk sarapan disiapkan dini hari, makanan untuk makan siang disiapkan pagi-pagi, dan waktu siang dipakai untuk mempersiapkan makan malam. Seperti inilah yang saya lihat dari ibu-ibu dan mbak-mbak yang bekerja di bagian dapur pondok ini. Di balik sifat lembut yang sudah menjadi karakter khasnya, mereka juga rela berpeluh-peluh dan terkuras tenaganya untuk melayani ribuan orang (tidak hanya santri, mantan santri kaya saya juga) di lingkungan pondok ini. Di antara mereka malah ada yang bekerja di situ sejak saya masih belajar di sini. Seperti halnya ibu-ibu pedagang di atas, perempuan-perempuan ini juga luar biasa. Kalo saya sih belum tentu bisa setelaten mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; font-family: trebuchet ms;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;*********&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; font-family: trebuchet ms;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ada yang bilang, jilbaber itu makhluk manis yang paling-paling tidak akan mau mengerjakan pekerjaan yang agak kasar sedikit seperti yang biasanya dilakukan gadi-gadis non-jilbaber. Tapi ternyata di daerah pinggiran sana, ada yang beberapa jilbaber yang tiap pagi menjajakan tempe dengan mancal sepeda. Ada juga yang berjualan susu, tahu, sayur, dan sebagainya dengan memakai sepeda. Malah di tempat lain ada yang dengan jilbab panjangnya terjun ke sawah untuk membantu mengolah sawah, tidak hanya di musim panen yang memang medannya agak ringan, tetapi juga di musim tanam ketika sawah yang kering berubah menjadi kubangan air. Kaos kaki tetap mereka pakai walaupun dibungkus plastik kresek.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ada lagi yang setia dengan pekerjaannya, membantu orang tuanya mengangkat genteng-genteng yang sudah selesai dibakar sampai memerah, mengaduk-aduk isi tungku pembakaran sambil sesekali terbatuk-batuk kecil; memakai jilbab yang sudah mulai pudar warnanya. Sementara ayahnya –pak penjual genteng- yang sudah mulai tua terduduk dengan peluh bercucuran, kelelahan. Demi kuliah anaknya juga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; font-family: trebuchet ms;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;**********&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; font-family: trebuchet ms;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Perempuan-perempuan ini, semoga rahmat-Nya tercurahkan ke atas mereka, semoga hidayah-Nya menaungi mereka, semoga taufiq-Nya senantiasa menghiasi hidup mereka, semoga ridlo-Nya menyertai pekerjaan mereka. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14496674-1321358185418322251?l=azhariora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azhariora.blogspot.com/feeds/1321358185418322251/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14496674&amp;postID=1321358185418322251' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/1321358185418322251'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/1321358185418322251'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azhariora.blogspot.com/2007/08/bukan-perempuan-biasa.html' title='Bukan Perempuan Biasa'/><author><name>Azhar Muhammad N.T</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02889361203577076864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i96.photobucket.com/albums/l192/azhariora/IMG_4398BLG.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14496674.post-166286976941343404</id><published>2007-08-22T00:14:00.000-07:00</published><updated>2007-08-22T00:23:29.639-07:00</updated><title type='text'>Gantung</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Tanpa makan dan minum, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;orang mungkin masih bisa bertahan beberapa hari. Tanpa bernafas, orang mungkin masih bisa bertahan beberapa menit. Tapi jika sudah tanpa harapan, orang mungkin hanya bisa bertahan sepersekian detik saja.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;font-size:100%;"&gt;Bagi saya, demikian juga halnya dengan kepercayaan. Dengan kepercayaan, orang bisa berbuat, melakukan dan menghasilkan sesuatu. Tapi jika sudah tidak memiliki kepercayaan, entah apa yang bisa diperbuatnya. Kepercayaan, sesuatu yang katanya perlu waktu untuk mendapatkannya. Banyak yang bilang, perlu waktu bertahun-tahun untuk melahirkan kepercayaan, namun hanya butuh sedetik saja untuk menghancurkannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Begitu mahalnya harga sebuah kepercayaan, sehingga saya sendiri merasa tidak yakin bisa mendapatkannya kembali dari salah satu teman saya. Sebelum kejadian hari itu semuanya berjalan dengan baik, sangat baik malah. Hampir tiap hari dia menghujani saya dengan cerita, canda, dan keluh-kesahnya, begitu juga sebaliknya. Paling tidak hal itu bisa ikut mewarnai kehidupan saya di lingkungan saya yang baru (tapi lama) ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Tapi apa yang terjadi hari itu, sejauh ini sepertinya telah mengubah semuanya. Dan saya pun harus menanggung akibatnya. Sepertinya ada yang kurang hari ini. Yah, tidak ada lagi cerita, canda, dan keluh-kesahnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Kepercayaan itu bukan dibangun tapi dilahirkan, dan saya belum tahu kapan teman saya ini bisa melahirkan kembali kepercayaannya pada saya, yang akan membuatnya tidak segan lagi untuk saling berbagi dengan saya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14496674-166286976941343404?l=azhariora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azhariora.blogspot.com/feeds/166286976941343404/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14496674&amp;postID=166286976941343404' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/166286976941343404'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/166286976941343404'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azhariora.blogspot.com/2007/08/gantung.html' title='Gantung'/><author><name>Azhar Muhammad N.T</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02889361203577076864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i96.photobucket.com/albums/l192/azhariora/IMG_4398BLG.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14496674.post-1590633914596479233</id><published>2007-08-20T00:43:00.000-07:00</published><updated>2007-08-20T00:48:45.861-07:00</updated><title type='text'>Jejak Langkah Ini</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;10 Agustus 2007. Satu buah tas jinjing lumayan besar, satu kardus buku-buku, dan satu buah tas punggung penuh berisi. Kalo biasanya aku pergi ke Jember sendirian, melihat bawaanku yang sebanyak itu akhirnya aku mengajak Rosi, adikku untuk ikut sekalian &lt;i&gt;mbantuin mbawain&lt;/i&gt; barangku. Jadilah hari itu tepatnya ba’da Maghrib aku pergi ke Jember bersama Rosi. Sampai di terminal Tawangalun Jember ternyata bis Akas Asri jurusan Banyuwangi- Jember- Solo- Yogya itu sudah ada, akupun langsung naik, cari kursi dan meletakkan barang bawaan, lalu Rosi kusuruh nunggu sebentar di dalam bis sementara aku turun lagi, &lt;i&gt;pingin&lt;/i&gt; ke toilet. Keluar dari toilet ternyata bisnya sudah jalan, untung tadi aku ngajak Rosi ikut, paling tidak dia bisa &lt;i&gt;ngingetin&lt;/i&gt; supirnya kalo &lt;i&gt;masnya&lt;/i&gt; masih di luar bis, dan ternyata bisnya memang &lt;i&gt;nungguin&lt;/i&gt; aku. Waktu itu jam setengah delapan malam lebih dan bispun meninggalkan terminal, sementara Rosi pulang lagi ke Bondowoso.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;11 Agustus 2007. Adzan Shubuh masih beberapa saat lagi ketika aku memasuki kompleks pondok Assalaam ini, Mahyani yang menjemput aku di pos satpam dengan sukarela ikut membawakan barangku. Pagi itu sebenarnya ada acara jalan keluarga bagi para pegawai pondok, tapi aku memilih untuk tidur, capeknya belum benar-benar hilang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;12 Agustus 2007. Jejak langkahku akhirnya memasuki medan yang baru, hari ini adalah hari pertama aku mengajar, jadwalnya di kelas 3 G MTs. Jejak langkahku akhirnya memasuki medan yang baru, hari ini aku memperkenalkan diriku seperti halnya ustadz-ustadzahku terdahulu saat pertama masuk ke kelasku. Jejak langkahku akhirnya memasuki medan yang baru, hari ini aku menuliskan materi di papan tulis seperti halnya ustadz-ustadzahku terdahulu. Jejak langkahku akhirnya memasuki medan yang baru, hari ini aku membangunkan beberapa santri yang tertidur ketika pelajaran seperti halnya ustadz-ustadzahku terdahulu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Jejak langkah ini akhirnya memasuki medan yang baru. Yah, yang namanya perjalanan hidup memang harus dan selalu melalui tahapan-tahapan, siapapun orangnya, tidak terkecuali aku juga. Lahir, bermain-main, masuk taman kanak-kanak, berganti seragam putih-merah, pindah sekolah (SD 3 tahun di Bondowoso, sisanya di Banjarnegara). Masuk pondok Assalaam, di sini banyak hal yang mewarnai perjalananku, merasakan pisah dengan orang tua, berkenalan dengan teman-teman dari macam-macam belahan Indonesia, sempat juga diwarnai dengan &lt;i&gt;nangis&lt;/i&gt; ketika dijenguk (pas 1 MTs), latihan bersabar dengan antri, merasakan sakitnya dipukul saat masuk sidang Bagian Bahasa, menangis lagi waktu perpisahan kelas 3 MTs. Berganti seragam putih abu-abu, jadi pengurus Bagian Bahasa, merasakan bagaimana hati ini tersayat-sayat gara-gara urusan cinta (di sini pertama kalinya aku &lt;i&gt;ngerasain&lt;/i&gt; yang namanya jatuh cinta), merasa bangga saat menerima penghargaan waktu wisuda, apalagi keluargaku hadir. 6 tahun yang awalnya terlihat panjang, tapi ternyata terasa singkat ketika dilalui.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Kuliahnya ke luar negri &lt;i&gt;rek..!!&lt;/i&gt; Mesir, negri ini yang kemudian menjadi pemberhentian sementaraku selanjutnya. Di sini juga banyak hal yang mewarnai lembaran perjalananku, dengan segala suka dan dukanya. Menjadi bagian dari keluarga IKMAS Mesir bagiku merupakan satu kenangan terindah seumur hidupku di negri ini, mempunyai teman-teman layaknya saudara, kakak-kakak yang baik-baik, dan juga adik-adik yang baik-baik. Selain itu, berkenalan dengan kondisi alam yang baru, berinteraksi dengan orang mesir, melihat bentuk rumah yang ‘lain dari biasanya’, makanan yang belum pernah &lt;i&gt;ngerasain&lt;/i&gt; sebelumnya, musim dingin, musim panas. Sempat merasakan aktif di PPMI, PCI Muhammadiyah, dan tentu tak ketinggalan KSW (khusus yang satu ini, sejak masih berstatus anak baru sampai tingkat akhir), memahami bahwa sukses tidak selalu ditentukan tinggi rendahnya tingkat intelejensia, siapa yang mau berusaha dialah yang akan berhasil. Juga merasakan sedihnya ditinggal pergi selama-lamanya oleh orang-orang tercinta, Ayah, Nenek, Kakek, Paman-Bibi, tak ketinggalan seorang adik kelasku juga. 5 tahun yang awalnya terlihat panjang, dan ternyata memang benar-benar panjang (???). Senang juga akhirnya purna sudah perjuanganku di negri ini (aku tidak berniat &lt;i&gt;ngambil&lt;/i&gt; S2 di Mesir), tapi juga sedih harus meninggalkan saudara-saudari dan sahabat-sahabat terbaikku di Mesir.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Jejak langkah ini akhirnya memasuki medan yang baru. Yah, setelah lepas dari sebuah tahapan, hidupku sekarang menapaki tahapan yang baru. Sebuah tahapan yang memang berbeda bentuk dengan sebelum-sebelumnya, tapi tetap memerlukan kemauan untuk belajar, kecermatan membagi waktu, kepintaran menjaga semangat dan motivasi, dan ketekunan untuk terus berdoa kepada-Nya mudah-mudahan dianugerahi segala macam kebaikan dan yang dikerjakan sekarang mendapat ridlo-Nya, serta memperoleh kemudahan/kelapangan dalam melangkah ke tahapan-tahapan selanjutnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14496674-1590633914596479233?l=azhariora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azhariora.blogspot.com/feeds/1590633914596479233/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14496674&amp;postID=1590633914596479233' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/1590633914596479233'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/1590633914596479233'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azhariora.blogspot.com/2007/08/jejak-langkah-ini.html' title='Jejak Langkah Ini'/><author><name>Azhar Muhammad N.T</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02889361203577076864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i96.photobucket.com/albums/l192/azhariora/IMG_4398BLG.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14496674.post-116330682104888204</id><published>2006-11-11T20:32:00.000-08:00</published><updated>2006-11-11T20:47:01.416-08:00</updated><title type='text'>Orang Kuat</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Ada kekuatan di dalam cinta.&lt;br /&gt;Orang yang sanggup memberikan cinta adalah orang yang kuat.&lt;br /&gt;Karena ia bisa mengalahkan keinginannya untuk mementingkan diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kekuatan dalam tawa kegembiraan.&lt;br /&gt;Orang tertawa gembira adalah orang yang kuat.&lt;br /&gt;Karena ia tidak pernah terlarut dengan tantangan dan cobaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kekuatan di dalam kedamaian diri.&lt;br /&gt;Orang yang dirinya penuh damai bahagia adalah orang yang kuat.&lt;br /&gt;Karena ia tidak pernah tergoyahkan dan tidak mudah diombang-ambingkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kekuatan di dalam kesabaran.&lt;br /&gt;Orang yang sabar adalah orang yang kuat.&lt;br /&gt;Karena ia sanggup menanggung segala sesuatu dan ia tidak pernah merasa disakiti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kekuatan di dalam kemurahan.&lt;br /&gt;Orang yang murah hati adalah orang yang kuat.&lt;br /&gt;Karena ia tidak pernah menahan mulut dan tangannya untuk melakukan yang baik bagi sesamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kekuatan di dalam kebaikan.&lt;br /&gt;Orang yang baik adalah orang yang kuat.&lt;br /&gt;Karena ia bisa selalu mampu melakukan yang baik bagi semua orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kekuatan di dalam kesetiaan.&lt;br /&gt;Orang yang setia adalah orang yang kuat.&lt;br /&gt;Karena ia bisa mengalahkan nafsu dan keinginan pribadi dengan kesetiaannya kepada Allah dan sesama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kekuatan di dalam kelemahlembutan.&lt;br /&gt;Orang yang lemah lembut adalah orang yang kuat.&lt;br /&gt;Karena ia bisa menahan diri untuk tidak membalas dendam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kekuatan di dalam penguasaan diri.&lt;br /&gt;Orang yang bisa menguasai diri adalah orang yang kuat.&lt;br /&gt;Karena ia bisa mengendalikan segala nafsu keduniawian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadarkah teman bahwa engkau juga memiliki cukup kekuatan untuk mengatasi segala permasalahan dalam hidup ini? Dimanapun, seberat dan serumit apapun juga. Karena cobaan tidak akan pernah dibiarkan melebihi kekuatan kita. &lt;em&gt;(livingschool_community)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14496674-116330682104888204?l=azhariora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azhariora.blogspot.com/feeds/116330682104888204/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14496674&amp;postID=116330682104888204' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/116330682104888204'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/116330682104888204'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azhariora.blogspot.com/2006/11/orang-kuat.html' title='Orang Kuat'/><author><name>Azhar Muhammad N.T</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02889361203577076864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i96.photobucket.com/albums/l192/azhariora/IMG_4398BLG.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14496674.post-116308094934364752</id><published>2006-11-09T05:53:00.000-08:00</published><updated>2006-11-09T06:02:30.453-08:00</updated><title type='text'>Beda Otak Laki-laki dan Perempuan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;&lt;span class="txttagline"&gt;&lt;/span&gt;Michael Guriaan dalam bukunya &lt;em&gt;What Could He Be Thinking? How a Man’s Mind Really Works&lt;/em&gt; menjelaskan, perbedaan antara otak laki-laki dan perempuan terletak pada ukuran bagian-bagian otak, bagaimana bagian itu berhubungan serta cara kerjanya. Perbedaan mendasar antar kedua jenis kelamin itu adalah;&lt;span class="bodytext01"&gt;    &lt;p&gt;&lt;strong&gt;1. Perbedaan spasial&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pada laki-laki otak cenderung berkembang dan memiliki &lt;span style="font-style: italic;"&gt;spasial&lt;/span&gt; yang lebih kompleks seperti kemampuan perancangan mekanis, pengukuran penentuan arah abstraksi, dan manipulasi benda-benda fisik. Tak heran jika laki-laki suka sekali mengutak-atik kendaraan.&lt;/p&gt;    &lt;p&gt;&lt;strong&gt;2. Perbedaan verbal&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Daerah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;korteks&lt;/span&gt; otak pria lebih banyak tersedot untuk melakukan fungsi-fungsi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;spasial&lt;/span&gt; dan cenderung memberi porsi sedikit pada daerah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;korteks&lt;/span&gt;nya untuk memproduksi dan menggunakan kata-kata. Kumpulan saraf yang menghubungkan otak kiri-kanan atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;corpus collosum&lt;/span&gt; otak laki-laki seperempat lebih kecil ketimbang otak perempuan. Bila otak pria hanya menggunakan belahan otak kanan, otak perempuan bisa memaksimalkan keduanya. Itulah mengapa perempuan lebih banyak bicara ketimbang pria. Dalam sebuah penelitian disebutkan, perempuan menggunakan sekitar 20.000 kata per hari, sementara pria hanya 7000 kata!&lt;/p&gt;    &lt;p&gt;&lt;strong&gt;3. Perbedaan bahan kimia&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Otak perempuan lebih banyak mengandung &lt;span style="font-style: italic;"&gt;serotonin&lt;/span&gt; yang membuatnya bersikap tenang. Tak aneh jika wanita lebih kalem ketika menanggapi ancaman yang melibatkan fisik, sedangkan laki-laki lebih cepat naik pitam. Selain itu, otak perempuan juga memiliki &lt;span style="font-style: italic;"&gt;oksitosin&lt;/span&gt;, yaitu zat yang mengikat manusia dengan manusia lain atau dengan benda lebih banyak. Dua hal ini mempengaruhi kecenderungan biologis otak pria untuk tidak bertindak lebih dahulu ketimbang bicara. Ini berbeda dengan perempuan.&lt;/p&gt;    &lt;p&gt;&lt;strong&gt;4. Memori lebih kecil&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pusat memori &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(hippocampus)&lt;/span&gt; pada otak perempuan lebih besar ketimbang pada otak pria. Ini bisa menjawab pertanyaan kenapa bila laki-laki mudah lupa, sementara wanita bisa mengingat segala detail. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Kompas Cybermedia)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14496674-116308094934364752?l=azhariora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azhariora.blogspot.com/feeds/116308094934364752/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14496674&amp;postID=116308094934364752' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/116308094934364752'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/116308094934364752'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azhariora.blogspot.com/2006/11/beda-otak-laki-laki-dan-perempuan.html' title='Beda Otak Laki-laki dan Perempuan'/><author><name>Azhar Muhammad N.T</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02889361203577076864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i96.photobucket.com/albums/l192/azhariora/IMG_4398BLG.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14496674.post-116283655494878863</id><published>2006-11-06T09:37:00.000-08:00</published><updated>2006-11-06T10:09:15.550-08:00</updated><title type='text'>Bukan Yang Pertama</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Inilah resikonya bepergian pada saat mobilitas masyarakat sudah mulai ramai. Ya, waktu itu kami harus rela bis yang kami tumpangi melaju dengan sesekali tersendat kemacetan sampai akhirnya kami sampai di KBRI Kairo. Antara maklum dan tidak, yang jelas bagi saya pribadi ini bukanlah yang pertama kalinya. Sementara tiga orang bapak-bapak dan seorang ibu yang saya temani itu masuk ke dalam menemui salah satu pegawai KBRI, saya pun menunggu di ruang tunggu yang menyatu dengan ruangan petugas jaga. Agak lama menunggu, saya berinisiatif untuk sholat Dhuhur dulu. Belum sempat menuju musholla, ternyata orang-orang yang saya tunggu itu sudah selesai urusannya. Akhirnya kami pun melanjutkan perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena pertimbangan efisiensi waktu, kami berlima memilih naik taksi saja. Walaupun begitu kami harus rela perjalanan kali ini lagi-lagi tersendat kemacetan, hingga akhirnya sampai juga di depan Universitas Kairo. Setelah disuruh masuk lewat pintu khusus pengunjung (non-mahasiswa), kami pun segera mencari bangunan Fakultas Adab untuk kemudian menuju ke perpustakaan fakultas itu. &lt;em&gt;Alhamdulillah&lt;/em&gt;, bangunan fakultas itu letaknya cukup dekat dengan pintu masuk tadi, tapi perpustakaannya terpisah, tapi juga tak begitu jauh. Setelah menemui petugas di sana dan mengutarakan maksud kedatangan, kami pun diajak untuk bertemu dulu dengan Kepala Perpustakaan untuk mendapatkan semacam &lt;em&gt;acc&lt;/em&gt;. Setelah itu kami diantar menuju ruang katalog buku, di ruang ini empat orang teman seperjalanan saya mulai bergerilya mencari daftar-daftar buku yang ingin dilihat. Mereka berempat inilah yang sebenarnya berkepentingan datang ke perpustakaan ini, sedang saya cuma menemani saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menyelesaikan urusan di ruang katalog, kami menuju ruang baca untuk memperoleh buku-buku yang tadi sudah dicari judulnya di ruang katalog. Di sini, mereka masih harus mengisi semacam blanko peminjaman untuk diserahkan ke petugas di ruang baca ini, kemudian setelah ditandatangani, diserahkan ke loket penerimaan buku. Jadilah mereka ini menunggu untuk menerima buku yang diinginkan. Benar-benar proses yang cukup memakan waktu, dan kurang efisien. Dari empat orang ini, satu orang harus kecewa karena buku yang diinginkan tidak muncul. Yang lain pun sebenarnya juga tidak terlalu puas atas apa yang didapat hari itu. Setelah semuanya sholat Ashar, kami pun memilih pulang. Niat untuk berpose di universitas itu harus dipendam karena dilarang oleh polisi. Hari itu kebetulan ada demonstrasi, sehingga banyak polisi anti huru-hara yang berjaga-jaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem kerja yang belum tersentuh komputerisasi dan fasilitas yang dirasa kurang mendukung, adalah beberapa diantara kesan-kesan yang ditangkap oleh empat kawan saya ini. Sekali lagi, maklum atau tidak maklum, bagi saya pribadi fenomena seperti ini bukanlah yang pertama kali saya hadapi. Karena kondisi di universitas Al Azhar tempat saya belajar memang seperti itu. Sebagian besar urusan-urusan di kuliah ini dikerjakan secara manual, kalau tidak mau dikatakan sebagai kurang profesional. Berstatus sebagai mahasiswa Al Azhar, mau tidak mau saya harus berinteraksi dengan fenomena seperti ini lebih banyak daripada empat kawan saya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika mau berpikir positif, saya rasa dengan menghadapi permasalahan seperti ini bisa melatih saya dalam hal mengasah mental dan pikiran untuk mencari solusi atas problem yang dihadapi. Setelah saya bertanya pada petugas di ruang baca itu perihal kemungkinan meminjam buku untuk dibawa pulang, jawabannya ternyata tidak bisa karena perpustakaan itu akan dipindah. Kemudian salah satu dari bapak-bapak itu mengatakan bahwa tidak akan efektif jika harus membaca di perpustakaan itu. Maka beliau pun berpendapat lebih baik beli saja. Membaca dan menulis di rumah tentu jauh lebih efektif daripada melakukannya di perpustakaan itu dengan kondisi seperti itu. Saya mendapatkan satu pelajaran berharga. Ya, seyogyanya kita selalu aktif untuk mencari solusi atas segala problematika yang dihadapi, tidak sekedar berpangku tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah sore itu kami pulang membawa kelelahan, rasa kecewa, lapar, haus, semuanya bercampur jadi satu, ditambah bis yang harus menghadapi kemacetan seperti saat berangkat, sampai-sampai saya pun sempat terlelap di kursi. Sekali lagi, ini bukan yang pertama. Untuk kawan-kawan saya itu, saya berdoa semoga mereka diberi kekuatan dan kesabaran dalam menjalani hidup di negeri yang unik ini. &lt;em&gt;Wallaahu a’lamu bish shawaab&lt;/em&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14496674-116283655494878863?l=azhariora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azhariora.blogspot.com/feeds/116283655494878863/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14496674&amp;postID=116283655494878863' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/116283655494878863'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/116283655494878863'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azhariora.blogspot.com/2006/11/bukan-yang-pertama.html' title='Bukan Yang Pertama'/><author><name>Azhar Muhammad N.T</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02889361203577076864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i96.photobucket.com/albums/l192/azhariora/IMG_4398BLG.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14496674.post-116281744776393828</id><published>2006-11-06T04:49:00.000-08:00</published><updated>2006-11-06T04:50:48.883-08:00</updated><title type='text'>Karena Dunia</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Suatu hari, Nabi Isa melakukan perjalanan dengan seorang temannya. Mereka hanya berbekal tiga potong roti. Ketika sampai di suatu tempat, mereka berdua beristirahat.&lt;br /&gt;"Bawa roti itu kemari," kata Nabi Isa kepada temannya. Lelaki itu memberikan dua potong roti.&lt;br /&gt;"Mana yang sepotong lagi?" tanya Nabi Isa.&lt;br /&gt;"Aku tidak tahu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah masing-masing makan sepotong roti, keduanya kembali melanjutkan perjalanan hingga sampai ke tepi laut. Nabi Isa menggelar sajadahnya di atas laut, mereka berdua lalu berlayar ke seberang.&lt;br /&gt;"Demi Allah yang telah memperlihatkan mukjizat ini kepadamu, siapakah yang telah makan sepotong roti itu?" tanya Nabi Isa kepada temannya.&lt;br /&gt;"Aku tidak tahu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka kemudian melanjutkan perjalanan. Di tengah jalan mereka melihat seekor kijang. Setelah dipanggil, kijang itu pun datang menghampiri beliau. Beliau lalu menyembelih, memanggang dan memakannya. Sehabis makan, Nabi Isa berkata kepada tulang-tulang kijang, "Berkumpullah kamu." Tulang-tulang itu pun berkumpul. Beliau lalu berkata,&lt;br /&gt;"Dengan izin Allah, jadilah kalian seperti semula." Tulang-tulang itu segera bangkit dan berubah menjadi kijang.&lt;br /&gt;"Demi Allah yang telah memperlihatkan mukjizat ini kepadamu, siapakah yang telah makan sepotong roti itu?" tanya Nabi Isa.&lt;br /&gt;"Aku tidak tahu," jawab temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Isa bersama temannya kembali melanjutkan perjalanan hingga sampai pada sebuah tempat. Mereka duduk beristirahat. Nabi Isa memungut tiga bongkahan batu.&lt;br /&gt;"Dengan izin Allah, jadilah emas," kata Nabi Isa. Batu itu pun segera berubah menjadi emas.&lt;br /&gt;"Ini untukku, yang ini untukmu dan yang satu lagi untuk orang yang telah makan sepotong roti itu," kata Nabi Isa&lt;br /&gt;"Akulah yang telah makan roti itu," kata temannya.&lt;br /&gt;"Ambillah semua emas ini, aku tak mau berteman dengan pendusta," kata beliau sambil meninggalkan temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki tadi lalu duduk di dekat emasnya. Ia tidak mampu membawa ketiga-tiganya, tetapi juga tidak rela meninggalkan sebagian dari emas-emas itu. Ketika ia sedang memikirkan cara membawa ketiga bongkahan emas itu, datanglah dua orang lelaki. Melihat keindahan emas itu, timbul keinginan di hati kedua orang itu untuk memilikinya.&lt;br /&gt;"Kalian tidak pantas mengambil milikku dan kalian sama sekali tidak akan mendapatkan bagian," kata pemilik emas.&lt;br /&gt;Melihat mereka berdua hendak membunuhnya, ia segera berkata,&lt;br /&gt;"Emas ini kita bagi saja, satu untukku dan sisanya untuk kalian berdua." Mereka pun rela dengan pembagian itu.&lt;br /&gt;"Ambillah secuil dari bongkahan emas ini, pergilah beli makanan," kata pendatang itu kepada pemilik emas. Setelah mengambil secuil emas, ia lalu pergi membeli makanan untuk mereka bertiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Untuk apa aku membagi emas itu dengan mereka berdua, emas itu kan milikku," pikir si pemilik emas. Timbullah niat untuk meracuni makanan.&lt;br /&gt;"Jika mereka berdua mati, emas itu akan jatuh ke tanganku lagi," pikir si pemilik emas. Ia lalu membeli racun yang paling ganas, siapa pun yang memakannya pasti akan mati seketika. Racun itu lalu ia taburkan di atas makanan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua pendatang tadi juga mempunyai rencana,&lt;br /&gt;"Mengapa kita harus memberi dia. Jika telah kembali, kita bunuh saja dia. Emas itu semua akan menjadi menjadi milik kita berdua." Mereka berdua kemudian membunuh si pemilik emas. Dan dengan perasaan senang karena mendapat emas lebih banyak, kedua lelaki itu kemudian menyantap dengan lahap makanan yang baru saja dibeli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tahun kemudian Nabi Isa bersama kaumnya melewati tempat itu. Mereka melihat tiga bongkahan emas dan tiga kerangka manusia.&lt;br /&gt;"Lihatlah bagaimana dunia memperlakukan mereka," kata Nabi Isa kepada kaumnya.&lt;br /&gt;Beliau kemudian berdiri di depan emas dan berkata,&lt;br /&gt;"Jadilah seperti asalmu." Emas itu pun kembali menjadi batu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14496674-116281744776393828?l=azhariora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azhariora.blogspot.com/feeds/116281744776393828/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14496674&amp;postID=116281744776393828' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/116281744776393828'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/116281744776393828'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azhariora.blogspot.com/2006/11/karena-dunia.html' title='Karena Dunia'/><author><name>Azhar Muhammad N.T</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02889361203577076864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i96.photobucket.com/albums/l192/azhariora/IMG_4398BLG.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14496674.post-116203324261331225</id><published>2006-10-28T03:53:00.000-07:00</published><updated>2006-10-28T04:00:43.666-07:00</updated><title type='text'>Beruntung Kita Hidup Sekarang</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Pada salah satu malam di bulan Ramadhan kemarin, saya berkesempatan sholat tarawih di masjid dekat rumah, namanya masjid Nurul Huda. Saya memang sholat tarawih tidak selalu di satu tempat. Akhirnya tiba juga masa jeda itu, paling tidak bisa sedikit mengurangi rasa pegal di kaki saya. Sholat tarawih di masjid Nurul Huda memang termasuk tarawih yang agak panjang. Yang saya suka kalau tarawih di masjid itu, salah satu imamnya adalah orang Indonesia, dan bacaannya merdu. Tapi malam itu beliau sepertinya tidak bisa hadir, mungkin sholat di tempat lain. Belakangan saya baru tahu ternyata beliau untuk seterusnya tidak menjadi imam tarawih di masjid itu. Masa jeda itu bukan tidak ada isinya, melainkan diisi dengan ceramah. Pada kesempatan itu yang mengisi ceramah adalah seorang bapak yang sering saya lihat sholat di masjid itu, sering juga jadi imam, wajahnya saya hapal, tapi tidak tahu namanya. Kalau saya bilang, ceramah itu enak atau tidak enak selain tergantung pada penceramah, juga tergantung pada &lt;em&gt;mood&lt;/em&gt;nya si pendengar &lt;em&gt;(wallaahu a’lam)&lt;/em&gt;. Ternyata asyik juga ngikutin ceramah dengan serius (hehehe, emang biasanya...), ilmu dapat, saya juga bisa melatih memahami omongan orang Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ceramahnya, beliau menyebutkan bahwa umat Nabi Muhammad SAW adalah umat yang sangat dirahmati Allah SWT. Diantaranya adalah sebagaimana tersebut dalam kisah Nabi Musa AS ketika ditampakkan kepada beliau kelebihan-kelebihan umat Nabi Muhammad SAW.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#003300;"&gt;Nabi Musa pun berkata, “Ya Tuhanku, siapakah gerangan umat yang dirahmati seperti yang kudapati dalam &lt;em&gt;lauh-lauh&lt;/em&gt; (papan bertulis) ini ?”. Allah berfirman, “Itulah umat Muhammad. Mereka rela dengan rezeki sedikit yang Aku berikan kepadanya, maka Aku pun rela dengan amalan yang sedikit dari mereka. Akan Aku masukkan mereka ke dalam surga dengan kesaksian &lt;em&gt;Laa ilaaha illallah&lt;/em&gt;”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Musa, “Aku dapati dalam &lt;em&gt;lauh-lauh&lt;/em&gt; ini suatu umat yang akan dibangkitkan pada hari kiamat dengan wajah-wajah yang bercahaya laksana bulan purnama. Jadikanlah mereka itu umatku ya Allah”. Allah berfirman, “Mereka itu adalah umat Muhammad. Aku bangkitkan mereka pada hari kiamat dengan wajah bersinar dan bercahaya disebabkan bekas-bekas wudhu dan sujud mereka”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Musa, “Aku dapati dalam &lt;em&gt;lauh-lauh&lt;/em&gt; ini suatu umat yang berkain selendang di pundak dan bersenjatakan pedang di bahu masing-masing. Mereka itu orang-orang yang senantiasa bertawakkal dan dadanya penuh keyakinan. Mereka menyerukan nama Allah di hadapan tiap-tiap rumah Allah untuk berjihad di atas kebenaran, sehingga akhirnya merekapun membunuh Dajjal. Jadikanlah mereka itu umatku”. Allah berfirman, “Mereka itu umat Muhammad”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Musa, “Aku dapati di dalam &lt;em&gt;lauh-lauh&lt;/em&gt; ini suatu umat yang shalat lima kali sehari semalam, sehingga terbukalah pintu-pintu langit dan turunlah rahmat bagi mereka. Jadikanlah mereka itu umatku, ya Allah”. Allah berfirman, “Mereka itu adalah umat Muhammad”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Musa, ”Aku dapati dalam &lt;em&gt;lauh-lauh&lt;/em&gt; ini suatu umat yang berpuasa di bulan Ramadhan untuk-Mu, lalu Engkau mengampuni segala kesalahan mereka sebelum itu. Jadikanlah mereka itu umatku”. Allah berfirman, ”Mereka itu umat Muhammad”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Musa, ”Aku dapati dalam &lt;em&gt;lauh-lauh&lt;/em&gt; ini suatu umat yang mengunjungi Baitul Haram karena-Mu, tiada keperluan lain kecuali itu. Mereka hanya meratap dan menangisi diri sendiri serta mengumandangkan suara takbir membesarkan nama-Mu. Jadikanlah mereka umatku”. Allah berfirman, ”Mereka itu umat Muhammad”. Musa berkata, ”Apakah ganjaran mereka atas perbuatan itu?”. Allah menjawab, “Aku akan menambahkan bagi mereka ampunan dan akan Aku izinkan mereka memberi syafaat (do'a pertolongan) kepada siapa saja yang datang sesudah mereka”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Musa “Aku dapati dalam &lt;em&gt;lauh-lauh&lt;/em&gt; ini suatu umat yang memohon ampun atas dosa-dosanya. Mereka menyuapkan suatu makanan ke dalam mulutnya. Belum sampai makanan itu ke dalam perutnya, dosa-dosa itu telah diampunkan oleh Allah. Mereka menyuapkan makanan itu dengan menyebut nama-Mu dan mengakhirinya dengan mengucapkan syukur dan memuji-Mu. Jadikanlah mereka itu umatku”. Allah berfirman; “Mereka itu adalah umat Muhammad”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Musa, “Ya Tuhanku, aku dapati di dalam &lt;em&gt;lauh-lauh&lt;/em&gt; ini suatu umat yang apabila berniat untuk melaksanakan suatu kebajikan, kemudian tidak dilaksanakannya, akan dicatatkan satu kebajikan. Tapi bila dilaksanakan kebajikannya itu, dicatatkan baginya sepuluh kali lipat dari kebaikan itu, atau sehingga menjadi tujuh ratus kali lipat pahalanya. Jadikanlah mereka umatku”. Allah berfirman, “Mereka itu adalah umat Muhammad”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Musa, “Ya Tuhanku, aku dapati di dalam &lt;em&gt;lauh-lauh&lt;/em&gt; ini suatu umat yang apabila berniat melakukan suatu kejahatan, kemudian tidak dilakukannya, tidaklah dicatatkan baginya suatu dosa. Akan tetapi jika diteruskan dengan mengerjakan satu kejahatan barulah dicatatkan baginya satu dosa. Jadikanlah mereka itu umatku”. Allah berfirman, “Mereka itu umat Muhammad”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Musa, “Ya Tuhanku, aku dapati di dalam &lt;em&gt;lauh-lauh&lt;/em&gt; ini suatu umat, mereka itu sebaik-baik manusia. Mereka menyuruh berbuat baik dan melarang perbuatan jahat, jadikanlah mereka itu umatku”. Allah berfirman, “Mereka itu umat Muhammad”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Musa, “Ya Tuhanku, aku dapati dalam &lt;em&gt;lauh-lauh&lt;/em&gt; ini suatu umat yang dibangkitkan pada hari kiamat dalam tiga golongan. Satu golongan akan masuk ke dalam surga tanpa dihisab. Satu golongan lagi akan dihisab dengan hisab yang ringan saja. Dan golongan terakhir disucikan dari segala dosanya, lalu merekapun masuk ke dalam surga. Jadikanlah mereka itu umatku”. Allah berfirman, “Mereka itu umat Muhammad”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Musa, “Ya Tuhanku, Engkau telah menganugerahkan segala kebaikan kepada Muhammad beserta umatnya, maka jadikanlah aku sebagai umatnya”. Allah berfirman, “Hai Musa, sesungguhnya Aku memilih (melebihkan) kamu dari manusia yang lain (di masamu) untuk membawa risalah-Ku dan untuk berbicara langsung dengan-Ku, sebab itu berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”&lt;em&gt;. (Q.S Al-A’raaf: 144).&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Yah, sedemikian besar rahmat Allah untuk umat ini. Allah berkenan melimpahi kita dengan pahala berlipat atas amal kebajikan, memberikan ampunan pada hambanya yang bertaubat, atau menganugerahi kita berbagai momentum yang sangat berharga, sebut saja sholat, puasa, haji, dan lainnya. Di mana berbagai momentum ini bila dimanfaatkan dengan sebaik mungkin akan mendatangkan kebahagiaan bagi kita, tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat nanti. Tanpa menghilangkan keimanan kita pada nabi-nabi yang lain, saya rasa kita sangat beruntung telah terlahir menjadi umat Nabi Muhammad SAW, penutup para utusan, nabi akhir zaman, yang ajarannya menjadi penyempurna bagi risalah-risalah sebelumnya. Dan ini termasuk nikmat besar yang harus kita syukuri. Dengan keadaan kita yang seperti ini, rasanya sangat naif jika kita tidak memanfaatkannya dengan baik. &lt;em&gt;Wallaahu a’lamu bish shawaab.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14496674-116203324261331225?l=azhariora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azhariora.blogspot.com/feeds/116203324261331225/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14496674&amp;postID=116203324261331225' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/116203324261331225'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/116203324261331225'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azhariora.blogspot.com/2006/10/beruntung-kita-hidup-sekar_116203324261331225.html' title='Beruntung Kita Hidup Sekarang'/><author><name>Azhar Muhammad N.T</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02889361203577076864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i96.photobucket.com/albums/l192/azhariora/IMG_4398BLG.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14496674.post-116197592871369056</id><published>2006-10-27T12:02:00.000-07:00</published><updated>2006-10-31T09:11:50.110-08:00</updated><title type='text'>Semoga Kujelang Lagi</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Delapan kilo arang, 1 kilo kelapa kering, kacang, dan lengkuas bubuk. Barang-barang tersebut yang kami bawa siang itu menuju rumah salah satu senior kami, namanya Mas Fahmi, di kawasan Abbas Aqqad. Hari itu adalah hari terakhir puasa Ramadhan tahun ini, dan esoknya pada hari pertama Idul Fitri akan ada open house di rumah Mas Fahmi. Jadilah saya mengakhiri puasa Ramadhan tahun ini dengan berbuka di rumah beliau. Segelas &lt;em&gt;tamr hindy&lt;/em&gt; itupun membasahi mulut saya. Alhamdulillah, selesai juga. Pada saat-saat seperti ini perasaan saya bisa dibilang campur-campur. Lega, karena purna sudah puasa Ramadhan tahun ini, dan saya bersiap untuk menyambut hari kemenangan umat Islam di seluruh penjuru dunia, Idul Fitri. Namun di sisi lain, ada penyesalan atau perasaan kurang puas jika melihat apa yang saya lakukan selama sebulan berpuasa itu. Dan ini bukan pertama kalinya saya punya perasaan seperti ini. Yah, apalagi kalo bukan pemanfaatan momentum Ramadhan yang kurang maksimal. Inilah saya, yang dengan mudahnya menyesali perbuatan untuk kemudian kembali jatuh pada lubang yang sama. Dan ini salah satu dari sekian banyak penyakit kronis yang ada pada diri saya. Bagi yang bisa menasehati, tolong saya diingatkan dong...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan Ramadhan memang lain daripada yang lain. Ada yang spesial di bulan ini, hingga tak heran jika umat Islam pun menyambutnya dengan suka cita. Banjir rahmat, banjir ampunan, banjir pahala, dan banjir-banjir yang lain. Sungguh beruntung orang yang bisa memanfaatkan momentum ini dengan sebaik mungkin, dan sungguh buntung (maksudnya..?) orang yang mensia-siakan kesempatan ini. Tahun 1427 hijriah ini, adalah untuk keenam kalinya saya berpuasa Ramadhan di Mesir, dan jika Allah mengizinkan, inilah puasa terakhir saya di sini. Selain itu, lebaran tahun ini juga yang terakhir untuk saya di sini. Kumandang adzan, lantunan ayat suci al-Qur’an baik yang berasal dari masjid ataupun yang meluncur dari bibir orang-orang di bis, di kereta bawah tanah, dan di mana saja, berbuka puasa di &lt;em&gt;ma’idaturrahmaan&lt;/em&gt;, sholat tarawih mulai dari yang cepat sampai yang lama, suasana Idul Fitri dengan saudara-saudara senegara, dan banyak kenangan lainnya, semuanya akan saya usahakan untuk tidak hilang dari memori saya. Saya hanya bisa berdoa mudah-mudahan semua yang saya kerjakan ini mendapat ridlo-Nya. Mari saling mendoakan, semoga kita semua menjadi hamba-hambanya yang beruntung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rezeki, jodoh, dan maut adalah rahasia Allah. Kita hanya bisa berusaha sungguh-sungguh, bertawakal, dan berdoa untuk mencari rezeki, sedangkan hasil akhirnya Yang Di Atas yang menentukan. Saya (atau kita..?) juga sampai sekarang belum tahu siapa pendamping hidup saya nanti. Maut, kita hanya bisa meyakini bahwa saat itu pasti akan datang. Setelah meyakininya kitapun akan mohon dengan sangat untuk bisa meninggalkan dunia ini dengan membawa tabungan yang membuat kita bahagia di akhirat kelak. Berhubung yang namanya maut itu adalah rahasia Allah, maka bulan Ramadhan yang istimewa, yang menakjubkan, dan yang dirindukan ini, kita berdoa semoga masih bisa menjumpainya lagi. Ramadhan, semoga tahun depan aku masih bisa menikmatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap habis Ramadhan&lt;br /&gt;Hamba rindu lagi Ramadhan&lt;br /&gt;Saat - saat padat beribadah&lt;br /&gt;Tak terhingga nilai mahalnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap habis Ramadhan&lt;br /&gt;Hamba cemas kalau tak sampai&lt;br /&gt;Umur hamba di tahun depan&lt;br /&gt;Berilah hamba kesempatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap habis Ramadhan&lt;br /&gt;Rindu hamba tak pernah menghilang&lt;br /&gt;Mohon tambah umur setahun lagi&lt;br /&gt;Berilah hamba kesempatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah nikmat ibadah bulan Ramadhan&lt;br /&gt;Sekeluarga, sekampung, senegara&lt;br /&gt;Kaum muslimin dan muslimat sedunia&lt;br /&gt;Seluruhnya kumpul dipersatukan&lt;br /&gt;Dalam memohon ridho-Nya &lt;em&gt;(Bimbo)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14496674-116197592871369056?l=azhariora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azhariora.blogspot.com/feeds/116197592871369056/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14496674&amp;postID=116197592871369056' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/116197592871369056'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/116197592871369056'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azhariora.blogspot.com/2006/10/semoga-kujelang-lagi.html' title='Semoga Kujelang Lagi'/><author><name>Azhar Muhammad N.T</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02889361203577076864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i96.photobucket.com/albums/l192/azhariora/IMG_4398BLG.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14496674.post-116184239587065215</id><published>2006-10-25T22:58:00.000-07:00</published><updated>2006-10-25T22:59:55.873-07:00</updated><title type='text'>Pintu Surga</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Tidak seperti biasanya, hari itu Ali bin Abi Thalib RA pulang lebih awal menjelang ashar. Fatimah binti Rasulullah menyambut kedatangan suaminya yang seharian mencari nafkah dengan sukacita. Siapa tahu suaminya membawa uang lebih banyak. Setelah melepas lelah, Ali berkata kepada Fatimah,&lt;br /&gt;"Maaf sayangku, kali ini aku tidak membawa uang sedikitpun"&lt;br /&gt;"Memang yang mengatur rezeki itu tidak duduk di pasar bukan? Yang memiliki kuasa itu adalah Allah Ta'ala" Fatimah menyahut sambil tersenyum.&lt;br /&gt;"Terima kasih" jawab Ali. Matanya memberat lantaran istrinya begitu tawakkal. Padahal keperluan dapur sudah habis sama sekali. Pun begitu Fatimah tidak menunjukan sikap kecewa atau sedih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali lalu berangkat ke masjid untuk menjalankan sholat berjamaah. Sepulang dari sembahyang, di jalan ia dihentikan oleh seorang tua.&lt;br /&gt;"Maaf anak muda, betulkah engkau Ali anaknya Abu Thalib?" Tanya orang tua itu.&lt;br /&gt;"Ya betul. Ada apa, Tuan?" Ali menjawab dengan heran.&lt;br /&gt;"Dahulu ayahmu pernah kusuruh menyamak kulit. Aku belum sempat membayar upahnya, ayahmu sudah meninggal. Jadi, terimalah uang ini, sebab engkaulah ahli warisnya"&lt;br /&gt;Dengan gembira Ali mengambil haknya dari orang itu sebanyak 30 dinar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja Fatimah sangat gembira memperoleh rezeki yang tidak disangka-sangka ketika Ali menceritakan kejadian itu. Dan ia menyuruh membelanjakannya semua agar tidak pusing-pusing lagi merisaukan keperluan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali pun bergegas berangkat ke pasar. Sebelum masuk ke dalam pasar, ia melihat seorang fakir menengadahkan tangan,&lt;br /&gt;"Siapakah yang mau menghutangkan hartanya karena Allah, bersedekahlah kepada saya, seorang musafir yang kehabisan bekal di perjalanan"&lt;br /&gt;Tanpa berfikir panjang, Ali memberikan seluruh uangnya kepada orang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Ali tiba kembali di rumah, Fatimah keheranan melihat suaminya tidak membawa apa-apa. Setelah Ali menerangkan peristiwa yang baru saja dialaminya, Fatimah masih dalam senyum berkata,&lt;br /&gt;"Keputusan kanda adalah yang juga akan saya lakukan seandainya saya yang mengalaminya. Lebih baik kita menghutangkan harta karena Allah daripada bersifat bakhil yang di murkai-Nya, dan yang menutup pintu surga untuk kita"&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;Hidup di dunia adalah memilih, bukan terpilih. Hidup di akherat adalah terpilih, bukan memilih. Rasanya ungkapan ini perlu kita resapi dalam-dalam maknanya. Di dunia kita bisa saja memilih untuk berbuat ini atau berbuat itu, mengerjakan yang baik atau yang buruk, memakan harta yang halal atau yang haram, dengan masing-masing konsekuensinya. Namun di akhirat kita tidak bisa memilih mau ke surga atau ke neraka. Di mana tempat kita nanti, itu ditentukan berdasarkan apa yang kita lakukan semasa hidup di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika mau, Ali bin Abi Tholib bisa saja menahan uang miliknya di tangannya hingga ia membelanjakan semuanya untuk keperluan keluarganya. Namun ternyata beliau memilih salah satu amal yang akan membuka pintu surga untuknya. Semoga kita senantiasa menjadi orang yang lebih memilih jalan menuju surga-Nya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14496674-116184239587065215?l=azhariora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azhariora.blogspot.com/feeds/116184239587065215/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14496674&amp;postID=116184239587065215' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/116184239587065215'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/116184239587065215'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azhariora.blogspot.com/2006/10/pintu-surga.html' title='Pintu Surga'/><author><name>Azhar Muhammad N.T</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02889361203577076864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i96.photobucket.com/albums/l192/azhariora/IMG_4398BLG.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14496674.post-116056926389205432</id><published>2006-10-11T05:02:00.000-07:00</published><updated>2006-10-25T10:30:53.743-07:00</updated><title type='text'>Nasehat Imam Ghozali</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Suatu hari, Imam Al Ghozali berkumpul dengan para muridnya. Lalu Imam Al Ghozali mengajukan beberapa pertanyaan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama; Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?. Murid-muridnya ada yang menjawab orang tua, guru, teman, dan kerabatnya. Imam Ghozali menjelaskan bahwa semua jawaban itu benar, tetapi yang paling dekat dengan kita adalah ‘Mati’. Sebab itu sudah janji Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua; Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?. Murid-muridnya ada yang menjawab negara Cina, bulan, matahari, dan bintang-bintang. Imam Ghozali menjelaskan bahwa semua jawaban itu benar, tapi yang paling jauh adalah ‘Masa Lalu’. Bagaimanapun kita, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak bisa kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga; Apa yang paling besar di dunia ini?. Murid-muridnya ada yang menjawab gunung, bumi, dan matahari. Imam Ghozali menjelaskan bahwa semua jawaban itu benar, tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah ‘Nafsu’ (Al A'Raf 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat; Apa yang paling berat di dunia ini?. Ada yang menjawab baja, besi, dan gajah. Imam Ghozali menjelaskan bahwa semua jawaban itu benar, tapi yang paling berat adalah ‘Memegang Amanah’ (Al Ahzab 72). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka untuk menjadi khalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT, sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tidak bisa memegang amanahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima adalah; Apa yang paling ringan di dunia ini?. Ada yang menjawab kapas, angin, debu, dan daun-daunan. Imam Ghozali menjelaskan bahwa semua jawaban itu benar, tapi yang paling ringan di dunia ini adalah ‘Meninggalkan Sholat’. Karena pekerjaan kita tinggalkan sholat, karena musyawarah kita tinggalkan sholat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam; Apakah yang paling tajam di dunia ini?. Murid-muridnya menjawab dengan serentak, pedang. Imam Ghozali menjelaskan bahwa jawaban itu benar, tapi yang paling tajam adalah "Lidah Manusia". Karena melalui lidah, manusia dengan gampangnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14496674-116056926389205432?l=azhariora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azhariora.blogspot.com/feeds/116056926389205432/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14496674&amp;postID=116056926389205432' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/116056926389205432'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/116056926389205432'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azhariora.blogspot.com/2006/10/nasehat-imam-ghozali.html' title='Nasehat Imam Ghozali'/><author><name>Azhar Muhammad N.T</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02889361203577076864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i96.photobucket.com/albums/l192/azhariora/IMG_4398BLG.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14496674.post-115997269365740034</id><published>2006-10-04T07:37:00.000-07:00</published><updated>2006-10-27T22:28:13.636-07:00</updated><title type='text'>Merindukan Air Mata</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Malam ketujuh di bulan Ramadlan tahun ini, aku berkesempatan sholat tarawih di Masjid Assalaam, Bawwabah 1. Bersama salah satu kawanku, aku berangkat ke sana beberapa saat sebelum adzan Isya’ berkumandang. Kalo sebelumnya aku sering jalan kaki ke sana, malam itu kami sengaja naik bis biar lebih cepat, apalagi karena waktu adzan juga tak lama lagi. Saat adzan Isya’ dikumandangkan, kami sudah sampai di masjid itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang sudah-sudah, urut-urutan pelaksanaan tarawih di masjid ini juga tak jauh beda dengan masjid-masjid di sekitar tempat tinggalku, paling tidak untuk malam itu. Selepas sholat Isya’ dilanjutkan dengan sholat tarawih dua rakaat-dua rakaat, lalu setelah dua kali salam ada ceramah, dan dilanjutkan dengan dua sholat lagi, kemudian diakhiri dengan sholat witir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat sholat tarawih itu, dalam suatu kesempatan sang Imam membaca ayat-ayat dalam surat Al-A’raaf yang mengisahkan tentang surga dan neraka. Saat itulah sang imam mulai memimpin sholat sambil terisak-isak, kemudian terdengarlah isak tangis dari sebagian jamaah yang lain. Sementara aku, masih melanjutkan sholat dengan muka kering, tanpa air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keras hati, itu yang kurasakan waktu itu. Bukan sekali itu aku mendapati jamaah sholat sambil menangis. Namun aku seperti tidak terpengaruh. Suasana di hatiku tak sedahsyat orang-orang yang menangis sambil terguncang-guncang itu. Sebatas menyadari ternyata ada yang tak beres dengan sholatku. Sebatas menyadari bahwa aku sering tidak menghayati ayat-ayat Allah yang aku dengar. Yah, air mata ini seakan sangat sulit untuk jatuh barang setetes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang-orang beriman itu adalah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal” (QS. Al-Anfal :2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabb, aku punya pinta&lt;br /&gt;Jika keringnya mukaku ini adalah tanda lemahnya imanku,&lt;br /&gt;Ampuni aku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabb, aku punya pinta&lt;br /&gt;Jika keringnya mukaku ini adalah tanda lemahnya imanku,&lt;br /&gt;Berilah kemudahan padaku&lt;br /&gt;Dalam usahaku untuk memperbaiki diriku&lt;br /&gt;Amiin...&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14496674-115997269365740034?l=azhariora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azhariora.blogspot.com/feeds/115997269365740034/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14496674&amp;postID=115997269365740034' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/115997269365740034'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/115997269365740034'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azhariora.blogspot.com/2006/10/merindukan-air-mata.html' title='Merindukan Air Mata'/><author><name>Azhar Muhammad N.T</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02889361203577076864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i96.photobucket.com/albums/l192/azhariora/IMG_4398BLG.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14496674.post-115853758707654012</id><published>2006-09-17T16:29:00.000-07:00</published><updated>2006-09-27T17:46:04.433-07:00</updated><title type='text'>Keluarga</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Ruangan yang baru saja aku masuki itu tampak lumayan asri. Karpet yang bersih dan kelihatan masih baru, juga dengan cat tembok warna kuning yang membuatnya enak dilihat. Aku baru pertama kali masuk ruangan itu, saat menghadiri undangan salah seorang temanku, namanya Mas Iman. Dia sedang berbahagia karena baru saja dikarunia seorang anak laki-laki, dan acara yang diadakannya itu adalah acara aqiqah anaknya.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/2500/1297/1600/fathers_legends.2.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 225px; CURSOR: hand; HEIGHT: 234px" height="233" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/2500/1297/320/fathers_legends.2.jpg" width="225" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kalo kuhitung-hitung, acara aqiqoh ini adalah yang ketiga yang kuhadiri selama hidup di Mesir, dan seluruhnya adalah aqiqoh anak teman-temanku di IKMAS Mesir. Dalam sambutannya, mas Iman sempat menjelaskan bagaimana proses penamaan anaknya itu, yang akhirnya dinamai Ahmad Ziyad Azzahidi. Nama Ziyad diambil atas usul istrinya saat ia sudah bingung setelah tanya kesana kemari tentang nama yang cocok untuk anaknya. Nama Ahmad? Kalo ini diambil sebagai pengharapan mudah-mudahan sang anak bisa meneladani Rosululloh SAW. Sedangkan Azzahidi diambil dari nama Mas Iman sendiri. Nama yang bagus menurutku, anaknya pun lucu. Yah, namanya juga bayi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sambutan empunya hajatan, dilanjutkan dengan ceramah yang disampaikan salah satu sesepuh di organisasi kedaerahan tempat Mas Iman bernaung, namanya Pak Mustofa Habibi. Ada banyak hal yang disampaikan oleh Pak Mustofa, dan kupikir sangat penting juga untuk diperhatikan, tidak hanya bagi orang yang sudah punya anak, tapi juga untuk yang belum. Paling tidak bisa jadi pegangan saat nanti menjadi aktor dalam ‘episode mempunyai anak’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tentu pernah mendengar ungkapan ‘mulai dari diri sendiri’. Nah, diantara yang hal penting yang disampaikan dalam ceramah itu adalah bagaimana memberi teladan yang baik pad&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/2500/1297/1600/mom_comic.gif"&gt;&lt;img style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" height="296" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/2500/1297/320/mom_comic.gif" width="206" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;a anak. Di sini yang ditekankan adalah, jangan hanya bisa menyuruh anak tanpa memberi contoh. Pak Mustofa lalu memberi contoh dari pengalamannya sendiri, saat beliau menyuruh anaknya mengaji, anaknya masih lari-lari. Tapi saat beliau sendiri mengaji, anaknya pun sibuk mencari al-Qur’an dan akhirnya ikut mengaji. Lalu dijelaskan juga tentang bagaimana pengaruh orang tua dalam pembentukan karakter anaknya sambil mengutip sabda Nabi SAW;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka orang tuanyalah yang akan menjadikan ia yahudi, nasrani, atau majusi”&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;Dicontohkan tentang seorang anak yang menduduki rangking 2 di kelasnya, kemudian didorong oleh orang tuanya agar bisa mengalakan si A atau si B dan jadi rangking 1. Nah, yang akhirnya terpatri dalam anak tadi adalah ‘bagaimana caranya mengalahkan orang lain’. Yang ditekankan di sini adalah bagaimana membentuk karakter anak secara baik dan benar hingga kelak ia bisa menjadi orang yang mempunyai sifat-sifat yang bisa diterima masyarakat. Dan masih banyak pelajaran penting yang terkandung dalam ceramah selama kurang lebih 30 menit itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Anyway,&lt;/em&gt; rasanya tak salah jika dikatakan bahwa keluarga adalah sekolah yang pertama dalam proses belajar seseorang. Ia menjadi institusi pendidikan pertama dan yang paling awal dijumpai oleh anak pasca kelahiran. Pembentukan anak baik secara jasmani maupun ruhani berlangsung sejak pertama kali anak lahir. Adapun benih-benih keribadian anak itu sendiri sudah terserap sejak dalam kandungan. Kenyataan ini semakin memperlihatkan bahwa proses perkembangan anak sangat dipengaruhi oleh sikap dan perilaku orang tuanya. Ketika kebijaksanaan yang dominan, hasilnya tentu positif. Ketika kebalikannya yang dominan, hasilnyapun akan jadi negatif. &lt;em&gt;Wallaahu a’lamu bish shawaab&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14496674-115853758707654012?l=azhariora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azhariora.blogspot.com/feeds/115853758707654012/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14496674&amp;postID=115853758707654012' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/115853758707654012'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/115853758707654012'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azhariora.blogspot.com/2006/09/keluarga.html' title='Keluarga'/><author><name>Azhar Muhammad N.T</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02889361203577076864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i96.photobucket.com/albums/l192/azhariora/IMG_4398BLG.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14496674.post-115346294596615945</id><published>2006-07-20T23:19:00.000-07:00</published><updated>2006-10-25T22:52:45.446-07:00</updated><title type='text'>Agama; Antara Pengamalan Nilai dan Penampakan Simbol</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Manusia yang hidup tanpa agama, saya ibaratkan sebagai orang yang berjalan dalam gelap tanpa alat penerang sama sekali. Ia akan bingung harus mengambil arah yang mana. Salah sedikit bisa menyebabkan ia tersandung batu, menabrak dinding, atau bahkan jatuh ke jurang. Dalam kehidupan kita sehari-hari, acapkali kita temukan orang dengan kualitas spiritual nol besar, orientasi hidupnya hanyalah untuk kenikmatan duniawi semata. Lahir, belajar, bekerja, menikah, mati, dan selesai urusan. Fenomena ini berbeda bila dibandingkan dengan orang yang beragama. Islam sebagai agama yang saya anut dan saya yakini kebenarannya, lebih dari sekedar petunjuk. Agama ini mengajarkan bahwa ada kehidupan setelah mati, ada hal-hal yang mesti kita laksanakan untuk bekal kita memasuki hidup yang kekal tersebut, dan masih banyak hal-hal lain yang harus kita pelajari dan kita amalkan dari agama ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sekian milyar penduduk bumi ini ternyata tidak hidup dalam satu agama. Di Indonesia saja, ada bermacam-macam agama. Salah satu hal yang membuat saya bangga adalah, bahwa penganut agama Islam ternyata menjadi mayoritas di negara kita. Well, terlepas dari perasaan bangga tadi, saya rasa kita perlu melihat betapa sisi agama bisa menjadi sangat sensitif ketika disentuh dan diusik. Salah satu contohnya adalah gugatan terhadap salah satu band papan atas, Dewa karena dianggap melecehkan Islam dengan menggunakan simbol yang mirip kaligrafi Islam yang ber&amp;shy;tu&amp;shy;lis&amp;shy;kan nama Allah, selain itu lambang itu pernah dijadikan alas panggung yang diinjak-injak saat Dewa tampil dalam suatu konsernya. Lebih dari itu, logo itu juga menghiasi foto-foto para per&amp;shy;so&amp;shy;nel Dewa yang bertato. Belajar dari kasus ini dan kasus-kasus sejenis, saya pikir kita bisa memahami bahwa bukan hanya umat Islam, umat agama apapun akan marah jika agama yang menjadi kepercayaan dan mereka sucikan diinjak-injak.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Selain itu, setiap agama yang ada di dunia ini memiliki sesuatu yang menjadi identitasnya dan membedakannya dengan agama lain, seperti Islam yang meyakini Allah sebagai tuhan, Muhammad SAW sebagai nabi, memiliki masjid sebagai tempat ibadah, al-Qur’an sebagai kitab suci, jilbab sebagai penutup aurat, dan lain-lain. Kemudian sebagian orang membahasakannya sebagai simbol agama.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Di era globalisasi seperti saat ini, simbol-simbol ini (bagi yang sepakat dengan penamaan ini) ternyata pada suatu waktu beralih fungsinya menjadi salah satu sarana untuk mendukung kepentingan pihak tertentu, seperti dalam masalah kampanye Pilkada misalnya. Dengan sensitifitasnya, rasanya tak salah jika dikatakan bahwa agama saat ini termasuk alat yang efektif untuk meraih kekuasaan. Maka tak heran jika sebagian pihak memanfaatkan kondisi masyarakat awam yang umumnya berpegang erat pada tradisi keagamaan untuk memuluskan jalannya. Caranya bisa macam-macam, salah satunya adalah dengan mereproduksi simbol-simbol agama dalam kekuasaan. Realisasinya bisa dalam bentuk penggunaan berbagai properti maupun ikon keagamaan. Tidak mengherankan jika politisi dan penguasa mengambil berbagai properti maupun ikon keagamaan seperti pemakaian bahasa agama. Tidak ketinggalan juga pelaksanaan ritual keagamaan sebagai sarana mobilisasi massa, seperti istighotsah atau tabligh akbar, shalat atau dzikir berjamaah dan umroh. Terlepas dari masalah pantas atau tidak, tak urung masalah penggunaan simbol-simbol ini, termasuk dalam ranah politik, kerap mengundang pertanyaan. Karena dengan politisasi semacam ini, akan menyiratkan bahwa agama tidak terapresiasi dalam kaitannya dengan nilai-nilai spiritual, melainkan diterapkan untuk mencari kekuasaan. Dengan demikian, moralitas kekuasaan telah menggantikan bentuk-bentuk pemaknaan atas agama. Agama tidak lagi menjadi sumber kesadaran spiritualitas, melainkan bentuk baru untuk mempertahankan kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Saya termasuk yang tidak setuju ketika dikatakan bahwa agama tidak pantas untuk diikutsertakan dalam mewarnai kancah politik, termasuk dengan alasan menjaga kemurnian agama. Justru dengan menyingkirkan aspek agama dari kancah politik ini sesungguhnya kita telah membunuh salah satu unsur kemurnian agama itu sendiri. Tapi saya ingin mengatakan bahwa semaraknya penampakan simbol-simbol agama bila dimaksudkan semata-mata untuk meraih dan mempertahankan kekuasaan dengan tetap melestarikan kemungkaran-kemungkaran seperti praktek suap, korupsi, pembodohan masyarakat dengan fatwa haram memilih calon tertentu tanpa dasar yang jelas, dan sebagainya, maka hal itu juga tidak bisa dikatakan baik. Lain cerita jika kekuasaan yang akhirnya bisa diraih atau dipertahankan tersebut sepenuhnya diabdikan sebagai pelayanan terbaik bagi masyarakat luas untuk menciptakan kesejahteraan, perdamaian, dan kerukunan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Saya meyakini bahwa agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW sarat dengan nilai-nilai yang bila diamalkan akan membawa kita pada kebahagiaan dunia dan akhirat. Nilai-nilai ini mengatur hubungan kita dengan Allah, hubungan kita dengan sesama manusia, juga hubungan kita dengan makhluk yang lain. Menurut saya, tidak ada yang salah dengan penampakan simbol-simbol agama dalam konteks politik maupun konteks-konteks yang lain selama hal itu ditujukan untuk kemaslahatan, dengan dasar yang jelas, dengan cara yang baik, dan dengan memperhatikan kondisi sosio-kultural masyarakat kita. Jika hal itu tidak mampu dilakukan, maka pengamalan nilai-nilai agama yang didasarkan pada pemahaman agama yang benar meskipun tidak terang-terangan akan lebih baik daripada sekedar menampakkan simbol-simbol agama tanpa niat yang tulus. Namun bukan berarti kita selalu pasif, pada suatu waktu kita berhak menuntut sesuatu yang menjadi hak kita, misalnya ketika ada pelarangan jilbab, tentu kita tak bisa tinggal diam. Karena pemakaian jilbab bukan sekedar simbol, lebih dari itu ia adalah kewajiban yang harus ditunaikan. Mencari dukungan dengan menghindari money politic atau menjauhi korupsi meskipun tanpa digembar-gemborkan, akan lebih baik daripada menam&amp;shy;pak&amp;shy;kan simbol agama di depan publik namun bukan representasi dari kesadaran beragama tapi se&amp;shy;kedar untuk memperoleh, memperkuat, dan mempertahankan dukungan dan kekuasaan. Lalu, ketika kekuasaan sudah dalam genggaman dengan mudah simbol itu hilang, atau paling tidak perilaku keagamaan semacam itu merupakan perilaku semu dan sifatnya musiman. Jika dibawa pada konteks yang lain, bagi saya akan lebih baik bila kita hidup rukun, bersikap terbuka dan mene&amp;shy;rima perbedaan antara kita dengan orang lain, asalkan tidak menyentuh masalah aqidah, daripada bersikap tertutup, menganggap dirinya paling benar sendiri, atau hanya mau bergaul dengan orang yang dianggap golongannya. Tidak ada yang salah dengan keberadaan simbol-simbol dan nilai-nilai agama di tengah-tengah kita, tapi mungkin kita yang kadang-kadang salah dalam berinteraksi dengannya. &lt;em&gt;Wallaahu a’lamu bish shawaab&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14496674-115346294596615945?l=azhariora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azhariora.blogspot.com/feeds/115346294596615945/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14496674&amp;postID=115346294596615945' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/115346294596615945'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/115346294596615945'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azhariora.blogspot.com/2006/07/agama-antara-pengamalan-nilai-dan.html' title='Agama; Antara Pengamalan Nilai dan Penampakan Simbol'/><author><name>Azhar Muhammad N.T</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02889361203577076864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i96.photobucket.com/albums/l192/azhariora/IMG_4398BLG.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14496674.post-114455738766993094</id><published>2006-04-08T21:35:00.000-07:00</published><updated>2006-10-25T22:57:16.196-07:00</updated><title type='text'>Himar Pun Bisa Jadi Pelajaran</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Suatu hari keledai milik seorang petani jatuh ke dalam sumur. Hewan itu menangis dengan memilukan selama berjam-jam sementara si petani bingung memikirkan apa yang harus dilakukannya. Akhirnya, Ia memutuskan bahwa hewan itu sudah tua dan sumur juga perlu ditimbun karena berbahaya, jadi tidak berguna untuk menolong si keledai. Ia mengajak tetangga-tetangganya untuk datang membantunya. Mereka membawa sekop dan mulai menuangkan tanah ke dalam sumur.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pada mulanya, ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia menangis penuh kengerian. Tetapi kemudian, semua orang takjub karena si keledai menjadi diam. Setelah beberapa sekop tanah lagi dituangkan ke dalam sumur, si petani melihat ke dalam sumur dan tercengang dengan apa yang dilihatnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Walaupun punggungnya terus ditimpa oleh bersekop-sekop tanah, si keledai melakukan sesuatu yang menakjubkan. Ia mengguncang-guncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya jatuh, lalu menaiki tanah itu. Sementara para tetangga si petani terus saja menuangkan tanah ke dalam sumur, si keledai terus saja mengguncangkan badannya dan melangkah naik. Segera saja, semua orang terpesona demi melihat si keledai meloncati tepi sumur dan melarikan diri.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kehidupan ini terus saja menuangkan tanah kepada kita. Cara untuk keluar dari 'sumur' adalah dengan mengguncangkan segala tanah dari diri kita dan melangkah naik dari 'sumur' dengan menggunakan hal-hal tersebut sebagai pijakan. Setiap masalah yang kita hadapi merupakan batu pijakan untuk melangkah. Kita dapat keluar dari 'sumur' yang terdalam dengan terus berjuang, dan tidak pernah menyerah. Guncangkanlah hal negatif yang menimpa dan melangkahlah naik.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ingatlah aturan sederhana tentang kebahagiaan;&lt;br /&gt;1. Bebaskan diri dari kebencian&lt;br /&gt;2. Bebaskan pikiran dari kecemasan&lt;br /&gt;3. Hidup sederhana&lt;br /&gt;4. Memberi lebih banyak&lt;br /&gt;5. Berharap lebih sedikit&lt;br /&gt;6. Tersenyum&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Hal-hal diatas hanyalah sebagian dari sekian banyak hal yang akan mengantarkan kita pada sebuah kebahagiaan, dan selebihnya waktu yang akan membawa kita untuk menemukannya. &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;(alumni_assalaam)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14496674-114455738766993094?l=azhariora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azhariora.blogspot.com/feeds/114455738766993094/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14496674&amp;postID=114455738766993094' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/114455738766993094'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/114455738766993094'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azhariora.blogspot.com/2006/04/himar-pun-bisa-jadi-pelajaran.html' title='Himar Pun Bisa Jadi Pelajaran'/><author><name>Azhar Muhammad N.T</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02889361203577076864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i96.photobucket.com/albums/l192/azhariora/IMG_4398BLG.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14496674.post-114383671577471372</id><published>2006-03-31T11:52:00.000-08:00</published><updated>2006-03-31T12:25:15.816-08:00</updated><title type='text'>Pondokku Damai</title><content type='html'>Di tempat ini, salah satu sejarah terbesar dalam hidupku terukir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/2500/1297/1600/Taman.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/2500/1297/320/Taman.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/2500/1297/1600/Masjid%2003.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/2500/1297/320/Masjid%2003.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/2500/1297/1600/Gelora%2003.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/2500/1297/320/Gelora%2003.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/2500/1297/1600/Kantor.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/2500/1297/320/Kantor.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/2500/1297/1600/Masjid%20-%20Timur%2004.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/2500/1297/320/Masjid%20-%20Timur%2004.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/2500/1297/1600/Pancuran.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/2500/1297/320/Pancuran.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14496674-114383671577471372?l=azhariora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azhariora.blogspot.com/feeds/114383671577471372/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14496674&amp;postID=114383671577471372' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/114383671577471372'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/114383671577471372'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azhariora.blogspot.com/2006/03/pondokku-damai.html' title='Pondokku Damai'/><author><name>Azhar Muhammad N.T</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02889361203577076864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i96.photobucket.com/albums/l192/azhariora/IMG_4398BLG.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14496674.post-114380518996959489</id><published>2006-03-31T03:31:00.000-08:00</published><updated>2006-03-31T03:44:22.850-08:00</updated><title type='text'>Menjadi Apapun Dirimu</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Jadilah karang, meski tidak mudah. Sebab ia akan menahan sengat binar mentari yang garang. Sebab ia akan kukuh halangi deru ombak yang kuat menerpa tanpa kenal lelah. Sebab ia akan melawan gelombang yang keras menghembus dan menerpa dengan dingin yang coba membekukan. Sebab ia akan menahan hempas badai yang datang menggerus terus-menerus dan coba melemahkan keteguhannya. Sebab ia akan kokohkan diri agar tak mudah hancur dan terbawa arus. Sebab ia akan berdiri tegak berhari-hari, bertahun-tahun, berabad-abad, tanpa rasa jemu dan bosan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jadilah pohon yang tinggi menjulang, meski itu tidak mudah. Sebab ia akan menatap tegar bara mentari yang terus menyala setiap siangnya. Sebab ia akan meliuk halangi angin yang bertiup kasar. Sebab ia akan terus menjejak bumi hadapi gemuruh sang petir. Sebab ia akan hujamkan akar yang kuat untuk menopang. Sebab ia akan menahan gempita hujan yang coba merubuhkan. Sebab ia akan senantiasa berikan bebuahan yang manis dan mengenyangkan. Sebab ia akan berikan tempat bernaung bagi burung-burung yang singgah di dahannya. Sebab ia akan berikan tempat berlindung dengan rindang daun-daunnya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jadilah ikan paus, meski itu tak mudah. Sebab dengan sedikit kecipaknya, ia akan menggetarkan ujung samudera. Sebab besar tubuhnya akan menakutkan musuh yang coba mengganggu. Sebab sikap diamnya akan membuat tenang laut dan seisinya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jadi elang dengan segala kejantanannya, meski itu juga tidak mudah. Sebab ia harus melayang tinggi menembus birunya langit. Sebab ia harus melanglang buana untuk mengenal medannya. Sebab ia harus melawan angin yang menerpa dari segala penjuru. Sebab ia harus mengangkasa jauh tanpa takut jatuh. Sebab ia harus kembali ke sarang dengan makanan di paruhnya. Sebab ia harus menukik tajam mencengkeram mangsa. Sebab ia harus menjelajah cakrawala dengan kepak sayap yang membentang gagah.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jadilah melati, meski tampak tak bermakna. Sebab ia akan tebar harum wewangian tanpa meminta balasan. Sebab ia begitu putih, seolah tanpa cacat. Sebab ia tak takut hadapi angin dengan mungil tubuhnya. Sebab ia tak ragu hadapi hujan yang membuatnya basah. Sebab ia tak pernah iri melihat mawar yang merekah segar. Sebab ia tak pernah malu pada bunga matahari yang menjulang tinggi. Sebab ia tak pernah rendah diri pada anggrek yang anggun. Sebab ia tak pernah dengki pada tulip yang berwarna-warni. Sebab ia tak gentar layu karena pahami hakikat hidupnya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jadilah mutiara, meski itu tak mudah. Sebab ia berada di dasar samudera yang dalam. Sebab ia begitu sulit dijangkau oleh tangan-tangan manusia. Sebab ia begitu berharga. Sebab ia begitu indah dipandang mata. Sebab ia tetap bersinar meski tenggelam di kubangan yang hitam.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jadilah kupu-kupu, meski itu tak mudah pula. Sebab ia harus melewati proses-proses sulit sebelum dirinya saat ini. Sebab ia lalui semedi panjang tanpa rasa bosan. Sebab ia bersembunyi dan menahan diri dari segala yang menyenangkan, hingga kemudian tiba saat untuk keluar.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Karang akan hadapi hujan, terik sinar mentari, badai, juga gelombang. Elang akan menembus lapis langit, mengangkasa jauh, melayang tinggi dan tak pernah lelah untuk terus mengembara dengan bentangan sayapnya. Ikan Paus akan menggetarkan samudera hanya dengan sedikit gerakan. Pohon akan hadapi petir, deras hujan, silau matahari, namun selalu berusaha menaungi. Melati ikhlas untuk selalu menerima keadaannya, meski tak terhitung pula bunga-bunga lain dengan segala kecantikannya. Kupu-kupu berusaha bertahan, meski saat-saat diam adalah kejenuhan. Mutiara tak memudar kelam, meski pekat lingkungan mengepungnya di kiri-kanan, depan dan belakang.&lt;/div&gt; &lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tapi karang menjadi kokoh dengan segala ujian. Elang menjadi tangguh, tak hiraukan lelah tatkala terbang melintasi bermilyar kilo bentang cakrawala. Paus menjadi kuat dengan besar tubuhnya dalam luas samudera. Pohon tetap menjadi naungan meski ia hadapi beribu gangguan. Melati menjadi bijak dengan dada yang lapang, dan justru terlihat indah dengan segala kesederhanaan. Mutiara tetap bersinar dimana pun ia terletak, dimana pun ia berada. Kupu-kupu hadapi cerah dunia meskipun lalui perjuangan panjang dalam kesendirian.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Menjadi apapun dirimu, bersyukurlah selalu. Sebab kau yang paling tahu siapa dirimu. Sebab kau yakini kekuatanmu. Sebab kau sadari kelemahanmu. Tapi, tetaplah sadari bahwa kau adalah seorang hamba, seorang yang lemah di hadapan-NYA! Itulah dirimu. &lt;em&gt;(Imma - Kotasantri)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14496674-114380518996959489?l=azhariora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azhariora.blogspot.com/feeds/114380518996959489/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14496674&amp;postID=114380518996959489' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/114380518996959489'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/114380518996959489'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azhariora.blogspot.com/2006/03/menjadi-apapun-dirimu_31.html' title='Menjadi Apapun Dirimu'/><author><name>Azhar Muhammad N.T</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02889361203577076864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i96.photobucket.com/albums/l192/azhariora/IMG_4398BLG.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14496674.post-114345344439518728</id><published>2006-03-27T01:47:00.000-08:00</published><updated>2006-03-27T02:13:40.136-08:00</updated><title type='text'>Karena Saya Tidak Sendiri</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Hangat dalam kedinginan, itulah yang saya rasakan pada malam terakhir saat rihlah IKMAS Mesir ke pantai Gamasha kemarin. Hawa malam itu memang lumayan menusuk, buktinya cowok-cowok banyak yang &lt;em&gt;kemulan&lt;/em&gt; sarung, duduknya dempet-dempet pula. Namun dingin itu bisa dinetralisir oleh hangatnya suasana kekeluargaan (semoga tidak pernah hilang) yang menyelimuti perkumpulan malam itu. Ngobrol, ngocol, hiburan, senda gurau, hingga gelak tawa adalah hal-hal yang ikut menghidupkan malam itu. Satu lagi, momen tulis menulis kesan terhadap saudara se-Ikmas yang hadir malam itu. Bagi saya pribadi sepintas memang sederhana (hanya bermodalkan kertas setengah lembar dan bolpoin yang digilir), namun maknanya sangat besar. Dari situ saya jadi lebih tau tentang penilaian saudara-saudara saya terhadap saya. Ada yang memberi kesan baik, ada juga yang berpesan agar saya berusaha meghilangkan sisi negatif dalam diri saya. Dari situ juga saya mendapat satu pelajaran atau tepatnya penegasan terhadap sesuatu yang sebenarnya sudah saya pahami, yaitu bahwa saya hidup tidak sendiri, melainkan berbaur dengan saudara-saudara saya yang lain, dan saya dituntut untuk bisa menghargai perasaan saudara-saudara saya itu. Diantara sikap-sikap/sifat-sifat saya, ada yang bisa mereka terima, tapi ada juga yang tidak, ada yang disukai, tapi ada juga yang dibenci. Akhirnya, kepada Allah saya berdoa, semoga dalam berinteraksi dengan saudara-saudara saya disini, saya bisa bersikap lebih dewasa, lebih bijaksana, nggak temperamental, hingga bisa memberikan kesan baik dalam diri saudara-saudara saya. Amiin... Ya Allah... Tolong saya dibantu ya...&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14496674-114345344439518728?l=azhariora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azhariora.blogspot.com/feeds/114345344439518728/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14496674&amp;postID=114345344439518728' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/114345344439518728'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/114345344439518728'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azhariora.blogspot.com/2006/03/karena-saya-tidak-sendiri.html' title='Karena Saya Tidak Sendiri'/><author><name>Azhar Muhammad N.T</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02889361203577076864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i96.photobucket.com/albums/l192/azhariora/IMG_4398BLG.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14496674.post-114345259471563618</id><published>2006-03-27T01:40:00.000-08:00</published><updated>2006-03-27T02:16:28.143-08:00</updated><title type='text'>Kerjasama Itu Penting</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Pada suatu waktu, ada seorang mahaguru yang ingin mengambil rehat dari kehidupannya sehari-hari sebagai akademisi. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke sebuah pantai dan meminta seorang nelayan untuk membawanya pergi melaut menuju tempat yang jauh dari sana. Seperempat perjalanan, mahaguru tersebut bertanya, "Wahai nelayan, apakah Anda mengenal ilmu geografi?" Sang nelayan menjawab, "Ilmu geografi yang saya ketahui adalah kalau di laut sudah mulai sering ombak pasang, maka musim hujan segera akan tiba." "Nelayan bodoh!" kata mahaguru tersebut. "Tahukah kamu bahwa dengan tidak menguasai ilmu geografi kamu sudah kehilangan seperempat kehidupanmu."&lt;/div&gt; &lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Seperempat perjalanan berikutnya, mahaguru tersebut bertanya pada nelayan apakah dia mempelajari ilmu biologi dan sains? Sang nelayan menjawab bahwa ilmu biologi yang dia kenal hanyalah mengetahui jenis ikan apa saja yang dapat dimakan. "Nelayan bodoh, dengan tidak menguasai biologi dan sains kamu sudah kehilangan seperempat kehidupanmu." Kemudian mahaguru tersebut bercerita tentang Tuhan yang menciptakan umat manusia dengan struktur tubuh, kapasitas otak yang sama, dan lain-lain.&lt;/div&gt; &lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Selanjutnya mahaguru tersebut bertanya apakah nelayan tersebut mempelajari matematika? Sang nelayan menjawab bahwa matematika yang dia ketahui hanyalah bagaimana cara menimbang hasil tangkapannya, menghitung biaya yang sudah dikeluarkannya, dan menjual hasil tangkapannya agar dapat menghasilkan keuntungan secukupnya. Lagi-lagi mahaguru tersebut mengatakan betapa bodohnya sang nelayan dan mengatakan bahwa dengan tidak mempelajari matematika dia sudah kehilangan lagi seperempat kehidupannya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kemudian, di perjalanan setelah jauh dari pantai dan berada di tengah lautan, mahaguru tersebut bertanya, "Apa artinya awan hitam yang menggantung di langit?" "Topan badai akan segera datang, dan akan membuat lautan menjadi sangat berbahaya." Jawab sang nelayan. "Apakah bapak bisa berenang?" Tanya sang nelayan. Ternyata sang mahaguru tersebut tidak bisa berenang. Sang nelayan kemudian berkata, "Saya boleh saja kehilangan tiga-perempat kehidupan saya dengan tidak mempelajari tiga subyek yang tadi diutarakan oleh mahaguru, tetapi dengan tidak bisa berenang, mahaguru akan kehilangan seluruh kehidupan yang dimiliki." Kemudian nelayan tersebut meloncat dari perahu dan berenang ke pantai sedangkan mahaguru tersebut tenggelam.&lt;/div&gt; &lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dalam kehidupan kita, baik dalam pekerjaan ataupun pergaulan sehari-hari, kadang-kadang kita meremehkan teman, ataupun sesama rekan kerja. Kalimat "tahu apa kamu" atau "si anu tidak tahu apa-apa" mungkin secara tidak sadar sering kita ungkapkan ketika sedang membahas sebuah permasalahan. Padahal, ada kalanya orang lain lebih mengetahui dan mempunyai kemampuan spesifik yang dapat mengatasi masalah yang timbul. Seorang pekerja di pabrik pakaian yang tugasnya menjahit mungkin lebih mengetahui hal-hal yang bersifat teknis daripada atasannya. Intinya, orang yang menggeluti bidangnya sehari-hari bisa dibilang memahami secara detail apa yang dia kerjakan dibandingkan orang 'luar' yang hanya tahu 'kulitnya' saja.&lt;/div&gt; &lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Begitu pula dalam konteks organisasi, kita kadang menganggap remeh orang baru dalam sebuah struktur. Kita menganggap orang baru tersebut tidak mengetahui secara mendalam mengenai sesuatu yang kita kerjakan. Padahal, orang baru tersebut mungkin saja membawa ide-ide baru yang dapat memberikan terobosan untuk kemajuan bersama. Sayangnya, kadang kita dibutakan oleh ego, pengalaman, dan jabatan kita sehingga mungkin akan menganggap remeh orang lain yang pengalaman, posisi, atau pendidikannya di bawah kita. Kita jarang bertanya pada rekan kerja kita. Atau pun kalau bertanya, hanya sekedar basa-basi, pendapat dan masukannya sering dianggap sebagai angin lalu.&lt;/div&gt; &lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Padahal, kita tidak bisa bergantung pada kemampuan diri kita sendiri, kita membutuhkan orang lain. Begitu sebuah masalah muncul ke permukaan, kita tidak bisa mengatasinya dengan hanya mengandalkan kemampuan yang kita miliki. Kita harus menggabungkan kemampuan kita dengan orang lain. Sehingga bila perahu kita tenggelam, kita masih akan ditolong oleh orang lain yang kita hargai kemampuannya. Fakta membuktikan bahwa sebagian besar orang yang mempraktekkan &lt;em&gt;one man show&lt;/em&gt; dalam pekerjaannya, biasanya hasil yang dicapai kurang maksimal. Hal ini banyak disebabkan oleh tidak adanya perhatian dari orang tersebut terhadap kemampuan orang-orang lain disekitarnya. Seperti mahaguru yang akhirnya ditinggalkan di perahu yang sedang dilanda topan badai dan dibiarkan mati tenggelam karena tidak menghargai kemampuan nelayan yang membawanya. Yang jadi pertanyaan kita sekarang, apakah kita masih suka bertingkah laku seperti sang mahaguru? Bila ya, seberapa sering?&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14496674-114345259471563618?l=azhariora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azhariora.blogspot.com/feeds/114345259471563618/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14496674&amp;postID=114345259471563618' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/114345259471563618'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/114345259471563618'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azhariora.blogspot.com/2006/03/kerjasama-itu-penting.html' title='Kerjasama Itu Penting'/><author><name>Azhar Muhammad N.T</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02889361203577076864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i96.photobucket.com/albums/l192/azhariora/IMG_4398BLG.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14496674.post-114345236383547090</id><published>2006-03-27T01:18:00.000-08:00</published><updated>2006-03-27T02:18:29.293-08:00</updated><title type='text'>Sedikit Tentang Yusuf Qardhawi</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/2500/1297/1600/images.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/2500/1297/320/images.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div align="justify"&gt;Yusuf Qardhawi, adalah seorang pemikir Islam modern yang sangat yakin akan kebenaran cara pemikiran Islam yang moderat (al-washatiyah al-Islamiyah). Sebagai ulama yang memiliki apresiasi tinggi terhadap Alquran dan Sunnah Nabi, Qardhawi sangat fleksibel dalam memandang ajaran Islam. Namun pada saat yang sama, ia juga sangat kuat dalam mempertahankan pendapat-pendapatnya yang digali dari Alquran dan Hadits.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Yusuf Qardhawi lahir di Shafth Turaab, sebuah desa kecil di Mesir, pada 9 September 1926. Ia tidak sempat mengenal ayah kandungnya dengan baik, karena saat usianya baru mencapai dua tahun, sang ayah meninggal dunia. Sepeninggal ayahnya, ia dibesarkan oleh ibu kandungnya. Akan tetapi pada saat ia duduk di tahun keempat ibtida'iyah, ibunya pun dipanggil Yang Mahakuasa.&lt;/div&gt; &lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Beruntung, ibu yang dicintainya masih sempat menyaksikan putra tunggalnya ini hafal seluruh Alquran dengan bacaan yang sangat fasih, karena pada usia sembilan tahun sepuluh bulan, ia telah hafal Alquran. Kemampuannya dalam menghafal Alquran itulah yang menyebabkan kaum kerabatnya kerap memanggil Qardhawi "syaikh".&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pendidikan formalnya dimulai pada salah satu lembaga pendidikan Al-Azhar yang dekat dengan kampungnya. Di lembaga pendidikan inilah Qardhawi kecil mulai bergelut dengan kedalaman khazanah Islam. Setelah menyelesaikan pendidikannya di Ma'had Thantha dan Ma'had Tsanawi, Qardhawi melanjutkan ke Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar, hingga lulus tahun 1952.&lt;/div&gt; &lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Namun karena dia sempat meninggalkan Mesir akibat kejamnya rezim yang berkuasa saat itu, gelar doktornya baru dia peroleh pada tahun 1972, dengan desertasi Zakat dan Dampaknya Dalam Penanggulangan Kemiskinan. Desertasinya itu kemudian disempurnakan menjadi Fiqh Zakat. Sebuah buku yang sangat komprehensif dalam membahas persoalan zakat dengan nuansa modern.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kedalaman dan ketajamannya dalam menangkap ajaran Islam ini, sangat membantunya untuk selalu bersikap arif dan bijak. Dalam buku-buku yang ditulisnya, dia selalu mendengungkan kelebihan Islam dalam segala lini. Qardhawi dengan gencar mengedepankan Islam yang toleran serta kelebihan-kelebihannya yang tidak dimiliki oleh umat di luar Islam.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Qardhawi juga amat selektif terhadap berbagai propaganda pemikiran Barat maupun Timur, termasuk dari kalangan umat Islam sendiri. Dia bukanlah pengikut buta dari mazhab atau gerakan Islam modern tertentu. Bahkan dia tidak segan-segan berbeda pendapat dengan senior-seniornya dalam pergerakan Islam. Singkatnya, Qardhawi memiliki pendirian yang sangat kokoh terhadap apa yang dia yakini sebagai kebenaran dan prinsip Islam, walaupun seringkali mendapat tekanan dari berbagai pihak.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Di mata Qardhawi, umat Islam sudah lama mengidap krisis identitas akibat perang pemikiran (ghazwul fikr) Barat yang tidak menginginkan Islam bangkit kembali. Akibatnya, umat Islam justru lebih percaya kepada peradaban Barat ketimbang pada agamanya sendiri. Oleh karena itu, Qardhawi tak henti-hentinya berusaha mengembalikan identitas umat dengan melakukan penyebaran pemikiran Islam yang benar melalui berbagai tulisan serta seminar-seminar di tingkat internasional.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pandangan bahwa Islam sangat menghargai makna pluralisme agama sebagai sebuah realitas sosial yang tidak mungkin dihilangkan, membuat Qardhawi sangat anti-terhadap gerakan-gerakan militan apalagi anarkis. Sikap seperti itu, menurutnya hanya memperburuk citra Islam yang cinta damai dan sangat manusiawi dalam memperlakukan orang lain. Namun di saat yang sama, Qardhawi juga mengingatkan bahwa tindakan militan umat Islam bukan muncul dari keinginan mereka. Tindakan tersebut muncul akibat kemerdekaan mereka telah dirampas oleh para penguasa yang tidak memberikan ruang yang leluasa untuk menjalankan keyakinan mereka.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Qardhawi juga dikenal sebagai seorang ulama yang menolak pembagian ilmu secara dikotomis. Menurutnya, semua ilmu bisa Islami dan tidak Islami, tergantung kepada orang yang memandang dan mempergunakannya. Qardhawi memandang bahwa pemisahan ilmu secara dikotomis telah menghambat kemajuan umat Islam. Padahal, peradaban bisa melesat maju jika peradaban tersebut bisa menyerap sisi-sisi positif dari peradaban yang lebih maju dengan tanpa meninggalkan akar-akar pembangunan peradaban yang dianjurkan Islam.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14496674-114345236383547090?l=azhariora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azhariora.blogspot.com/feeds/114345236383547090/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14496674&amp;postID=114345236383547090' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/114345236383547090'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/114345236383547090'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azhariora.blogspot.com/2006/03/sedikit-tentang-yusuf-qardhawi.html' title='Sedikit Tentang Yusuf Qardhawi'/><author><name>Azhar Muhammad N.T</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02889361203577076864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i96.photobucket.com/albums/l192/azhariora/IMG_4398BLG.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14496674.post-114303110876204508</id><published>2006-03-22T04:29:00.000-08:00</published><updated>2006-03-22T04:38:28.763-08:00</updated><title type='text'>Tidak Ada Alasan Untuk Meninggalkan</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/2500/1297/1600/ATT129168.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/2500/1297/320/ATT129168.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/2500/1297/1600/ATT129165.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/2500/1297/320/ATT129165.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/2500/1297/1600/ATT129161.0.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/2500/1297/320/ATT129161.0.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/2500/1297/1600/ATT129160.0.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/2500/1297/320/ATT129160.0.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/2500/1297/1600/ATT129158.1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/2500/1297/320/ATT129158.1.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14496674-114303110876204508?l=azhariora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azhariora.blogspot.com/feeds/114303110876204508/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14496674&amp;postID=114303110876204508' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/114303110876204508'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/114303110876204508'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azhariora.blogspot.com/2006/03/tidak-ada-alasan-untuk-meninggalkan.html' title='Tidak Ada Alasan Untuk Meninggalkan'/><author><name>Azhar Muhammad N.T</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02889361203577076864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i96.photobucket.com/albums/l192/azhariora/IMG_4398BLG.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14496674.post-114198243272202776</id><published>2006-03-10T01:18:00.000-08:00</published><updated>2006-03-27T02:07:48.703-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;"Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada malaikat yang menjadi wakilnya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata 'aamin' dan engkaupun mendapatkan apa yang dia dapatkan"(HR Muslim)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14496674-114198243272202776?l=azhariora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azhariora.blogspot.com/feeds/114198243272202776/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14496674&amp;postID=114198243272202776' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/114198243272202776'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/114198243272202776'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azhariora.blogspot.com/2006/03/doa-seorang-muslim-untuk-saudaranya.html' title=''/><author><name>Azhar Muhammad N.T</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02889361203577076864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i96.photobucket.com/albums/l192/azhariora/IMG_4398BLG.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14496674.post-114141344295227131</id><published>2006-03-03T11:15:00.000-08:00</published><updated>2006-03-27T02:07:08.773-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Tujuh golongan yang akan berada di bawah naungan Allah pada hari dimana tak ada naungan kecuali naungan-Nya;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;1. Pemimpin yang adil&lt;br /&gt;2. Pemuda yang senantiasa beribadat kepada Allah semasa hidupnya&lt;br /&gt;3. Orang yang hatinya senantiasa terpaut pada masjid-masjid&lt;br /&gt;4. Dua orang yang saling mengasihi karena Allah, keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah&lt;br /&gt;5. Seorang lelaki yang diundang oleh seorang perempuan yang mempunyai kedudukan dan berparas cantik untuk melakukan kejahatan tetapi dia berkata, 'Aku takut kepada Allah'&lt;br /&gt;6. Seorang yang memberi sedekah tetapi dia merahasiakannya seolah-olah tangan kanan tidak tahu apa yang diberikan oleh tangan kirinya&lt;br /&gt;7. Seseorang yang mengingat Allah di waktu sunyi sehingga mengalirkan air mata dari kedua matanya&lt;br /&gt;(HR. Bukhari &amp; Muslim)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14496674-114141344295227131?l=azhariora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azhariora.blogspot.com/feeds/114141344295227131/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14496674&amp;postID=114141344295227131' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/114141344295227131'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/114141344295227131'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azhariora.blogspot.com/2006/03/tujuh-golongan-yang-akan-berada-di.html' title=''/><author><name>Azhar Muhammad N.T</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02889361203577076864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i96.photobucket.com/albums/l192/azhariora/IMG_4398BLG.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14496674.post-114129381526424193</id><published>2006-03-02T01:58:00.000-08:00</published><updated>2006-03-27T07:48:28.486-08:00</updated><title type='text'>Piala Afrika, Mesir, Sentimen, dan Al-Qur'an</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Ketika ditanya tim mana yang saya jagokan bakal jadi juara Piala Afrika 2006, saya bilang saya rela tim manapun jadi juara asal bukan Mesir. Alasan saya, saya bakal muak melihat gaya org2 Mesir membangga-banggakan kesuksesan timnya nanti. Saya nggak akan menyangkal jika ada yg ngecap saya terlalu sentimen, karena saya memang sentimen banget.&lt;/div&gt; &lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tapi perlahan harapan saya menguap bersamaan dengan tersingkirnya Tunisia di babak perempat final. Berdasarkan cerita yg saya dengar, Mesir selalu kesusahan melawan sesama tim Arab. Melawan Maroko saja, Mesir cuma bisa main imbang 0-0, hasil itu menambah panjang catatan kegagalan Mesir mengalahkan Maroko selama 20 tahun. Tunisia tersingkir, praktis cuma Mesir saja negara Arab yg masih bertahan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Partai semifinal Mesir melawan Senegal pun hanya membuat saya semakin 'kehilangan harapan'. Partai final saya saksikan lewat televisi di rumah famili Syeikh Abdurrahim di Luxor. Karena menonton di rumah org Mesir, maka dari awal saya sudah niatkan meskipun nanti Pantai Gading yg menang, saya nggak akan jingkrak2. Kenyataannya saya memang nggak berjingkrak2 malam itu, melainkan ucapan 'mabruk ya syeikh' yang keluar dr mulut saya. Mesir yg juara.&lt;/div&gt; &lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ada satu fenomena yang sangat berkesan dlm hati saya saat menonton partai final itu. Demi melihat Tarek Said (gelandang kiri Mesir yg malam itu tidak main alias jadi cadangan) memegang al-Quran dan berdoa pada saat adu penalti, saya langsung 'pasrah' bahwa malam itu akan jadi pestanya rakyat Mesir, begitu juga ketika kamera menyorot official Mesir yg membaca al-Quran. Saya nggak peduli dengan penilaian yg mengarah pada saya (mungkin saya dicap terlalu absurd), tapi yg jelas saya merasa bahwa fenomena itu paling tidak bisa menggugah kita, bahwa yg bisa kita lakukan untuk mencapai sebuah cita2 adalah berusaha maksimal dan berdoa, sementara masalah hasil 100% adalah Allah yang menentukan. Sukses yg diraih Mesir memang pantas diraih. Mereka tidak pernah kalah sebelum melaju ke final, dan perjalanan mereka juga bukan tanpa aral. Mental mereka diuji saat gol Amr Zaky dianulir, begitu pula saat Ahmad Hassan gagal mencetak gol lewat penalti hingga hasil tetap 0-0. Usaha maksimal sudah, mereka juga nggak lupa berdoa pada yg Maha Berkehendak.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14496674-114129381526424193?l=azhariora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azhariora.blogspot.com/feeds/114129381526424193/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14496674&amp;postID=114129381526424193' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/114129381526424193'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/114129381526424193'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azhariora.blogspot.com/2006/03/piala-afrika-mesir-sentimen-dan-al.html' title='Piala Afrika, Mesir, Sentimen, dan Al-Qur&apos;an'/><author><name>Azhar Muhammad N.T</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02889361203577076864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i96.photobucket.com/albums/l192/azhariora/IMG_4398BLG.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14496674.post-112810462041383954</id><published>2005-09-30T11:21:00.000-07:00</published><updated>2006-02-23T06:00:01.943-08:00</updated><title type='text'>Karena Waktu Tak Pernah Menunggu</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kehidupan adalah kesempatan untuk berbagi suka dan duka dengan orang yang kita sayangi&lt;?xml:namespace prefix = o /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan adalah kesempatan untuk mencintai orang tua, saudara, teman, pasangan, dan mengasihi sesama kita&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan adalah kesempatan untuk mengenal orang lain&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan adalah kesempatan untuk memahami karakter orang lain&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan adalah kesempatan untuk melayani setiap manusia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan adalah kesempatan untuk mencurahkan potensi diri kita bagi orang lain&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan adalah kesempatan untuk bekerja sama dengan orang lain&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan adalah kesempatan untuk belajar dan terus belajar tentang arti kehidupan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan adalah kesempatan untuk berkaca dari kesalahan dan memperbaiki diri&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan adalah kesempatan untuk berusaha mewujudkan angan dan cita&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan adalah kesempatan untuk mengisi hari dengan perbuatan yang bermanfaat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan adalah kesempatan untuk mencintai dan dicintai&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan adalah kesempatan untuk belajar apa saja, dimana saja, dan dari siapa saja&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan adalah kesempatan untuk mengambil hikmah dari apa yang dialami&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan adalah kesempatan untuk menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan adalah kesempatan untuk bertaubat kepada-Nya atas segala dosa yang pernah diperbuat&lt;span style="font-size:+0;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan adalah kesempatan untuk selalu bersyukur kepada-Nya atas segala nikmat yang diberikan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan adalah kesempatan untuk.....?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kehidupan ini terlalu singkat untuk dilewatkan dengan pekerjaan yang sia-sia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan ini terlalu singkat untuk dilewatkan dengan selalu berburuk sangka&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan ini terlalu singkat untuk dilewatkan dengan membenci orang lain&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan ini terlalu singkat untuk dilewatkan hanya dengan bermimpi dan berkhayal&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan ini terlalu singkat untuk dilewatkan dengan putus asa berkepanjangan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan ini terlalu singkat untuk dilewatkan dengan marah-marah tanpa sebab&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan ini terlalu singkat untuk dilewatkan dengan kesedihan tak berujung&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan ini terlalu singkat untuk dilewatkan dengan penyesalan tak berarti&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan ini terlalu singkat untuk dilewatkan tanpa kedamaian di hati&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan ini terlalu singkat untuk dilewatkan bersama pilihan yang salah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan ini terlalu singkat untuk dilewatkan dengan kesendirian&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan ini terlalu singkat untuk.....?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14496674-112810462041383954?l=azhariora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azhariora.blogspot.com/feeds/112810462041383954/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14496674&amp;postID=112810462041383954' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/112810462041383954'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/112810462041383954'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azhariora.blogspot.com/2005/09/karena-waktu-tak-pernah-menunggu.html' title='Karena Waktu Tak Pernah Menunggu'/><author><name>Azhar Muhammad N.T</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02889361203577076864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i96.photobucket.com/albums/l192/azhariora/IMG_4398BLG.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14496674.post-112758783280850536</id><published>2005-09-24T11:49:00.000-07:00</published><updated>2005-09-24T11:50:44.100-07:00</updated><title type='text'>Lebih Cantik, Manis, dan Sulit</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Suatu hari Rasulullah Saw beserta para sahabatnya yaitu Abu Bakar ash-Shiddiq Ra, Umar bin Khattab Ra, Utsman bin Affan Ra, dan Ali bin Abi Thalib Ra berkumpul di rumah Ali Ra. Saat itu istri Ali yaitu Fatimah binti Rasulullah Saw menghidangkan madu dalam sebuah mangkuk cantik. Pada saat madu dihidangkan, ternyata ada sehelai rambut di sana. Rasulullah Saw lalu meminta para sahabatnya tadi untuk membuat perbandingan dari ketiga benda tersebut (mangkuk cantik, madu, dan rambut).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Bakar Ra berkata, “Iman itu lebih cantik dari mangkuk cantik ini, orang yang beriman lebih manis dari madu, dan mempertahankan keimanan itu lebih susah daripada meniti sehelai rambut”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar bin Khattab Ra berkata, “Kerajaan itu lebih cantik dari mangkuk cantik ini, seorang raja itu lebih manis dari madu, dan memerintah dengan adil itu lebih sulit daripada meniti sehelai rambut”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Utsman bin Affan Ra berkata, “Ilmu itu lebih cantik dari mangkuk cantik ini, seorang yang menuntut ilmu itu lebih manis dari madu, dan beramal dengan ilmu yang dimiliki itu lebih sulit daripada meniti sehelai rambut”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fatimah binti Rasulullah Saw berkata, “Seorang wanita itu lebih cantik dari mangkuk cantik ini, wanita yang ber-&lt;em&gt;purdah&lt;/em&gt; itu lebih manis dari madu, dan mendapatkan wanita yang tidak pernah dilihat kecuali oleh muhrimnya itu lebih susah daripada meniti sehelai rambut”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Saw berkata, “Seorang yang mendapat taufiq untuk beramal itu lebih cantik dari mangkuk cantik ini, beramal dengan amal yang baik itu lebih manis dari madu, dan beramal dengan ikhlas itu lebih susah daripada meniti sehelai rambut”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malaikat Jibril As berkata, “Menegakkan pilar-pilar agama itu lebih cantik dari mangkuk cantik ini, menyerahkan diri, harta, dan waktu untuk agama adalah lebih manis dari madu, dan mempertahankan usaha agama hingga akhir hayat itu lebih sulit daripada meniti sehelai rambut”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Swt berfirman, “Surga-Ku lebih cantik dari mangkuk cantik itu, nikmat surga-Ku lebih manis dari madu, dan jalan menuju surga-Ku itu lebih susah daripada meniti sehelai rambut”.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14496674-112758783280850536?l=azhariora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azhariora.blogspot.com/feeds/112758783280850536/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14496674&amp;postID=112758783280850536' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/112758783280850536'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/112758783280850536'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azhariora.blogspot.com/2005/09/lebih-cantik-manis-dan-sulit.html' title='Lebih Cantik, Manis, dan Sulit'/><author><name>Azhar Muhammad N.T</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02889361203577076864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i96.photobucket.com/albums/l192/azhariora/IMG_4398BLG.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14496674.post-112742646341209651</id><published>2005-09-22T14:59:00.000-07:00</published><updated>2005-09-22T15:03:15.946-07:00</updated><title type='text'>Proses</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Alhamdulillaah,&lt;/span&gt; akhirnya perutku terisi juga. Itulah nikmatnya makan kalo emang lapar banget. Sama dengan nikmatnya minum kalo udah haus banget. Atau nikmatnya tidur kalo udah capek dan ngantuk banget. Ada satu hal yang mengusik hatiku saat kuingat-ingat bahwa sebelumnya aku menahan rasa lapar cukup lama. Lalu aku berpikir untuk turun saja dan beli makanan siap santap. Cuma setelah dipikir-pikir, mendingan masak aja deh. Kutuangkan beras ke dalam rice cooker, kusiapkan bumbu-bumbu, dan kugoreng beberapa ekor ikan. Selang kurang lebih satu jam, aku dan kawan-kawan serumahpun bisa makan malam. Apa yang mengusik hatiku itu? Prosesnya. Ya, proses masaknya itu. Kadang-kadang kita terlalu menginginkan sesuatu serba cepat, langsung dapat hasilnya. Kita kurang menghargai proses untuk meraih hasil yang kita harapkan. Memang sih, pada saat-saat tertentu kita butuh sesuatu atau melakukan sesuatu dengan cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutku, ada banyak hal positif yang akan kita dapatkan jika kita membiasakan diri untuk menghargai sebuah proses. Diantaranya adalah kita akan menyadari bahwa tak ada hasil yang diraih tanpa sebuah usaha. Jangan harap kita akan pintar tanpa pernah belajar. Jangan harap kita akan punya duit tanpa pernah mencarinya. Jangan harap kita akan masuk surga tanpa pernah melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Jangan harap kita akan kenyang tanpa makan (hehe..). Kita bisa belajar dari orang-orang yang kiprahnya ikut mewarnai perjalanan sejarah kehidupan manusia. Tentu bukan tanpa alasan ketika Usamah bin Zaid yang waktu itu baru berusia 18 tahun ditunjuk oleh Rasulullah SAW sebagai panglima perang dalam penyerbuan ke wilayah Syam yang ada di bawah kekuasaan Romawi. Beliau memang ahli strategi perang. Nah, keahlian itu tidak datang dengan tiba-tiba. Wright bersaudara harus melakukan penghitungan berkali-kali sebelum akhirnya bisa membuat pesawat terbang walaupun bentuknya masih sangat sederhana. Thomas Alfa Edison juga tidak ujug-ujug bisa membuat bola lampu. Ibnu Sina belajar bertahun-tahun sebelum bisa menguasai ilmu kedokteran. David Beckham harus rela berlatih bertahun-tahun sebelum mengalami masa keemasannya dalam dunia sepakbola. Saya masih ingat dengan kata-kata ini, ‘jangan lihat hasil yang didapat orang itu, tapi amatilah usaha yang ia lakukan sampai bisa menjadi seperti itu’. Ya, yang harus kita lihat benar-benar adalah usahanya atau prosesnya. Masalah hasil, kita tawakal saja dengan ketentuan Allah. Yang penting kita sudah berusaha semaksimal mungkin dan jangan sampai tidak ada usaha sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menjadi masalah bukan apakah kita bisa melalui proses itu atau tidak, tapi apakah kita sudah mencoba atau belum. Kita tidak akan tahu seberapa mudah atau sulitnya proses itu bila tidak memulainya dan mencobanya. Ketika proses itu terasa mudah, mungkin tak jadi masalah. Nah, kalo ternyata sulit? Di sinilah kita bisa melatih kesabaran kita. Jangan sampai putus asa di tengah jalan. Ratusan tahun nabi Nuh AS mengajak umatnya untuk mengikuti jalan Allah, namun yang ikut tidak seberapa. Bahkan anggota keluarganya ada yang ikut menentangnya. Cukup lama nabi Ibrahim AS berdakwah menentang berhala dan mengajak kaumnya beriman pada Allah, namun yang ikut hanya istrinya. Dakwah nabi Muhammad SAW juga diwarnai dengan tetesan darah sebelum Islam bisa berkembang seperti sekarang. Yang ada di sana bukan hanya mimpi atau khayalan. Ada usaha keras di sana, dan ada kesabaran di dalamnya. Hasil tidak akan bisa diraih hanya dengan mimpi dan berkhayal, melainkan dengan usaha nyata.&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Wallaahu a’lam bish shawaab&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14496674-112742646341209651?l=azhariora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azhariora.blogspot.com/feeds/112742646341209651/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14496674&amp;postID=112742646341209651' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/112742646341209651'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/112742646341209651'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azhariora.blogspot.com/2005/09/proses_22.html' title='Proses'/><author><name>Azhar Muhammad N.T</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02889361203577076864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i96.photobucket.com/albums/l192/azhariora/IMG_4398BLG.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14496674.post-112738955924034873</id><published>2005-09-22T04:36:00.000-07:00</published><updated>2005-09-22T14:48:07.836-07:00</updated><title type='text'>Belum Berubah</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Apanya yang belum berubah? Aku. Ya, ternyata aku belum bisa berubah. Berubah jadi apa? Yang jelas bukan jadi Spiderman, atau yang sejenisnya. Aku belum bisa berubah untuk jadi orang yang lebih penyabar. Aku masih gampang nyolot. Nyolot? Apaan tuh? Kalo gak salah nyolot itu maksudnya marah, maklum di kamus bahasa jawa nggak ada kosa kata nyolot. Artinya aku masih gampang marah. Padahal dari dulu aku mencoba untuk menghilangkan penyakitku yang sudah kronis ini. Atau jangan-jangan karena saking kronisnya jadi susah dihilangkan ya?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kadang perasaanku tersayat-sayat kalau ingat bahwa sampai sekarang sudah dua puluh tiga tahun aku menghirup nafas di dunia ini, tapi masih saja belum bisa menghilangkan &lt;em&gt;childish&lt;/em&gt; dalam diriku, dan belum bisa bersikap dengan dewasa secara sepenuhnya. Padahal yang aku tau, orang yang dewasa itu bisa bersikap dengan lebih bijak, nggak langsung main labrak sana sini. Bisa jaga omongan, jaga perilaku, menghargai perasaan orang lain, dan sebagainya. Aku ingin jadi seperti itu&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ada satu hal yang sangat kutakuti akan terjadi pada diriku. Yaitu menjadi semakin tua tanpa pernah menjadi dewasa. Parah kan kalo secara fisik bisa dibilang sudah dewasa tapi perilakunya masih kaya anak kecil? Nah, itu yang aku nggak mau.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Rabb...&lt;br /&gt;Mataku yang jelalatan...&lt;br /&gt;Mulutku yang menyebalkan...&lt;br /&gt;Waktuku yang kuatur serampangan...&lt;br /&gt;Emosiku yang mudah terpancing...&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Rabb...&lt;br /&gt;Aku benar-benar ingin berubah...&lt;br /&gt;Bantu aku ya...&lt;br /&gt;Please... &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14496674-112738955924034873?l=azhariora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azhariora.blogspot.com/feeds/112738955924034873/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14496674&amp;postID=112738955924034873' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/112738955924034873'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/112738955924034873'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azhariora.blogspot.com/2005/09/belum-berubah.html' title='Belum Berubah'/><author><name>Azhar Muhammad N.T</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02889361203577076864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i96.photobucket.com/albums/l192/azhariora/IMG_4398BLG.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14496674.post-112706954499164918</id><published>2005-09-18T11:52:00.000-07:00</published><updated>2005-09-18T11:52:24.996-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href='http://photos1.blogger.com/img/43/7015/640/raka1.jpg'&gt;&lt;img border='0' style='border:1px solid #000000; margin:2px' src='http://photos1.blogger.com/img/43/7015/320/raka1.jpg'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Million Dollar Baby&amp;nbsp;&lt;a href='http://picasa.google.com/blogger/' target='ext'&gt;&lt;img src='http://photos1.blogger.com/pbp.gif' alt='Posted by Picasa' border='0' style='border:0px;padding:0px;background:transparent;' align='absmiddle'&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14496674-112706954499164918?l=azhariora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azhariora.blogspot.com/feeds/112706954499164918/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14496674&amp;postID=112706954499164918' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/112706954499164918'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/112706954499164918'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azhariora.blogspot.com/2005/09/million-dollar-baby_18.html' title=''/><author><name>Azhar Muhammad N.T</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02889361203577076864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i96.photobucket.com/albums/l192/azhariora/IMG_4398BLG.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14496674.post-112672246834189613</id><published>2005-09-14T11:27:00.000-07:00</published><updated>2005-09-14T11:27:48.353-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href='http://photos1.blogger.com/img/43/7015/640/002mor500.jpg'&gt;&lt;img border='0' style='border:1px solid #000000; margin:2px' src='http://photos1.blogger.com/img/43/7015/320/002mor500.jpg'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Andaikan jiwa besar yang dimiliki burung ini ada dalam diri kita...&amp;nbsp;&lt;a href='http://picasa.google.com/blogger/' target='ext'&gt;&lt;img src='http://photos1.blogger.com/pbp.gif' alt='Posted by Picasa' border='0' style='border:0px;padding:0px;background:transparent;' align='absmiddle'&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14496674-112672246834189613?l=azhariora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azhariora.blogspot.com/feeds/112672246834189613/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14496674&amp;postID=112672246834189613' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/112672246834189613'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/112672246834189613'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azhariora.blogspot.com/2005/09/andaikan-jiwa-besar-yang-dimiliki.html' title=''/><author><name>Azhar Muhammad N.T</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02889361203577076864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i96.photobucket.com/albums/l192/azhariora/IMG_4398BLG.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14496674.post-112672223806003290</id><published>2005-09-14T11:23:00.000-07:00</published><updated>2005-09-14T11:23:58.066-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href='http://photos1.blogger.com/img/43/7015/640/akuaikan.jpg'&gt;&lt;img border='0' style='border:1px solid #000000; margin:2px' src='http://photos1.blogger.com/img/43/7015/320/akuaikan.jpg'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tanda kuatnya cinta dan kasih sayang. Satu menderita, yang lain ikut merana.&amp;nbsp;&lt;a href='http://picasa.google.com/blogger/' target='ext'&gt;&lt;img src='http://photos1.blogger.com/pbp.gif' alt='Posted by Picasa' border='0' style='border:0px;padding:0px;background:transparent;' align='absmiddle'&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14496674-112672223806003290?l=azhariora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azhariora.blogspot.com/feeds/112672223806003290/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14496674&amp;postID=112672223806003290' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/112672223806003290'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/112672223806003290'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azhariora.blogspot.com/2005/09/tanda-kuatnya-cinta-dan-kasih-sayang.html' title=''/><author><name>Azhar Muhammad N.T</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02889361203577076864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i96.photobucket.com/albums/l192/azhariora/IMG_4398BLG.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14496674.post-112672155268590530</id><published>2005-09-14T11:12:00.000-07:00</published><updated>2005-09-14T11:12:32.726-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href='http://photos1.blogger.com/img/43/7015/640/Q0351.jpg'&gt;&lt;img border='0' style='border:1px solid #000000; margin:2px' src='http://photos1.blogger.com/img/43/7015/320/Q0351.jpg'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ini dia masjid yang keutamaannya menduduki peringkat ketiga setelah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi&amp;nbsp;&lt;a href='http://picasa.google.com/blogger/' target='ext'&gt;&lt;img src='http://photos1.blogger.com/pbp.gif' alt='Posted by Picasa' border='0' style='border:0px;padding:0px;background:transparent;' align='absmiddle'&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14496674-112672155268590530?l=azhariora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azhariora.blogspot.com/feeds/112672155268590530/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14496674&amp;postID=112672155268590530' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/112672155268590530'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/112672155268590530'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azhariora.blogspot.com/2005/09/ini-dia-masjid-yang-keutamaannya.html' title=''/><author><name>Azhar Muhammad N.T</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02889361203577076864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i96.photobucket.com/albums/l192/azhariora/IMG_4398BLG.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14496674.post-112618679706231833</id><published>2005-09-08T06:36:00.000-07:00</published><updated>2005-09-08T06:39:57.070-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Mata adalah penuntun, sementara hati adalah pendorong dan penuntut. Mata memiliki kenikmatan pandangan, sementara hati memiliki kenikmatan pencapaian. Keduanya merupakan sekutu yang mesra dalam setiap tindakan dan amal perbuatan manusia, serta tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lain.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14496674-112618679706231833?l=azhariora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azhariora.blogspot.com/feeds/112618679706231833/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14496674&amp;postID=112618679706231833' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/112618679706231833'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/112618679706231833'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azhariora.blogspot.com/2005/09/mata-adalah-penuntun-sementara-hati.html' title=''/><author><name>Azhar Muhammad N.T</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02889361203577076864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i96.photobucket.com/albums/l192/azhariora/IMG_4398BLG.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14496674.post-112604082109302184</id><published>2005-09-06T13:58:00.000-07:00</published><updated>2005-09-27T04:45:33.696-07:00</updated><title type='text'>Belajar Apa Saja, Dimana Saja, Dari Siapa Saja</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Belajar atau menuntut ilmu, adalah amalan yang mendapat perhatian sangat besar dalam agama kita. Kita semua tentu tahu bahwa wahyu yang pertama kali diturunkan Allah pada nabi Muhammad Saw adalah ayat tentang belajar. Udah hapal kan ayatnya? Selain wahyu pertama tadi, ada juga ayat 11 dari surat al-Mujaadilah yang menerangkan bahwa Allah akan meninggikan derajat orang yang beriman dan berilmu. Lalu ada juga sabda Rasulullah Saw,&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Apabila Allah menginginkan kebaikan bagi seseorang maka dia diberi pendalaman dalam ilmu agama. Sesungguhnya memperoleh ilmu hanya dengan belajar". (HR Bukhari)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ada perkataan Imam Syafii,&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Sesungguhnya kehidupan pemuda itu, demi Allah hanya dengan ilmu dan takwa (memiliki ilmu dan bertakwa), karena apabila yang dua hal itu tidak ada, tidak dianggap hadir (dalam kehidupan)."&lt;/em&gt; Nah, untuk menjadi berilmu itu syaratnya ya harus belajar.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Belajar itu punya manfaat yang sangat besar. Dengan belajar kita bisa jadi cerdas dan wawasan kita akan bertambah luas. Toh kita juga dikaruniai otak yang bisa menampung memori melebihi hardisk di komputer kita. Mengapa nikmat yang super besar ini tidak kita manfaatkan? Beberapa tokoh berpendapat bahwa otak kita memang mampu menyimpan memori dengan kapasitas sangat besar. Mau bukti? Ada diantara kita yang mampu menghapal al-Qur’an 30 juz kan? Hebat ya? Banyak diantara para sahabat yang lihai memainkan pedang dan jago menunggang kuda. Ada juga diantara kita yang pintar matematika, fisika, de el el. Mereka itu nggak ujug-ujug bisa kaya’ gitu, melainkan lewat proses belajar. Kenal sama Linkin Park? Salah satu lagunya, yaitu yang berjudul Breaking The Habit dibuat selama kurang lebih 6 tahun, bukan 6 hari!! Emang ngapain aja? Yang jelas terus belajar dan berusaha bagaimana mengembangkan lirik lagunya hingga jadi. Jadi memang tidak ada alasan bagi kita untuk tidak belajar. Yang jadi masalah bukan apakah kita punya IQ tinggi atau rendah juga bukan apakah kita pintar atau bego, tapi apakah kita mau atau tidak dan sudah dimulai atau belum.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Menjelang kepulangannya ke Indonesia, seorang kakak kelas menceritakan pengalamannya saat ia berbincang dengan seorang sopir taksi. Waktu itu sopir taksi ini berkata, "Saudaraku, kamu jangan terlalu kasihan karena aku tidak bersekolah. Sebab aku bisa belajar dari dunia, sesungguhnya dunia itu mengajarkan banyak hal kepada orang yang tidak belajar". Aku lupa kapan persisnya ketika aku pertama kali mendengar seseorang berkata bahwa manusia bisa belajar di mana saja. Yang pasti, aku termasuk orang yang sangat meyakini bahwa kita memang kita bisa belajar di mana saja. Di lembaga formal seperti sekolah, kuliah, atau majlis ta’lim, kita dapat mempelajari berbagai macam ilmu seperti fikih, filsafat, ekonomi, dan sebagainya. Di pasar, kita bisa belajar tentang bagaimana cara berinteraksi yang baik dengan para konsumen. Di jalanan, kita bisa belajar bagaimana meningkatkan kepedulian sosial kita. Dari setiap masalah yang kita hadapi baik kecil maupun besar, kitapun bisa mengambil sebuah pelajaran.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Semua hal yang kita dapati dalam kehidupan ini, bisa memberikan pelajaran berharga pada kita mulai dari yang paling sederhana hingga yang paling rumit sekalipun. Semua makhluk ciptaan Allah, baik manusia, hewan, atau tumbuhan sekalipun, bisa memberikan pelajaran berharga pada kita. Dari hewan seperti lebah madu misalnya, kita bisa belajar bagaimana menjadikan diri kita bermanfaat bagi yang lain. Pelajaran yang sama bisa kita peroleh dari tumbuhan seperti pohon kelapa. Kita tau kan kalo pohon kelapa itu dari batang, daun, hingga buahnya bisa dimanfaatkan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Hingga detik inipun aku juga mencoba untuk selalu mengambil pelajaran -meskipun sedikit- dari interaksiku dengan kawan-kawanku. Dari tingkah lakunya, sikapnya, hal-hal yang pernah diceritakannya, dan sebagainya. Ada banyak hal positif yang aku ambil dari situ. Aku punya senior yang sebentar lagi akan menyelesaikan studinya, darinya aku belajar bagaimana menjadi orang yang tekun, yang selalu istiqomah dalam menjaga semangatnya agar jangan sampai luntur. Aku punya dua orang teman perempuan yang diberi cobaan berupa &lt;em&gt;rosib&lt;/em&gt; (harus mengulang kuliah di tingkat yang sama) sampai tiga kali hingga harus pindah fakultas. Dari mereka aku belajar tentang kesabaran, semangat tinggi untuk terus berusaha, dan tidak menyerah dengan apa yang dihadapi. Mereka akhirnya berhasil juga naik ke tingkat selanjutnya. Aku punya adik kelas, dia ini anaknya sangat kreatif, energik, alim, dan rajin juga. Kadang-kadang aku malu bila melihat hasil karya yang dihasilkannya dan kubandingkan dengan apa yang kuhasilkan selama ini. Darinya aku belajar bagaimana menggunakan kemampuan yang ada dalam diriku. Karena banyak kesulitan muncul dari kemampuan yang tidak digunakan (meminjam perkataan temanku). Itu hanya beberapa diantara sekian banyak pelajaran yang bisa kuambil dari pergaulanku dengan kawan-kawanku. Dari mereka aku belajar tentang bagaimana mengemban amanat dengan baik, tentang bagaimana menjaga kepercayaan yang diberikan, karena kepercayaan itu tidak bisa dibuat tetapi dilahirkan, kadang butuh waktu bertahun-tahun untuk membangun kepercayaan namun hanya sedetik saja untuk menghancurkannya. Dari mereka aku belajar tentang kedewasaan, bagaimana menjadi orang penyabar dan pandai menjaga emosi. Dari mereka aku belajar banyak hal. Intinya nih, kalau mau sebenarnya kita bisa belajar apa saja, dari siapa saja, dan di mana saja. Kata Imam Syafii, carilah ilmu seperti halnya seorang ibu yang kehilangan anak perawannya. Maksudnya dicari terus sampai dapat gitu loh...&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;(Taman Langit, 6 September 2005)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14496674-112604082109302184?l=azhariora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azhariora.blogspot.com/feeds/112604082109302184/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14496674&amp;postID=112604082109302184' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/112604082109302184'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/112604082109302184'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azhariora.blogspot.com/2005/09/belajar-apa-saja-dimana-saja-dari.html' title='Belajar Apa Saja, Dimana Saja, Dari Siapa Saja'/><author><name>Azhar Muhammad N.T</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02889361203577076864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i96.photobucket.com/albums/l192/azhariora/IMG_4398BLG.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14496674.post-112604024267528037</id><published>2005-09-06T13:48:00.000-07:00</published><updated>2005-09-06T13:57:22.683-07:00</updated><title type='text'>Sekedar Tips</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Kita tentu punya cara sendiri untuk selalu belajar dalam hidup ini. Itu akan menjadi patokan buat kita dalam melangkah. Intinya sih, jangan malu dan malas untuk belajar. Oke deh, nih ada sedikit tips buat kita-kita;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;1. Jangan cepat puas.&lt;/strong&gt; Perasaan cepat puas dalam diri kita kudu segera dikubur dalam-dalam. Nggak baik cepat puas ketika belajar. Jangan sampe baru bisa belajar di level 2 (dalam skala 10) kita udah merasa cukup puas. Lalu malas belajar. Dalam urusan yang lain, cepat puas boleh-boleh saja kok. Misalnya, udah puas bisa meraih kekayaan materi. Tapi dalam mencari ilmu, jangan cepat puas dengan hasil yang udah kita dapet. Cari terus sebanyak-banyaknya. Yup, belajar tak pernah henti. Terus belajar sampai mati.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;2.Meluangkan waktu lebih banyak untuk belajar.&lt;/strong&gt; Ini perlu banget. Untuk kesuksesan kita juga kok. Konon kabarnya Bill Gates saja, untuk bisa membangun kerajaan bisnis Microsoft, pergi jam 6 pagi dan pulang jam 2 dinihari. Ia melakukan riset dan belajar serta mengembangkan program-program andalan yang kelak bisa dinikmati masyarakat dunia. Sekarang, selain pinter, jumlah kekayaannya setara dengan jumlah total kekayaan dari seperempat jumlah total penduduk Amerika (jumlah penduduk Amerika pada tahun 2004 aja, adalah sekitar 280 juta jiwa. Wow!). Tahun 2005 ini dia kembali jadi juragan terkaya di dunia. Jadi, luangkan waktu lebih banyak untuk belajar. Jujur saja, waktu 24 jam dalam sehari tiap orang sama. Allah memberikan sama kepada setiap orang. Mereka yang berhasil dan sukses biasanya yang pandai memanfaatkan waktunya. Ada yang memanfaatkan waktu luang dengan santai, ada yang malah belajar. Jadi, yang membedakan mereka yang sukses dengan yang gagal salah satunya adalah dalam memanfaatkan waktunya. Betul ndak?&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;3.Otak kita jangan terlalu diforsir.&lt;/strong&gt; Meski memiliki kapasitas penyimpanan memori yang besar, tapi perlakukan otak kita dengan baik. Jangan forsir dengan terus-menerus. Biarkan beberapa waktu otak kita melakukan relaksasi dan pelemasan. Hibur dengan berbagai aktivitas yang menyegarkan dan menyenangkan. Misalnya dalam liburan ini kita ajak otak untuk jalan-jalan menikmati keindahan alam atau berpikir untuk yang ringan dulu. Tapi jangan kebanyakan waktu nyantai dan ringannya, khawatir nanti otak kita merasa terbiasa nyantai dan malah susah lagi untuk diajak belajar. Kan parah tuh. Jadi, sewajarnya saja.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;4.Manfaatkan kesempatan sebaik mungkin.&lt;/strong&gt; Kata pepatah, kesempatan cuma datang sekali. Jadi, bersiaplah untuk menyambutnya. Lakukan sekarang juga, jangan tunggu esok. Saat ini, ketika masih muda, kesempatan itu segera manfaatkan untuk belajar. Jangan tunggu hari esok, apalagi kalo udah tua, selain susah mengingat, juga cepat lelah tenaga. Nggak mau kan kita kaya’ gitu? Belajar tuh kapan aja, di mana saja, dan kepada siapa aja. Kalo ada kesempatan, langsung deh manfaatkan. Oke?&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;5.Pelajari, pahami, dan amalkan.&lt;/strong&gt; Nah, ini penting juga. Nggak cuma belajar doang, tapi setelah dipahami kudu diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Buat kita, dan juga buat orang lain. Jadi memang kudu didakwahkan. Soalnya memang sayang banget, kita udah banyak tahu selama belajar, kita juga udah paham luar-dalam, tapi nggak disampaikan lagi ke orang lain. Aku pernah diajari di Mts dulu bahwa ilmu tanpa diamalkan, seperti pohon yang nggak ada buahnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;(Dari bulletin STUDIA Edisi 249/Tahun ke-6, 20 Juni 2005. Diubah dikit-dikit)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14496674-112604024267528037?l=azhariora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azhariora.blogspot.com/feeds/112604024267528037/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14496674&amp;postID=112604024267528037' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/112604024267528037'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/112604024267528037'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azhariora.blogspot.com/2005/09/sekedar-tips.html' title='Sekedar Tips'/><author><name>Azhar Muhammad N.T</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02889361203577076864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i96.photobucket.com/albums/l192/azhariora/IMG_4398BLG.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14496674.post-112595336396698274</id><published>2005-09-05T13:41:00.000-07:00</published><updated>2005-09-07T03:31:00.550-07:00</updated><title type='text'>Bersyukur</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Kuputar langkahku berbalik dari arah jalanku semula. Untung belum jauh aku meninggalkan masjid Azhar. Aku lupa kalau tadi berniat setelah mengambil &lt;em&gt;minhah&lt;/em&gt; aku akan membeli buku di &lt;em&gt;maktabah&lt;/em&gt; Daarussalaam. Mumpung ada diskon 60%. Sambil berjalan di trotoar aku membalas SMS yang baru saja dikirim oleh ibundaku. Aku katakan bahwa aku baru saja mengambil &lt;em&gt;minhah&lt;/em&gt;, beliau membalas lagi untuk memberi selamat sambil berpesan agar uangnya ditabung. Sambil tersenyum aku membalas lagi bahwa aku sudah ada di toko buku. Setelah keluar dari toko SMS ibuku datang lagi,’jangan dihabisin loh’. Sekali lagi aku tersenyum, lalu kukatakan bahwa aku baru saja bayar 67 pon dapat 2 jilid.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kulangkahkan kakiku menuju tempat aku biasa menunggu bis. Di bawah panas aku menahan lapar, maklum sejak pagi belum makan sementara jam menunjukkan pukul 2 siang. Alhamdulillah bisnya langsung datang dan masih banyak kursi yang kosong. Aku naik dari pintu depan dan kulihat ada si Abu kawanku yang lebih dulu masuk. Aku langsung duduk disampingnya.&lt;br /&gt;"Beli buku apa Zhar?" Tanyanya padaku&lt;br /&gt;"Cuma buku cerita"&lt;br /&gt;"Buku cerita kok tebel gitu?"&lt;br /&gt;Kusodorkan buku itu padanya. Dia melihat-lihat sebentar.&lt;br /&gt;"Oo, al Futuuhaat al Islamiyah ya? 2 jilid ya?&lt;br /&gt;"Iya, mumpung ada diskon 60% khusus untuk buku terbitan Daarul Basyair ini"&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dalam perjalanan pulang itu kami saling berbagi cerita-cerita ringan. Maklum, aku dan dia juga jarang ketemu. Rupanya dia sedang sedih hari itu, karena tidak berhasil mendapatkan hasil tes darah sebagai persyaratan dalam pendaftaran S2 di al Azhar. Dia di&lt;em&gt;bukroh&lt;/em&gt; gara-gara terlambat 10 menit. Itu berarti keesokan harinya ia harus datang lagi ke rumah sakit. Yang membuat dia agak khawatir adalah ujian penerimaan S2 akan dilaksanakan hari itu juga. Aku tidak banyak berkata-kata menanggapi keluhannya, melainkan hanya tersenyum. Entah siapa yang memulai, setelah itu kami mengganti topik pembicaraan. Aku bertanya kenapa dia tidak pulang ke Indonesia dulu, mumpung ada fasilitas tiket gratis yang diperuntukkan bagi penerima beasiswa dari Depag seperti dia. Dia bertanya bagaimana kabar kawan-kawanku yang baru saja pindah rumah. Dia cerita tentang obrolannya dengan temannya di Indonesia, katanya harga barang jadi mahal.&lt;br /&gt;"Tomat 2 butir 1000 rupiah. Kentang sekilo 9000. Beras sekilo 6500. Itu baru di Palembang, di Jakarta kaya’ apa?"&lt;br /&gt;Demikianlah kami saling bertukar cerita di bis siang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kembali pada kisah sedihnya hari itu, sebenarnya aku juga tidak terlalu puas dengan apa yang terjadi siang itu. Usahaku untuk mengurusi proses &lt;em&gt;tahwil&lt;/em&gt; (pindah fakultas) kawanku tidak berhasil. Permohonanku ditolak dan aku kecewa. Setelah bertemu dengan Abu di bis, aku lalu sadar bahwa aku tidak sendiri. Ternyata salah satu saudaraku ada yang bernasib hampir sama denganku. Bahkan apa yang kualami bisa dibilang tidak lebih buruk dari apa yang dialami Abu. Gagal mengurusi &lt;em&gt;tahwil&lt;/em&gt; kawanku, toh aku masih bisa mengambil &lt;em&gt;minhah&lt;/em&gt; dan membeli buku, dapat diskon pula.&lt;br /&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aku teringat dengan isi artikel pada sebuah situs yang dikirim oleh seorang tenaga kerja di Brunei. Ketika dia menceritakan permasalahan yang dialaminya pada salah seorang sahabatnya sesama tenaga kerja, dia mendapati bahwa ternyata sahabatnya mengalami masalah yang jauh lebih berat dari apa yang dialaminya. Kisah sahabatnya ini mengajarinya agar ia lebih banyak untuk menunduk. Menunduk dalam arti banyak-banyak memandang ke bawah. Ternyata pada saat kita mengalami masalah berat, ada kawan atau sahabat kita yang sedang mengalami yang lebih berat dari kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bersyukur, adalah sesuatu yang sama sekali tidak boleh kita abaikan. Seberat apapun masalah yang kita hadapi, kita tetap harus bersyukur karena masih ada nikmat-nikmat yang masih bisa dirasakan. Nikmat itu tidak harus dalam wujud materi. Kita dianugerahi akal untuk berpikir, kita diberi hati, kita dikaruniai mata, telinga, dan indera yang lain. Itu juga merupakan nikmat. Kita masih diberi kesempatan untuk bernafaspun adalah salah satu nikmat terbesar dari-Nya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;(Taman Langit, 5 September 2005)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14496674-112595336396698274?l=azhariora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azhariora.blogspot.com/feeds/112595336396698274/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14496674&amp;postID=112595336396698274' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/112595336396698274'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/112595336396698274'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azhariora.blogspot.com/2005/09/bersyukur.html' title='Bersyukur'/><author><name>Azhar Muhammad N.T</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02889361203577076864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i96.photobucket.com/albums/l192/azhariora/IMG_4398BLG.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14496674.post-112543508621284278</id><published>2005-08-30T13:46:00.000-07:00</published><updated>2005-08-30T13:51:26.220-07:00</updated><title type='text'>Suatu Waktu Saat Orang-orang Tak Bisa Berhenti Membicarakanmu</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Bila dibandingkan dengan yang lain, kau memang unggul segala-galanya. Yang aku tau, begitulah pikiran orang-orang di sini. Aku juga termasuk yang menilai bahwa kau memang punya kelebihan tersendiri dibandingkan yang lain. Kehadiranmu di sini telah memberi warna tersendiri dalam kehidupan sebagian orang. Mereka seakan-akan melihat barang langka yang sangat tinggi harganya. Maka tak heran banyak yang tertarik untuk merengkuhmu. Laksana bunga mawar yang indah merekah, sehingga menarik kumbang-kumbang untuk mendekatinya. Perumpamaan ini kupikir juga berlaku padamu. Sampai detik ini, sudah tak terhitung berapa kali aku mendapati sebagian orang menjadikanmu sebagai topik khusus dalam perbincangan mereka. Hingga suatu waktu, dalam sadar aku sampai hati mempertanyakan kepada Tuhanku, apa sebenarnya hikmah di balik kehendak-Nya untuk menciptakan makhluk sepertimu yang berbeda dengan lainnya. Kenapa harus beda? Kenapa ada yang sepertimu dan ada yang tidak sepertimu? Ketika orang-orang lebih banyak membicarakanmu, bahkan sebagian ada yang dengan sengaja merendahkan, melecehkan, dan menghina siapa saja yang mereka anggap lebih rendah darimu, aku pernah bertanya-tanya, dianggap apa mereka yang tidak punya kelebihan sepertimu? Toh mereka juga sama-sama makhluk ciptaan-Nya. Mereka juga punya hati nurani. Dalam ketakutanku terhadap azab-Nya, aku sampai hati mempertanyakan kepada Tuhanku tentang kemahaadilan-Nya. Ya Allah, ampunilah hamba-Mu yang picik ini. Hingga detik ini, aku masih sangat haus dan lapar akan hikmah-hikmah dari-Mu. &lt;em&gt;Astaghfirullaah...&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;(Taman Langit, 30 Agustus 2005)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14496674-112543508621284278?l=azhariora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azhariora.blogspot.com/feeds/112543508621284278/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14496674&amp;postID=112543508621284278' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/112543508621284278'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/112543508621284278'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azhariora.blogspot.com/2005/08/suatu-waktu-saat-orang-orang-tak-bisa.html' title='Suatu Waktu Saat Orang-orang Tak Bisa Berhenti Membicarakanmu'/><author><name>Azhar Muhammad N.T</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02889361203577076864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i96.photobucket.com/albums/l192/azhariora/IMG_4398BLG.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14496674.post-112537948770639413</id><published>2005-08-29T22:20:00.000-07:00</published><updated>2005-08-29T23:45:46.630-07:00</updated><title type='text'>Orang-orang Yang Didoakan Malaikat</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;Sebenarnya (malaikat-malaikat itu), adalah hamba-hamba yang dimuliakan. Mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya (Al-Anbiyaa’; 26-28)&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini adalah orang-orang yang didoakan oleh para malaikat;&lt;br /&gt;1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci. Dari Abdullah bin Umar RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa, Ya Allah, ampunilah hambamu ini karena tidur dalam keadaan suci” (HR. Ibnu Hibban)&lt;br /&gt;2. Orang yang duduk menunggu sholat. Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah salah seseorang dari kalian yang duduk menunggu sholat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya, Ya Allah ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;3. Orang yang berada di shaf depan dalam sholat. Dari Barra’ bin ‘Azib RA, bahwa Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya selalu bershalawat kepada (orang-orang) yang berada pada shaf-shaf terdepan” (HR. Abu Daud dan Ibnu Khuzaimah)&lt;br /&gt;4. Orang yang menyambung shaf (tidak membiarkan kekosongan dalam shaf). Dari Aisyah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya selalu bershalawat kepada orang-orang yang menyambung shaf-shaf” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan al-Hakim)&lt;br /&gt;5. Para malaikat mengucapkan ‘amin’ ketika seorang imam selesai membaca al-Fatihah. Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Jika seorang imam membaca ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladh dhaalliin, maka ucapkanlah oleh kalian amiin, karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu” (HR. Bukhori)&lt;br /&gt;6. Orang yang tetap duduk di tempat sholatnya setelah melaksanakan sholat. Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Para malaikat akan selalu bershalawat kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat sholat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata, Ya Allah, ampunilah dan sayangilah ia” (HR. Ahmad)&lt;br /&gt;7. Orang-orang yang melaksanakan sholat shubuh dan ashar secara berjamaah. Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Para malaikat berkumpul pada waktu sholat shubuh, lalu para malaikat (yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat yang bertugas pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada saat sholat ashar dan para malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga sholat ashar) naik (ke langit), sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya pada mereka, ‘Bagaimana kalian meninggalkan hambaku?’, mereka menjawab, ‘Kami datang sedangkan mereka melaksanakan shalat, dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka melaksanakan sholat, maka ampunilah mereka padfa hari kiamat’” (HR. Ahmad)&lt;br /&gt;8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan. Dari Ummu Dardaa’ RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakilnya baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat itu berkata ‘amiin’ dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;9. Orang-orang yang berinfak. Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW Bersabda, “Tiada hari dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali dua malaikat turun kepadanya. Salah satunya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak’, dan lainnya berkata, ‘Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit’” (HR. Bukhori-Muslim)&lt;br /&gt;10. Orang-orang yang makan sahur. Dari Abdullah bin Umar RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikta-Nya bershalawat kepada orang-orang yang makan sahur” (HR. Ibnu Hibban dan Thabrani)&lt;br /&gt;11. Orang-orang yang menjenguk orang sakit. Dari Ali bin Abi Thalib RA, Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya waktu siang kapan saja hingga sore, dan waktu malam kapan saja hingga shubuh” (HR. Ahmad)&lt;br /&gt;12. Orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain. Dari Abu Umamah al-Bahily RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang ada di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain” (HR. Tirmidzi)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14496674-112537948770639413?l=azhariora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azhariora.blogspot.com/feeds/112537948770639413/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14496674&amp;postID=112537948770639413' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/112537948770639413'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/112537948770639413'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azhariora.blogspot.com/2005/08/orang-orang-yang-didoakan-malaikat.html' title='Orang-orang Yang Didoakan Malaikat'/><author><name>Azhar Muhammad N.T</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02889361203577076864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i96.photobucket.com/albums/l192/azhariora/IMG_4398BLG.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14496674.post-112416856084142175</id><published>2005-08-15T21:59:00.000-07:00</published><updated>2005-09-04T15:53:34.480-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Tampilkanlah dengan sesungguhnya sifat-sifat kekuranganmu, niscaya Allah akan menolongmu dengan sifat-sifat kesempurnaan-Nya. Bersungguh-sungguhlah dengan kehinaanmu, niscaya Allah akan menolongmu dengan kemuliaan-Nya. Bersungguh-sungguhlah dengan ketidakberdayaanmu, niscaya Allah akan menolongmu dengan daya dan kekuatan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Ibnu Athoillah)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14496674-112416856084142175?l=azhariora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azhariora.blogspot.com/feeds/112416856084142175/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14496674&amp;postID=112416856084142175' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/112416856084142175'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/112416856084142175'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azhariora.blogspot.com/2005/08/tampilkanlah-dengan-sesungguhnya-sifat.html' title=''/><author><name>Azhar Muhammad N.T</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02889361203577076864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i96.photobucket.com/albums/l192/azhariora/IMG_4398BLG.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14496674.post-112344979639594401</id><published>2005-08-07T14:23:00.000-07:00</published><updated>2005-08-07T14:23:16.400-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href='http://photos1.blogger.com/img/43/7015/640/Cat%20027.jpg'&gt;&lt;img border='0' style='border:1px solid #000000; margin:2px' src='http://photos1.blogger.com/img/43/7015/320/Cat%20027.jpg'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Potret keluarga sakinah.&amp;nbsp;&lt;a href='http://picasa.google.com/' target='ext'&gt;&lt;img src='http://photos1.blogger.com/pbp.gif' alt='Posted by Picasa' border='0' style='border:0px;padding:0px;background:transparent;' align='absmiddle'&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14496674-112344979639594401?l=azhariora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azhariora.blogspot.com/feeds/112344979639594401/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14496674&amp;postID=112344979639594401' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/112344979639594401'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/112344979639594401'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azhariora.blogspot.com/2005/08/potret-keluarga-sakinah.html' title=''/><author><name>Azhar Muhammad N.T</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02889361203577076864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i96.photobucket.com/albums/l192/azhariora/IMG_4398BLG.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14496674.post-112345002836136939</id><published>2005-08-07T14:22:00.000-07:00</published><updated>2005-08-07T14:27:08.370-07:00</updated><title type='text'>Sebuah Cerita Tentang Nasehat</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Suasana di kamar tidur berukuran 4 x 4 meter itu agak lain dari biasanya. Sedikit berantakan, karena biasanya rapi. Meskipun penghuni kamar ini adalah dua orang lelaki, tak ada kesan tidak rapi atau tidak bersih. Ada sebuah travel bag berukuran sedang di sebelah ranjang. Di dalamnya belasan potong pakaian tertata rapi. Di sampingnya ada sebuah kardus berisi macam-macam barang. Andika menutup travel bagnya. Selesai sudah persiapannya, tinggal memesan taksi lalu berangkat ke bandara.&lt;br /&gt;"Aku telpon taksinya dulu ya" Haris, teman sekamar Andika beranjak ke ruang tengah untuk memesan taksi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bagi seorang perantau seperti Andika, salah satu saat yang paling membahagiakan adalah ketika kembali ke kampung halaman. Ia akan kembali menghirup udara segar yang telah lama ditinggalkan. Ia akan mencium lagi bau tanah kampungnya yang tak pernah dilupakan. Ia akan bertemu dengan keluarga yang sangat dirindukan. Yang pasti ia akan meluapkan semua kerinduannya yang lama terpendam. Itu yang bisa Haris tangkap dari mata Andika.&lt;br /&gt;Taksi yang telah dipesan perlahan meninggalkan asrama pekerja itu. Hanya lambaian tangan yang diberikan Andika pada Haris. Dia pun membalas lambaian itu sambil berkata dalam hati, kapan kiranya akan bertemu lagi dengan pemuda itu. Pemuda yang dua tahun terakhir ini hidup bersamanya di satu kamar dalam asrama pekerja itu. Pemuda yang selama masa itu telah bercerita banyak tentang kehidupannya pada Haris. Haris pun sebaliknya, dia juga sering curhat pada Andika.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ada satu hal yang belum bisa dilupakan Haris, yaitu perihal Andika yang mengaku bahwa dalam lima tahun terakhir ini ia sangat membenci ibunya.&lt;br /&gt;"Kenapa kamu sampai punya perasaan seperti itu?" Haris bertanya penuh rasa kaget bukan main.&lt;br /&gt;"Ibuku telah mengkhianati bapak, aku, dan adik-adikku"&lt;br /&gt;"Khianat bagaimana maksudmu?"&lt;br /&gt;"Aku pernah mendapati ibuku berduaan dengan lelaki lain di kamar"&lt;br /&gt;"Kamu tau ndak apa yang bikin aku lebih kecewa lagi?"&lt;br /&gt;Haris menggeleng.&lt;br /&gt;"Lelaki lain yang masuk kamar ibuku itu tak lain suami adik bapakku"&lt;br /&gt;"Astaghfirullaah" Haris terhenyak.&lt;br /&gt;"Sejak saat itu aku menyatakan perang sama ibu"&lt;br /&gt;Haris menghela nafas panjang, ia mencoba mengerti dengan apa yang dirasakan Andika. Tapi di sisi lain ia juga menganggap bahwa sikap itu sangatlah tidak baik. Dia paham betul tingginya kedudukan seorang ibu dalam Islam. Jangankan membenci, berkata kotor saja dilarang oleh Allah Swt.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Itulah salah satu episode hidup Andika yang pernah ia tumpahkan pada Haris. Sebagai manusia biasa, Haris pun tak lepas dari problema hidup. Setelah Andika menumpahkan keluh kesah padanya, dia pun menceritakan masalahnya pada Andika. Mereka sering curhat setelah makan, atau sebelum tidur. Hingga akhirnya Andika juga paham dengan apa yang sedang dihadapi Haris saat ini. Haris merasa sangat berat menghadapi situasi kerja. Dari jam kerja yang sangat panjang, hingga perangai atasan yang semakin tidak menampakkan perubahan ke arah kebaikan.&lt;br /&gt;Hingga saat-saat terakhir sebelum Andika pulang, ia dan Haris saling memberi nasehat.&lt;br /&gt;"Mas, pindah ke tempat lain tidak menjamin Mas menemukan tempat kerja dan atasan yang sesuai dengan keinginan. Balik ke kampung juga bukan jalan yang terbaik. Sebab liku-liku berangkat bekerja di luar negeri sangat banyak dan kita telah merasakannya sendiri, yang sering membuat dada ini sakit. Jadi, satu-satunya cara adalah bersabar menghadapi kenyataan ini." Dalam hati Haris membenarkan juga apa yang diucapkan Andika barusan. Seberat apapun masalah, kalau mau dibuat ringan, kembalinya hanya pada kesabaran.&lt;br /&gt;"Dik, seburuk apapun perbuatan ibumu itu, kamu jangan sampai tenggelam dalam kebencianmu itu selama-lamanya.Doakanlah kebaikan untuknya. Bagaimanapun juga beliaulah yang telah mengandung dan melahirkanmu ke dunia ini. Beliau juga yang telah merawatmu sejak kecil. Ketika sampai di rumah nanti, kamu cari beliau ya. Kalau ada yang perlu diluruskan, nasehatilah beliau dengan baik." Kini gantian Haris yang menasehati Andika. Demikianlah sebelum mereka berpisah hanya saling memberi nasehat saja, tak ada yang lain.&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;Dua bulan berselang. Sore itu langit mendung, rintik air hujan perlahan membasahi jalanan di pusat kota Bandar Sri Begawan. Raut muka Haris sesaat menyiratkan rona bahagia. Andika mengirim email.&lt;br /&gt;"Mas, aku sudah ketemu sama ibuku. Kami membicarakan beberapa hal, dan beliau menyetujui apa yang saya katakan. Saya juga sudah membayar zakat, dari hasil kerja di Brunei." Kalimat itu terasa indah bagi Haris. Andika menjalankan nasehatnya, dan kini ia menemukan kembali cintanya pada ibunya setelah lama larut dalam kebencian.&lt;br /&gt;Namun sesaat kemudian Haris tertegun, karena nasehat Andika padanya belum bisa terlaksana sepenuhnya. Sabar memang tak semudah yang diucapkan, dan butuh kekuatan batin luar biasa. Namun nasehat Andika memberi tambahan semangat pada dirinya. Di sisi lain, Haris bersyukur karena paling tidak ada sedikit perintah Allah yang telah ditunaikan, yaitu saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran yang walaupun dibandingkan dengan apa yang telah dikerjakan orang lain, mungkin tidak ada apa-apanya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;(Diambil dari Eramuslim.com trus diubah dikit-dikit)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14496674-112345002836136939?l=azhariora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azhariora.blogspot.com/feeds/112345002836136939/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14496674&amp;postID=112345002836136939' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/112345002836136939'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/112345002836136939'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azhariora.blogspot.com/2005/08/sebuah-cerita-tentang-nasehat.html' title='Sebuah Cerita Tentang Nasehat'/><author><name>Azhar Muhammad N.T</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02889361203577076864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i96.photobucket.com/albums/l192/azhariora/IMG_4398BLG.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14496674.post-112310305863659300</id><published>2005-08-03T13:57:00.000-07:00</published><updated>2005-08-04T13:26:24.806-07:00</updated><title type='text'>Satu Dalam Damai</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="IN" style="FONT-STYLE: italic;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Perbedaan diantara kita&lt;?xml:namespace prefix = o /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Pemberi warna di kehidupan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Sehingga dunia tetap berputar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Mengiringi zaman&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="FONT-STYLE: italic;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Lihat saja di sekitar kita&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Alam berpadu berjuta raga&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Saling berkait menyatu diri&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="FONT-STYLE: normal;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold; FONT-STYLE: italic"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Atas sunnah Ilahi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="IN"   style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;Syair diatas adalah potongan lagu ‘Satu Dalam Damai’ yang dilantunkan oleh grup vokal Snada. Dalam pandangan saya nih, pesan moral yang coba disampaikan dalam bait ini adalah bahwa segala bentuk perbedaan yang ada di dunia ini baik suku, warna kulit, bahasa, gaya hidup, pola pikir, ideologi, dan sebagainya adalah sesuatu yang memang tidak bisa dihindarkan dalam kehidupan manusia. Kita ndak bisa memaksakan kehendak kita untuk mempersamakan perbedaan yang ada. Kita pasti maklum kalo berjuta-juta orang yang hidup di dunia ini pasti memiliki berjuta-juta karakter pula yang membuat dunia kita cukup berwarna. Yang satu suka gini, yang satu suka gitu. Yang satu mau ini, yang satu mau itu. Nah, disini kita lalu dituntut untuk bisa bersikap dewasa, arif, dan bijaksana dalam menyikapi perbedaan yang ada. Soalnya kalo disikapi dengan asal sruduk, hasilnya juga ndak akan baik. Konflik antar suku yang pernah kita saksikan di negara kita, konflik yang terjadi karena tiap-tiap pihak terlalu memaksakan ideologinya yang berbeda, menurut saya bisa dijadikan contoh akibat dari tidak bijaknya pihak-pihak yang bertikai tersebut dalam menyikapi perbedaan yang ada.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="IN"   style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Saya teringat dengan perkataan salah seorang senior,’kita lihat sisi positifnya’, dari sini saya lalu mengambil pelajaran bahwa ketika kita dihadapkan pada sebuah perbedaan, apapun bentuknya, seyogyanya kita bisa menghindari hal-hal negatif yang mungkin akan muncul bila kita terlalu menonjolkan perbedaan itu. Salah satu caranya adalah dengan menyadari bahwa diantara dua hal atau lebih yang berbeda, masih ada persamaan yang bisa kita tonjolkan. Menurut saya, menonjolkan persamaan ini lebih bermanfaat daripada mempersoalkan perbedaan. Contoh sederhana, selama hak kita sebagai muslim tidak diganggu, kita tak boleh bertindak tidak baik kepada non-muslim. Mereka memang berbeda agama dengan kita, namun ada persamaannya dengan kita, yaitu sama-sama manusia. Kita tak boleh menyakiti hewan dengan seenaknya. Mereka memang bukan manusia seperti kita, tapi ada persamaannya, yaitu sama-sama makhluk hidup ciptaan Allah Swt. Kita juga dilarang keras untuk menyakiti saudara kita sesama muslim. Boleh jadi ada perbedaan warna kulit, suku, ras, dan lainnya, namun ada satu hal yang mementahkan semua bentuk perbedaan itu, alaa wa huwa identitas kita sebagai orang Islam. Dalam Islam, tidak ada yang membedakan seseorang dengan yang lain dihadapan Allah Swt. kecuali ketakwaannya. Dalam hemat saya, perbedaan bisa dimanfaatkan sebagai lahan untuk saling melengkapi dan bukan untuk saling merendahkan, karena kita paham bahwa tak ada yang sempurna di dunia ini kecuali Allah Swt. Perbedaan bisa dijadikan ajang untuk belajar saling menghargai dan memahami, bukan untuk saling menjatuhkan dan menyakiti. Wallaahu a’lam bish shawaab.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Taman Langit, 3 Agustus 2005)&lt;/em&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14496674-112310305863659300?l=azhariora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azhariora.blogspot.com/feeds/112310305863659300/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14496674&amp;postID=112310305863659300' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/112310305863659300'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/112310305863659300'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azhariora.blogspot.com/2005/08/satu-dalam-damai.html' title='Satu Dalam Damai'/><author><name>Azhar Muhammad N.T</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02889361203577076864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i96.photobucket.com/albums/l192/azhariora/IMG_4398BLG.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14496674.post-112310230171620466</id><published>2005-08-03T13:50:00.000-07:00</published><updated>2005-08-03T21:04:32.620-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hendaknya kita mengukur ilmu bukan dari tumpukan buku yang kita habiskan. Bukan dari tumpukan naskah yang kita hasilkan. Bukan juga dari penatnya mulut dalam diskusi tak putus yang kita jalani. Tapi dari amal yang keluar dari setiap desah nafas kita".&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14496674-112310230171620466?l=azhariora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azhariora.blogspot.com/feeds/112310230171620466/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14496674&amp;postID=112310230171620466' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/112310230171620466'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/112310230171620466'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azhariora.blogspot.com/2005/08/hendaknya-kita-mengukur-ilmu-bukan.html' title=''/><author><name>Azhar Muhammad N.T</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02889361203577076864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i96.photobucket.com/albums/l192/azhariora/IMG_4398BLG.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14496674.post-112310222566776929</id><published>2005-08-03T13:45:00.000-07:00</published><updated>2005-08-03T21:03:55.233-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketahuilah bahwa sabar, jika dipandang dalam permasalahan seseorang adalah ibarat kepala dari suatu tubuh. Jika kepalanya hilang maka keseluruhan tubuh itu akan membusuk. Sama halnya jika kesabaran hilang, maka seluruh permasalahan akan rusak".&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Ali bin Abi Thalib)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14496674-112310222566776929?l=azhariora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azhariora.blogspot.com/feeds/112310222566776929/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14496674&amp;postID=112310222566776929' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/112310222566776929'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/112310222566776929'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azhariora.blogspot.com/2005/08/ketahuilah-bahwa-sabar-jika-dipandang.html' title=''/><author><name>Azhar Muhammad N.T</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02889361203577076864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i96.photobucket.com/albums/l192/azhariora/IMG_4398BLG.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14496674.post-112297399368625470</id><published>2005-08-02T02:10:00.000-07:00</published><updated>2005-08-03T21:03:29.533-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Niat untuk selalu tampak indah dan menarik adalah suatu kewajaran, namun Allah Maha Mengetahui apa-apa yang melintas di hati kita, apabila niat kita tergelincir ke dalam kemaksiatan dan kesia-siaan bisa jadi Allah akan memberikan jalan terbukanya bencana bagi kita, oleh karenanya bersungguh-sungguhlah berniat hanya untuk menggapai ridha Allah.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Aa Gym)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14496674-112297399368625470?l=azhariora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azhariora.blogspot.com/feeds/112297399368625470/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14496674&amp;postID=112297399368625470' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/112297399368625470'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/112297399368625470'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azhariora.blogspot.com/2005/08/niat-untuk-selalu-tampak-indah-dan.html' title=''/><author><name>Azhar Muhammad N.T</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02889361203577076864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i96.photobucket.com/albums/l192/azhariora/IMG_4398BLG.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14496674.post-112252596704133524</id><published>2005-07-27T21:45:00.000-07:00</published><updated>2005-08-03T21:03:02.996-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seorang hamba justru bisa menjadi sangat sibuk merasakan kasih sayang-Nya, saat ia menghadapi penderitaan yang berat. Dia berpikir seperti itu karena yakin bahwa itu adalah pilihan terbaik yang ditetapkan Allah kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Ibnu Qayyim)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14496674-112252596704133524?l=azhariora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azhariora.blogspot.com/feeds/112252596704133524/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14496674&amp;postID=112252596704133524' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/112252596704133524'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/112252596704133524'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azhariora.blogspot.com/2005/07/seorang-hamba-justru-bisa-menjadi.html' title=''/><author><name>Azhar Muhammad N.T</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02889361203577076864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i96.photobucket.com/albums/l192/azhariora/IMG_4398BLG.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14496674.post-112252574733615844</id><published>2005-07-27T21:40:00.000-07:00</published><updated>2005-08-03T21:02:16.223-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku mengumpulkan perkataan sahabat dan aku mendapati jumlah dosa besar anggota badan sebagai berikut. Empat dalam hati; syirik, bertahan dalam kemaksiatan, putus asa dari rahmat Allah, dan merasa aman dari makar Allah. Empat di lidah; kesaksian dusta, menuduh muslim/ah yang baik, sumpah palsu dan sihir. Tiga dalam perut; minum minuman keras, memakan harta anak yatim, dan memakan riba. Dua di kemaluan; zina dan homoseks. Dua di tangan; membunuh dan mencuri. Satu di kaki; lari dari medan pertempuran. Satu di seluruh anggota badan; durhaka kepada kedua orangtua.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Abu Thalib Al Makky)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14496674-112252574733615844?l=azhariora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azhariora.blogspot.com/feeds/112252574733615844/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14496674&amp;postID=112252574733615844' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/112252574733615844'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/112252574733615844'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azhariora.blogspot.com/2005/07/aku-mengumpulkan-perkataan-sahabat-dan.html' title=''/><author><name>Azhar Muhammad N.T</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02889361203577076864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i96.photobucket.com/albums/l192/azhariora/IMG_4398BLG.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14496674.post-112246992669077027</id><published>2005-07-27T06:12:00.000-07:00</published><updated>2005-08-03T21:01:30.806-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/img/43/7015/640/imageshow27.jpg"&gt;&lt;img style="border: 1px solid rgb(0, 0, 0); margin: 2px;" src="http://photos1.blogger.com/img/43/7015/320/imageshow27.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebuah kerjasama yang saling menguntungkan antara dua makhluk ciptaan Allah Swt. Kitapun bisa belajar dari mereka.  &lt;a href="http://picasa.google.com/" target="ext"&gt;&lt;img src="http://photos1.blogger.com/pbp.gif" alt="Posted by Picasa" style="border: 0px none ; padding: 0px; background: transparent none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: initial; -moz-background-origin: initial; -moz-background-inline-policy: initial;" align="middle" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14496674-112246992669077027?l=azhariora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azhariora.blogspot.com/feeds/112246992669077027/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14496674&amp;postID=112246992669077027' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/112246992669077027'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/112246992669077027'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azhariora.blogspot.com/2005/07/sebuah-kerjasama-yang-saling.html' title=''/><author><name>Azhar Muhammad N.T</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02889361203577076864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i96.photobucket.com/albums/l192/azhariora/IMG_4398BLG.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14496674.post-112225609258556882</id><published>2005-07-24T18:47:00.000-07:00</published><updated>2005-08-03T21:00:57.783-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rasulullah ditanya tentang sesuatu yang paling banyak memasukkan orang ke dalam surga, lalu beliau menjawab, 'Taqwa kepada Allah dan akhlaq yang baik.' Beliau juga ditanya tentang perkara yang paling banyak mengantarkan orang masuk ke neraka, beliau menjawab, 'Mulut dan kemaluan.'&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(HR Tirmidzi)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14496674-112225609258556882?l=azhariora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azhariora.blogspot.com/feeds/112225609258556882/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14496674&amp;postID=112225609258556882' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/112225609258556882'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/112225609258556882'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azhariora.blogspot.com/2005/07/rasulullah-ditanya-tentang-sesuatu.html' title=''/><author><name>Azhar Muhammad N.T</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02889361203577076864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i96.photobucket.com/albums/l192/azhariora/IMG_4398BLG.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14496674.post-112214312865412305</id><published>2005-07-23T11:23:00.000-07:00</published><updated>2005-08-04T21:01:56.493-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;Manusia hidup di dunia ini tak terlepas dari ujian Allah SWT yang menciptakannya. Karakteristik ujian itu, kita diuji justru pada titik terlemah. Waktu atau kondisi kita lemah sebenarnya adalah saat-saat di mana kita membutuhkan atau mencintai sesuatu tetapi apa yang dibutuhkan atau dicintai itu sedang tidak dimiliki atau kurang dari yang dibutuhkan, sehingga kita tergerak untuk mengusahakannya. Pada saat itulah justru Allah menguji kita apakah kita percaya penuh dan berserah diri kepada-Nya atau melakukan sesuatu yang tidak diridhai-Nya&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14496674-112214312865412305?l=azhariora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azhariora.blogspot.com/feeds/112214312865412305/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14496674&amp;postID=112214312865412305' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/112214312865412305'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/112214312865412305'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azhariora.blogspot.com/2005/07/manusia-hidup-di-dunia-ini-tak.html' title=''/><author><name>Azhar Muhammad N.T</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02889361203577076864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i96.photobucket.com/albums/l192/azhariora/IMG_4398BLG.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14496674.post-112214297243409471</id><published>2005-07-23T11:22:00.000-07:00</published><updated>2005-08-03T20:59:45.236-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/img/43/7015/640/Cat%200011.jpg"&gt;&lt;img style="border: 1px solid rgb(0, 0, 0); margin: 2px;" src="http://photos1.blogger.com/img/43/7015/320/Cat%200011.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kasih anak sepanjang jalan, kasih ibu sepanjang masa. &lt;a href="http://picasa.google.com/" target="ext"&gt;&lt;img src="http://photos1.blogger.com/pbp.gif" alt="Posted by Picasa" style="border: 0px none ; padding: 0px; background: transparent none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: initial; -moz-background-origin: initial; -moz-background-inline-policy: initial;" align="middle" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14496674-112214297243409471?l=azhariora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azhariora.blogspot.com/feeds/112214297243409471/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14496674&amp;postID=112214297243409471' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/112214297243409471'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/112214297243409471'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azhariora.blogspot.com/2005/07/kasih-anak-sepanjang-jalan-kasih-ibu.html' title=''/><author><name>Azhar Muhammad N.T</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02889361203577076864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i96.photobucket.com/albums/l192/azhariora/IMG_4398BLG.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14496674.post-112214264943526338</id><published>2005-07-23T11:11:00.000-07:00</published><updated>2005-08-03T20:59:09.716-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku tahu,&lt;br /&gt;rizkiku tak mungkin diambil orang lain&lt;br /&gt;karenanya hatiku tenang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu,&lt;br /&gt;amal-amalku tak mungkin dilakukan orang lain&lt;br /&gt;karenanya kusibukkan diriku untuk beramal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu,&lt;br /&gt;Allah selalu melihatku&lt;br /&gt;karenanya aku malu bila Allah mendapatiku&lt;br /&gt;melakukan perbuatan haram, dosa, dan maksiat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu,&lt;br /&gt;kematian menantiku&lt;br /&gt;karenanya kupersiapkan bekal untuk berjumpa dengan Rabb-ku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Imam Hasan al-Bashri)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14496674-112214264943526338?l=azhariora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azhariora.blogspot.com/feeds/112214264943526338/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14496674&amp;postID=112214264943526338' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/112214264943526338'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/112214264943526338'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azhariora.blogspot.com/2005/07/aku-tahu-rizkiku-tak-mungkin-diambil.html' title=''/><author><name>Azhar Muhammad N.T</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02889361203577076864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i96.photobucket.com/albums/l192/azhariora/IMG_4398BLG.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14496674.post-112213248735742834</id><published>2005-07-23T08:25:00.000-07:00</published><updated>2005-08-04T20:59:03.146-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify" align="justify"&gt;Dunia itu ketika sedang menghadapimu, dia memberimu kebaikan orang lain, dan apabila sedang membelakangimu, dia mencabut darimu segala kebaikanmu.&lt;br /&gt;(Qais Bin Ahmad)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14496674-112213248735742834?l=azhariora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azhariora.blogspot.com/feeds/112213248735742834/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14496674&amp;postID=112213248735742834' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/112213248735742834'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/112213248735742834'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azhariora.blogspot.com/2005/07/dunia-itu-ketika-sedang-menghadapimu.html' title=''/><author><name>Azhar Muhammad N.T</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02889361203577076864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i96.photobucket.com/albums/l192/azhariora/IMG_4398BLG.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14496674.post-112210554126635898</id><published>2005-07-23T00:59:00.000-07:00</published><updated>2005-08-03T20:58:03.783-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/img/43/7015/640/Cat%20022.jpg"&gt;&lt;img style="border: 1px solid rgb(0, 0, 0); margin: 2px;" src="http://photos1.blogger.com/img/43/7015/320/Cat%20022.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bahkan kucingpun tau bagaimana menyayangi sesamanya. Bagaimana dengan manusia seperti kita? &lt;a href="http://picasa.google.com/" target="ext"&gt;&lt;img src="http://photos1.blogger.com/pbp.gif" alt="Posted by Picasa" style="border: 0px none ; padding: 0px; background: transparent none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: initial; -moz-background-origin: initial; -moz-background-inline-policy: initial;" align="middle" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14496674-112210554126635898?l=azhariora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azhariora.blogspot.com/feeds/112210554126635898/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14496674&amp;postID=112210554126635898' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/112210554126635898'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/112210554126635898'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azhariora.blogspot.com/2005/07/bahkan-kucingpun-tau-bagaimana.html' title=''/><author><name>Azhar Muhammad N.T</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02889361203577076864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i96.photobucket.com/albums/l192/azhariora/IMG_4398BLG.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-14496674.post-112210529492270419</id><published>2005-07-23T00:44:00.000-07:00</published><updated>2005-08-03T20:56:44.780-07:00</updated><title type='text'>Pusara</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Manakala engkau ingat pada mereka yang telah meninggal, anggaplah dirimu termasuk di antara mereka (Abu Dardaa')&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi turun seperti biasa, tapi kali ini mendung menggelayut di langit sana. Kabut tipis menjemput saya dan keponakan. Angin bertiup menggoyang pohon-pohon rimbun sepanjang jalan yang terlewati. Jalanan masih sungguh lengang. Ya, setiap pergi ke tempat ini, saya selalu pergi pagi-pagi sekali. Dalam gegas dan semangat.&lt;br /&gt;"Salam dulu, Man!" perintah saya pelan.&lt;br /&gt;"Assalamu'alaikum yaa ahladdiyaar" salam itu bergaung, menerobos keheningan sebuah tempat yang pintu gerbangnya selalu saja berderit panjang saat dibuka. Kami menapaki jalanan setapak dengan batu-batu khas yang bersembulan hampir seragam. Rumput-rumput setengah tinggi berembun di sana-sini. Semerbak bunga kamboja sudah pasti ada.&lt;br /&gt;"Bi, kenapa harus memberi salam, kan mereka tidak bisa menjawab?" keponakan yang sudah pemuda ini bertanya.&lt;br /&gt;Sambil berjalan, saya memberikan jawaban yang saya baca dari buku Ar-Ruh-nya Ibnul Qayyim tentang para penghuni kubur yang berebutan menjawab salam, karena salam bagi mereka adalah doa dan orang-orang yang sudah meninggal sangat bergantung dari doa dan kasih sayang dari orang-orang yang masih hidup. Kami terus menyusuri jalanan setapak. Penglihatan ini hanya melahap beragam pusara. Berporselen indah, berpualam cantik, berkeramik terlihat lebih banyak bahkan ada yang dibangunkan sebuah rumah di atasnya. Entah apa maksudnya. Padahal yang paling berarti, bukan kondisi megah di atas kuburan tetapi keadaan di bawah tanahnya. Yang hidup tidak akan pernah tahu apakah di bawah kuburan berpualam itu lapang, terang dan menyenangkan. Kita tak akan paham, kuburan berkeramik indah itu penghuninya merasakan kesempitan, kengerian dan kegelapan mencekam. Siapa tahu yang kuburannya hanya bernisan sederhana adalah mereka yang sungguh beruntung, tidak mengalami siksa pedih alam kubur, berbahagia karena ditemani seseorang berparas mempesona wujud dari amal-amalan yang ia tunaikan selagi di dunia. Kita tidak pernah akan tahu. Saya tuju sebuah gundukan tanah yang masih saja merah ketika terakhir saya kunjungi beberapa bulan yang lalu. Saya hampiri pusara biasa, tempat di mana seseorang yang sederhana itu beristirahat memenuhi sebuah kodrat. Kuburan Ayah. Terpekur saya di sana, mendiamkan gemuruh hati. Ditemani senyap, saya mengalunkan pinta:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ya Allah tidak hanya di tempat ini saya memohonkan ampun untuknya, ampunilah segala dosa-dosanya semasa hidup. Leburkanlah kesalahannya semasa di dunia. Ya Rahiim, anugerahkan kepadanya tempat tinggal yang jauh lebih indah dari tempat di dunia, terangilah kuburnya dengan benderang cahaya, selamatkanlah ia dari bertubinya siksa kuburYa Rabbana, berikanlah balasan untuk Ayah, atas didikannya selalu, jua berikan kepadanya pahala besar atas keikhlasannya mengalirkan kepingan-kepingan nafkah halal untuk hambaYang Maha bijaksana, segala hal gangguan yang dinikmatinya karena perilaku ini jadikanlah itu semua penyebab menghilangnya segala dosa.Yang Maha Perkasa, masukkan ia ke dalam surga Mu.Allahumma Aamiin.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udara tak lagi dingin menggigit, ketika doa itu saya sudahi. Di depan saya, keponakan sudah sejak tadi membersihkan ilalang liar yang tumbuh di pinggiran pusara. Saya mencoba merapikan tanahnya dengan hati tak menentu. Sepenuh rindu, gundah, pasrah dan entah apa lagi. Pusara Ayah sudah nampak bersih dari sebelumnya. Sudah saatnya berkeliling. Ya, jika mengunjungi kampung ini, saya selalu berjalan-jalan melihat semua pusara yang ada. Dan dipastikan selalu ada beberapa kuburan baru. Tadinya baru ada 4 pusara di blok tempat Ayah beristirahat. Sekarang lebih dari 15. Saya hampir terlonjak membaca nama pada sebuah nisan. Saya dekati nisan itu untuk memastikan. Innalillahi. Teman saya.Teman dekat semasa kecil. Ketika SD kami sekelas. Dia yang selalu menunggu saya pulang sekolah. Kadang, dia mengajak saya memanjat pohon jambu batunya yang berbuah ranum, padahal teman lainnya tidak pernah ada yang diajak. Suatu hari dia mendatangi saya, matanya berbinar,&lt;br /&gt;"Saya masuk pesantren" itu kabarnya.&lt;br /&gt;Saat itu saya mencemburuinya, karena oleh ibu, saya diharuskan masuk SMP.&lt;br /&gt;"Nanti saya ingin mengajar di madrasah" dia menyatakan keinginannya. Selanjutnya saya melihatnya berjilbab rapi dan berkaus kaki.&lt;br /&gt;"Man, kapan mbaknya meninggal?" saya terpaku memandangi tempat tinggalnya yang baru. Siapa sangka kini ia berada di sini.&lt;br /&gt;"Makanya sering pulang" jawab keponakan.&lt;br /&gt;"Kira-kira 2 minggu yang lalu, abis melahirkan" tambahnya.&lt;br /&gt;Syahid, pikir saya, mudah-mudahan dia beruntung menjumpai Allah. Sejenak saya membayangkan senyumannya, saya mendoakannya dengan tulus. Air mata luruh begitu mudah.&lt;br /&gt;"Bulan ini, dari kampung kita banyak yang sudah pindah kemari lho" telunjuk keponakan mengarah kepada nisan-nisan baru itu. Kematian sungguh tidak ada yang dapat memperkirakan, tak memandang usia dan jabatan. Tak memilih kaya atau miskin. Seorang anak kecil tetangga saya menjadi salah seorang di antara mereka para penghuni kubur. Seorang ibu yang selalu segar pergi ke sawah, kini terbaring sendirian di bawah sana. Ada lagi, ayah dari banyak anak dan selalu baik kepada saya, sekarang berada disini, sebuah kampung kesunyian. Di kuburan berikutnya saya mendapati seorang tokoh terkemuka.&lt;br /&gt;Bagaimanakah keadaan kalian saat ini? Mudah-mudahan Allah menerima amal kebaikan yang kalian jadikan bekal selama hidup. Duh, saya juga pasti menyusul.Ada banyak harapan setiap saya datangi tempat sunyi ini. Mengharap tamparan keras pada hati yang kian berborok legam. Menginginkan kesadaran tentang hidup dan pertanggungjawabannya kelak. Menumbuhkan ingatan, suatu saat saya juga akan berdiam sini. Tertelungkup di liang lahat paling dalam. Seperti pesan Nabi, banyak-banyaklah mengingat penghancur kesenangan dunia, kematian. Matahari kian meninggi. Kabut tipis perlahan menghilang. Saya beranjak dari pusara mereka, dan mungkin calon tempat pusara saya kelak.&lt;br /&gt;"Salam lagi, Man" saya mengingatkannya.&lt;br /&gt;Assalamu'alaikum yaa ahlad diyaar, minal mu'miniina wal mu'minaat. Wa innaa insya Allahu bikum laahiquuna. As-alullaaha lanaa wa la kumul 'afiyaat. Kali ini dia melantunkannya sempurna. Saya mencoba memahami artinya, Salam sejahtera bagimu wahai penghuni kampung mu'min dan mu'minat. Insya Allah kami pun akan menyusul kalian. Kami mohonkan kepada Allah kesejahteraan bagi kami dan kamu semuanya. Pintu gerbang itu ditutup, deritnya sama seperti tadi.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Diambil dari Eramuslim.com, 30 Mei 2005)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/14496674-112210529492270419?l=azhariora.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://azhariora.blogspot.com/feeds/112210529492270419/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=14496674&amp;postID=112210529492270419' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/112210529492270419'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/14496674/posts/default/112210529492270419'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://azhariora.blogspot.com/2005/07/pusara.html' title='Pusara'/><author><name>Azhar Muhammad N.T</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02889361203577076864</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://i96.photobucket.com/albums/l192/azhariora/IMG_4398BLG.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
